JAYAPURA, KOMPAS - Dampak kemarau ekstrem dilaporkan mengancam berbagai wilayah Papua. Di wilayah dataran tinggi Papua, kemarau panjang disertai fenomena embun beku berpotensi menyebabkan gagal panen hingga krisis pangan. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi seperti ini menyebabkan kelaparan massal hingga kematian warga.
Ancaman krisis pangan akibat embun beku atau embun upas sangat rentan terjadi di wilayah dataran tinggi Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Fomenana ini terjadi ketika kondisi panas terik di siang hari lalu penurunan suhu secara drastis pada malam hari.
Kepala Stasiun Klimatologi Papua Sulaiman mengatakan, di Papua sedang terjadi kondisi siang hari yang sangat terik dengan langit yang minim awan. Dengan begitu, penguapan air dari bumi terlepas langsung secara maksimal ke atmosfer. Akibatnya, suhu permukaan tanah dan tanaman merosot drastis hingga menyentuh titik beku.
“Kondisi embun beku ini bisa menyebabkan tanaman warga mengalami kerusakan. Fenomena yang sudah berulang kali terjadi terus kami ingatkan kepada pihak-pihak terkait di daerah,” kata Sulaiman, Sabtu (1/8/2026).
Sulaiman menuturkan, stasiun pemantauan klimatologi di Kabupaten Pania, Papua Tengah, yang masuk kategori daerah dataran tinggi menunjukkan suhu pada malam hari berkisar 4-8 derajat celsius. Kondisi seperti ini diyakini juga terjadi di wilayah dataran tinggi Papua lainnya.
Fenomena embun beku ini, lanjut Sulaiman, diperkirakan akan berlangsung hingga September 2026. Namun, untuk kondisi El nino serta berbagai dampak lanjutan masih akan terjadi hingga awal tahun 2027.
Sementara itu, laporan awal dampak embun beku ini turut dilaporkan oleh TNI melalui Komando Operasi (Koops) Habema. Kondisi ini dirasakan oleh warga di tiga distrik yakni Agandugume, Oneri, dan Lambewi sejak pertengahan Juli 2026.
Sinergi seluruh pihak sangat diperlukan agar bantuan kemanusiaan dapat terus menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang terdampak bencana.
Komandan Satuan Tugas Koops TNI Habema Brigadir Jenderal Stefie Jantje Nuhujanan mengatakan, telah mengambil langkah menyikapi kondisi ini. Sebanyak 2 ton paket makanan dan obat-obatan disalurkan melalui Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (31/7/2026).
“Sinergi seluruh pihak sangat diperlukan agar bantuan kemanusiaan dapat terus menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang terdampak bencana,” ujar Stefie.
Dihubungi terpisah, Sekretaris Badan Penanggulan Bencana Daerah, Kebakaran, dan Penyelamatan Papua Tengah Marthinus Rumbino mengatakan, ancaman cuaca ekstrem ini telah menjadi perhatian bersama. Saat ini, daerah terus menyiapkan langkah untuk menghadapi berbagai ancaman seperti kekeringan, kesulitan air bersih, hingga ancaman gagal panen.
“Kami terus koordinasi dengan daerah-daerah untuk memantau dampak seperti apa yang dikeluhkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Marthinus menyatakan, laporan terkait krisis pangan khususnya dampak fenomena embun beku masih terus dikumpulkan. Hal ini menjadi perhatian utama mengingat fenomena berulang ini pernah menyebabkan kelaparan hingga kematian warga di wilayah dataran tinggi Papua.
Berdasarkan catatan Kompas, wilayah Kabupaten Puncak pernah dilanda krisis pangan akibat bencana embun beku ini pada Juli 2023. Saat itu, setidaknya 10.000 jiwa terdampak musibah ini. Bahkan, ada enam warga dilaporkan meninggal.
Selain itu, pada awal Agustus 2023, musibah serupa juga dilaporkan terjadi di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Saat itu, tiga warga dilaporkan meninggal dunia serta ratusan jiwa terdampak.
Pada Oktober 2023, sekitar 12.000 warga di 13 kampung di Distrik Amuma, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan terdampak kelaparan akibat krisis pangan di tengah cuaca ekstrem. Setidaknya ada 23 orang dilaporkan meninggal dunia dalam musibah cuaca ekstrem yang terjadi sejak Agustus-Oktober 2023.





