Nasirun Pergi Tanpa Pernah Menjawab Telepon

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Seniman Nasirun (60) tutup usia. Seniman yang pembawaannya ceria dengan selalu tertawa terkekeh dan tidak pernah mau memiliki telepon genggam ini dinyatakan meninggal di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026) pukul 05.58. Nasirun memiliki mobil, tetapi selama hidupnya juga tidak pernah menyetir mobil.

Rencana Nasirun dimakamkan di hari yang sama, pukul 14.00, di tempat Makam Seniman Girisapto Imogiri, Tilamat, Wukirsari, Imogiri, di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pria yang lahir di Cilacap, 1 Oktober 1965, dan menetap di Jalan Wates, Yogyakarta, ini meninggalkan seorang istri, Supartilah. Juga tiga anak yang meliputi Ima Bunga Insan Sani, Yudhistira Nurul Asmi, dan Nawarna Ratna Mutu Manikam.

Pendidikan seni rupa ditempuh Nasirun di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta dan lulus pada 1983. Nasirun kemudian melanjutkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta periode 1987-1994.

Baca JugaNasirun, Kenangan Malam Cerpen

Nasirun punya cerita tersendiri, mengapa tidak mau memiliki telepon genggam. Ia lebih suka berbicara langsung, datang dan bertemu. Nasirun pernah mengemukakan alasannya. Suatu ketika lukisan Nasirun meledak di pasar. Galeri dan investor pun tertarik banyak yang menghubunginya, baik secara langsung maupun lewat telepon rumah.

Beberapa galeri berniat mengikat kontrak dengan Nasirun. Suatu ketika, mereka menghubungi lewat telepon. Nasirun menyebut, ada lima orang yang membawa nama galeri masing-masing meneleponnya berurutan untuk menawarkan rencana kerja sama tersebut.

Nasirun tidak bisa menolak dan tidak bisa menerima lewat telepon.

Nasirun tidak bisa menolak dan tidak bisa menerima lewat telepon. “Saya tidak bisa berbohong,” ujar Nasirun.

Sejak peristiwa itulah Nasirun tidak bisa atau menolak untuk dihubungi siapa pun melalui telepon. Belakangan, lewat istri atau salah satu anaknya, Nasirun mau menerima percakapan tertentu lewat telepon genggam.

Mengenai mobilnya yang selalu disetir istri atau anaknya, Nasirun pernah bercerita begini. “Saya sebetulnya bisa menyetir mobil. Suatu ketika, saya menyetir mobil di jalan dan mobil tiba-tiba berhenti. Saya tidak tahu harus bagaimana dan saya tinggalkan mobil itu di situ,” kata Nasirun, sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Tawanya begitu panjang. Sampai-sampai Nasirun sepertinya lupa untuk menceritakan akhir dari peristiwa itu. Nasirun berganti topik.

Nasirun begitu humoris. Bertemu Nasirun  berarti siap-siap ikut tertawa bersamanya. Bukan berarti Nasirun tidak pernah serius. Nasirun orang yang serius untuk membicarakan sesuatu yang memang harus serius.

Nasirun pada akhirnya sering disebut sebagai penutur jejak budaya.

Pernah pada acara Malam Anugerah Cerpen Kompas di Bentara Budaya Jakarta, 18 Oktober 2025, Nasirun bercerita sebetulnya ia tidak harus ada di situ. Sebelumnya, ketika di rumah puteri sulungnya, Ima, menyampaikan ada undangan dari Bentara Budaya Jakarta, apakah Nasirun ingin berangkat. Nasirun diundang, karena menjadi seniman yang melukis ilustrasi untuk cerpenis Sasti Gotama, nomine Malam Anugerah Cerpen Kompas.

“Setahu saya, acaranya di Bentara Budaya Yogyakarta. Saya mengiyakan saja,” ujar Nasirun.

Ima kemudian membelikan tiket Nasirun untuk berangkat ke Jakarta. Padahal, setahu Nasirun bukan Bentara Budaya Jakarta, tetapi Yogyakarta. Nasirun pada akhirnya tetap bertolak ke Jakarta. Ia merasa senang bertemu dengan cerpenis Sasti Gotama, yang cerpennya dimuat dengan ilustrasi karyanya.

