Prapat: Bank Indonesia (BI) mengantisipasi periode suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuannya dan belum memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Pelaksana Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini menunjukkan kebijakan moneter Amerika Serikat masih cenderung hawkish karena perekonomian negara tersebut dinilai tetap kuat.
"Hal ini akan berdampak pada berbagai instrumen keuangan, baik obligasi pemerintah (government bonds) maupun aset keuangan lainnya. Situasi tersebut tentu akan memberikan dampak kepada negara-negara lain, khususnya emerging markets, termasuk Indonesia sebagai bagian dari kelompok tersebut," ujar Destry dalam Editors Briefing di Prapat, Sumatra Utara, dikutip dari Antara, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Menurut Destry, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah, serta valuasi berbagai aset keuangan di negara berkembang.
Baca Juga :
BI Tegaskan Fokus Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Gubernur BergantiMenghadapi kondisi tersebut, BI menegaskan fokus utama kebijakan moneter adalah menjaga stabilitas makroekonomi, terutama nilai tukar rupiah dan inflasi. "Karena itu fokus kami adalah stabilisasi, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi," kata Destry.
Ia menjelaskan stabilitas ekonomi domestik menjadi faktor penting agar aset keuangan Indonesia tetap menarik bagi investor sehingga mampu menahan potensi keluarnya arus modal asing.
Selain kebijakan The Fed, BI juga mencermati berbagai risiko global, termasuk ketegangan geopolitik yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dunia.
Menurut Destry, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi banyak bank sentral, termasuk BI, dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan mempertahankan kepercayaan investor.
"Saat ini memang salah satu tantangan yang dalam jangka pendek ini benar-benar harus menjadi perhatian dari kami di Bank Indonesia adalah bagaimana menjaga stabilitas itu," ujar Destry.
(Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: MI/Ramdani)
Tahan BI-Rate
Sejalan dengan kondisi global tersebut, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026. Keputusan itu diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus memitigasi dampak ketidakpastian ekonomi global terhadap perekonomian nasional.
Destry mengatakan kebijakan tersebut turut mendukung penguatan harga aset domestik, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sehingga mampu menarik aliran modal asing.
"Di awal minggu ini kita sudah melihat arus modal asing masuk yang nilainya itu relatif besar, ini akan memperkuat cadangan devisa kita," ujar Destry.
Masuknya dana asing ke pasar keuangan domestik dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat cadangan devisa Indonesia sekaligus menopang stabilitas sektor keuangan di tengah tingginya ketidakpastian global.
BI menegaskan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan menyesuaikan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.




