7 Bulan Sudah Berlalu, Begini Rapor Kondisi Ekonomi RI

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Tujuh bulan pertama 2026 telah berlalu. Dalam waktu yang relatif singkat tersebut, ekonomi Indonesia harus melewati berbagai tantangan, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.

Perang di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dan energi. Kondisi tersebut kemudian meningkatkan tekanan inflasi dan membuat sejumlah bank sentral memilih mempertahankan maupun menaikkan suku bunga acuannya.

Di dalam negeri, pergerakan sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan kondisi yang beragam.

Pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5% dan inflasi tetap bertahan dalam sasaran Bank Indonesia. Namun, konsumsi masyarakat mulai melambat, keyakinan konsumen menurun, rupiah melemah, dan pasar saham masih mencatatkan koreksi sepanjang tahun berjalan.

Lantas, bagaimana kondisi ekonomi Indonesia setelah melewati tujuh bulan pertama 2026?

Berikut perkembangan terbaru delapan indikator utama ekonomi Indonesia.

1.Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Bila dilihat data pertumbuhan ekonomi terakhir yakni pada Kuartal pertama tahun ini, bisa dikatakan ekonomi masih tumbuh cukup solid. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I-2026. Pertumbuhan tersebut bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan pada kuartal yang sama tahun lalu yang sebesar 4,87%.

Konsumsi rumah tangga memberikan sumber pertumbuhan terbesar, yakni 2,94 poin persentase. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81%.

Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum juga tumbuh 13,14%, sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama Ramadan, Idulfitri, dan rangkaian hari libur nasional.

Namun, secara kuartalan, ekonomi Tanah Air harus terkontraksi 0,77% dibandingkan kuartal IV-2025.

Pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini juga disebabkan oleh dorongan besar dari faktor musiman dan tingginya konsumsi pemerintah.

Karena itu, data kuartal II yang akan dirilis BPS pada pekan depan (5/8/2026) akan menjadi ujian berikutnya. Data tersebut akan memperlihatkan apakah pertumbuhan tinggi dapat bertahan setelah dorongan Ramadan, Idulfitri, dan THR.

2.Inflasi Naik, Tapi dalam Batasan

Inflasi di dalam negeri memang tengah mengalami kenaikan.

BPS mencatat inflasi tahunan pada Juni tercatat sebesar 3,34%. Angka ini mengalami kenaikan dari 3,08% di bulan sebelumnya. Adapun, secara bulanan, terjadi inflasi sebesar 0,44%.

Meski naik, kenaikannya masih dalam batas tolerasin yang sudah di tetapkan di 2,5% plus minus 1%.

Adapun, Inflasi inti juga naik menjadi 2,76% secara tahunan dan 0,23% secara bulanan. Kenaikan inflasi inti menunjukkan tekanan harga tidak hanya berasal dari komoditas yang mudah bergejolak.

Dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 3,55%, inflasi tahunan Juni memang masih lebih rendah. Namun, posisinya sudah mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5±1%.

Kenaikan harga energi, pelemahan rupiah, serta biaya impor berpotensi menjaga tekanan harga pada paruh kedua tahun ini.

3. Rupiah Melemah Lebih dari 8%

Nilai tukar rupiah menjadi salah satu indikator ekonomi yang mengalami tekanan cukup besar sepanjang tahun ini.

Pada perdagangan awal tahun, rupiah masih berada di posisi Rp16.670/US$. Sementara pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (31/7/2026), rupiah menguat 0,19% ke level Rp18.040/US$.

Rupiah masih mengalami depresiasi sebesar Rp1.370 per dolar AS atau sekitar 8,22% sejak awal tahun.

Posisi rupiah saat ini memang perlahan mulai pulih pasca tren pelemahan rupiah pada beberapa waktu sebelum ini, yang membuat nilai tukar rupiah sempat menembus Rp18.000/US$ bahkan mencatatkan level terlemah sepanjang masa di posisi Rp18.170/US$ pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, memperkirakan sekitar 60%-70% tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor domestik. Sementara itu, faktor global hanya berkontribusi sekitar 30%-40%.

Untuk menjaga rupiah dari tekanan greenbak, Bank Indonesia pun telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026. BI Rate saat ini berada di level 5,75%.

Namun, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya reda. Pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo pada akhir Juli turut menambah ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan dan independensi Bank Indonesia ke depan.

4. IHSG

Pada perdagangan hari ini, Jumat (31/7/2026) per pukul 10.41 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau menguat 0,60% ke level 6.222.

Dengan posisi tersebut, IHSG telah menguat 10,25% sepanjang Juli dan berpotensi mencatatkan penguatan bulanan pertamanya sejak awal 2026.

Meski demikian, sepanjang 2026 ini IHSG masih mencatatkan pelemahan sekitar 28,04% dibandingkan posisi akhir 2025 di level 8.646,94.

Pasar saham Indonesia memang menghadapi perjalanan yang cukup pelik. IHSG harus menghadapi tekanan dari MSCI pada awal tahun.

Tepatnya pada akhir Januari 2026, MSCI mendadak melakukan pembekuan sementara perubahan indeks saham Indonesia karena mempertanyakan transparansi kepemilikan saham, kejelasan saham beredar di publik atau free float, serta dugaan perdagangan terkoordinasi.

Dalam peninjauan Juni 2026, MSCI masih mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market. Namun, penilaian pada kriteria arus informasi diturunkan dan proses evaluasi diperpanjang hingga November 2026.