Nasirun mengisahkan perihal Sasti Gotama pernah bertugas sebagai dokter di Cilacap. Tetapi, Sasti kemudian meninggalkan profesinya untuk menjadi penulis cerpen. Nasirun mengungkapkan, begitu tertarik dengan jalan pilihan hidup Sasti.

Penutur jejak budaya 

Nasirun cukup terbuka. Tetapi, ketika meminta untuk bertemu maka harus ditetapkan pada jam-jam tertentu. Nasirun juga murah hati. Ia tidak segan-segan memberikan lukisan ukuran kecil kepada tetamunya yang datang.

Nasirun cukup terbuka. Tetapi, ketika meminta untuk bertemu maka harus ditetapkan pada jam-jam tertentu.

Di rumah yang cukup luas, Nasirun juga rajin menjelas-jelaskan karyanya yang dipajang. Ada nuansa seni rupa yang membungkus narasi tradisi, tetapi di tangan Nasirun berubah menjadi karya seni kontemporer. Nasirun pada akhirnya sering disebut sebagai penutur jejak budaya.

Melukis bagi Nasirun adalah petualangan merespons memorabilia. Pada 5-9 Juni 2022 pernah mengikuti muhibah kebudayaan di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Ia merespon pabrik pupuk menjadi sketsa-sketsa humanis, termasuk sketsa lanskap Kampung Malahing yang terkepung industri.

Baca JugaNasirun Merawat Tradisi

"Perayaan Persahabatan" di OHD Museum, Kota Magelang, Jawa Tengah, 2 Juli hingga 30 Oktober 2023, Nasirun menawarkan kejutan medium karya. Salah satunya, ia melukis di atas peti jenazah. Juga instalasi 1.000 kopiah yang menghiasi lorong masuk museum. Karpet pun dilukis sebagai respons terhadap nasib pekerja imigran di Arab Saudi.

Masih di Bentara Budaya Jakarta pada 1-9 September 2023, Nasirun memamerkan karya kolaborasinya bersama Sujiwo Tejo. Pameran itu pun dengan intensi menarik, "Presiden Alternatif: Doa Pemilu Damai dan Bahagia".

Dari suatu karya kolaborasi yang diberi judul, "Bumi Gonjang-ganjing", Nasirun menggunakan simbolisme pewayangan untuk mendoakan keselamatan bangsa di tengah keriuhan politik.

Di galeri Orbital Dago, Bandung, pada 19 Maret – 27 April 2025 Nasirun menampilkan pameran tunggal bertajuk, Memorabilia. Nasirun menampilkan lukisan-lukisan yang dibuat dengan menggunakan medium lawas, seperti pada kertas Leces buatan tahun 1955. Kemudian ada papan blawong keris yang sudah kuno. Kemudian parutan kelapa tradisional.

Humor Nasirun tak pernah henti lewat karya seni rupa.

Humor Nasirun tak pernah henti lewat karya seni rupa. Pada pameran bersama bertajuk, Ruang Tafakur, di Bentara Budaya Jakarta, 27 Februari hingga 13 Maret 2026, Nasirun menampilkan lukisan berjudul, ”Santri Ucul”.

Nasirun pun mendedikasikan sebagian ruang di tempat tinggalnya di Perumahan Bayeman Permai, Jalan Wates, Yogyakarta, sebagai Museum Zakat Budaya. Di situ selain ada ribuan karyanya, terdapat ratusan karya seniman senior yang telah terlupakan.

Upaya Nasirun ini sebagai bentuk penghormatan dan laku budaya untuk menjaga jejak-jejak perupa pendahulu. Ia mengumpulkan artefak itu sejak 1994. Nasirun selalu memenuhi panggilan kebudayaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal dan Link Live Streaming Girona vs Arsenal: Pertandingan Uji Coba Juara Liga Inggris
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mal Pasang Pagar Tak Berkaitan Demo Agustus, Polda Metro Imbau Warga Tak Sebarkan Konten Provokasi
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Penyelidikan Kasus Kematian Seorang Taruna Akpol Semarang Jelang Keberangkatan Latihan Integrasi
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
OJK: Keberhasilan Berantas Judi Online Tak Cukup Penurunan Transaksi
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemisahan MBG dari Anggaran Pendidikan Baru Tahun 2028
• 9 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.