Indonesia masih menghadapi risiko turun menjadi Frontier Market apabila perbaikan dinilai belum memadai.

Level terendah IHSG sepanjang 2026 sejauh ini berada di posisi 5.317 yang terbentuk pada 8 Juni 2026. Setelah menyentuh level tersebut, IHSG secara berangsur mulai berbalik menguat.

Jika dibandingkan dengan level terendahnya, IHSG telah menguat sekitar 17,02% hingga perdagangan hari ini.

5. Keyakinan Konsumen Terus Menurun

Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 berada di level 117,8. Angka tersebut turun dari 120,9 pada Mei 2026.

Jika dibandingkan dengan Januari 2026 yang berada di level 127,0, IKK telah turun sebesar 9,2 poin sepanjang tahun ini.

Meski turun, IKK masih berada di atas level 100. Kondisi tersebut menunjukkan konsumen masih optimistis terhadap kondisi ekonomi.

Penurunan terjadi pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE), dari 112,2 pada Mei menjadi 109,2 pada Juni 2026.

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga turun dari 129,7 menjadi 126,4. Hal ini menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan juga mulai melemah.

Pada saat yang sama, rata-rata porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi naik dari 72,3% menjadi 73,0%.

Sementara porsi pendapatan yang disimpan turun dari 17,5% menjadi 17,0%. Kondisi ini menunjukkan masyarakat menggunakan porsi pendapatan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, sedangkan ruang untuk menabung mulai berkurang.

6. Penjualan Ritel Mulai Mengalami Kontraksi

Penurunan konsumsi masyarakat juga mulai terlihat dari kinerja penjualan eceran.

Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Mei 2026 berada di level 223,4. Secara tahunan, penjualan eceran mengalami kontraksi sebesar 3,9%.

Kontraksi tersebut sedikit lebih dalam dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,7%.

Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei turun sebesar 1,5%. Meski masih mengalami penurunan, kontraksinya lebih kecil dibandingkan April yang mencapai 11,6%.

Untuk Juni 2026, BI memperkirakan IPR berada di level 221,6. Secara tahunan, penjualan eceran diprakirakan terkontraksi sebesar 4,4%. Sementara secara bulanan diperkirakan turun 0,8%.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan awal tahun. Pada Januari 2026, penjualan eceran masih tumbuh sebesar 5,7% secara tahunan.

7. Lebih dari 32.000 Pekerja Terkena PHK

Tekanan juga masih terlihat dari kondisi ketenagakerjaan di dalam negeri.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 32.389 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Januari-Juni 2026.

Jumlah tersebut bertambah sebanyak 8.919 pekerja dibandingkan periode Januari-Mei 2026 yang tercatat sebanyak 23.470 orang.

Meski bertambah cukup besar dalam satu bulan, jumlah PHK pada semester I-2026 masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sepanjang Januari-Juni 2025, jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 42.385 orang. Dengan demikian, jumlah PHK pada semester I-2026 turun sekitar 23,58% secara tahunan.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah PHK terbanyak, yakni mencapai 6.727 pekerja atau sekitar 20,77% dari total PHK nasional.

Data tersebut mencakup tenaga kerja ter-PHK yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Pekerja yang mengundurkan diri, pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia tidak termasuk dalam perhitungan tersebut.

8. Harga BBM Non-Subsidi Masih Tinggi

Dari sisi energi, harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi masih berada jauh di atas posisi akhir 2025.

Pertamina sebenarnya telah menurunkan harga beberapa jenis BBM non-subsidi pada 1 Juli 2026 setelah mengalami kenaikan tajam pada bulan sebelumnya.

Harga Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter. Harga Dexlite turun dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex turun dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.

Sementara harga Pertamax tetap sebesar Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 sebesar Rp17.000 per liter.

Meski mengalami penurunan pada Juli, harga BBM non-subsidi masih lebih tinggi dibandingkan akhir 2025.

Harga Pertamax telah naik Rp3.500 per liter dari posisi Desember 2025 yang sebesar Rp12.750. Pertamax Green 95 juga naik Rp3.500 dari sebelumnya Rp13.500 per liter.

Kenaikan lebih besar terjadi pada Pertamax Turbo yang bertambah Rp5.550 per liter dari posisi akhir 2025 sebesar Rp13.750.

Sementara harga Dexlite telah naik Rp5.000 per liter dari sebelumnya Rp14.700 dan Pertamina Dex naik Rp6.150 dari Rp15.000 per liter.

Adapun, harga BBM subsidi masih ditahan. Harga Pertalite tetap sebesar Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi sebesar Rp6.800 per liter.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/wur)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ray Rangkuti Pertanyakan Penanganan Kasus Eks Jampidsus: Sengaja Dibuat Tidak Jelas Apa Bagaimana?
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Panik! Power Bank Penumpang Terbakar di Kabin Pesawat | KOMPAS MALAM
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Kilang Ryazan Membara! Drone Ukraina Hancurkan Pusat Logistik Raksasa Rusia, Kilang Minyak Ikut Meledak!
• 10 jam laluerabaru.net
thumb
Link Nonton Aston Villa vs Indonesia All Stars Gratis Malam Ini
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
BPJS Ketenagakerjaan Wujudkan Value Beyond Protection, PEKA Bangkitkan Kemandirian Ahli Waris di Sumsel
• 13 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.