Gedung Putih Membantah Klaim Beijing: Data yang Dicuri Mencakup Data Pemilih yang Tidak Bersifat Publik

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com  Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap dokumen rahasia yang telah dideklasifikasi mengenai dugaan pencurian data pemilih Amerika oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), Gedung Putih kembali menegaskan bahwa tindakan PKT tersebut merupakan “campur tangan dalam pemilu”. 

Selain itu, Senator Amerika Serikat Rick Scott kembali mengungkap tindakan keras yang dilakukan rezim komunis, termasuk PKT, terhadap rakyatnya sendiri, serta menyerukan kerja sama internasional untuk melawan ancaman tersebut. Berikut laporan jurnalis NTD Zhang Liang dan Li Jiayin.

Gedung Putih: Data yang Dicuri Mencakup Data Pemilih yang Tidak Dipublikasikan

Reporter NTD, Zhang Liang, melaporkan bahwa Gedung Putih pada 31 Juli 2026 mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut tindakan PKT mencuri data pemilih Amerika pada pemilu 2020 memenuhi definisi “campur tangan dalam pemilu” menurut komunitas intelijen AS.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah Presiden Trump, dalam pidato publik dua minggu lalu, mengungkap dokumen rahasia yang telah dideklasifikasi mengenai dugaan campur tangan PKT dalam pemilu. Sebelumnya, sejumlah media melaporkan bahwa data yang diperoleh Beijing hanyalah data komersial yang tersedia untuk umum.

Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa PKT beserta para agennya membeli, mencuri, atau meretas sekitar 220 juta data pendaftaran pemilih warga Amerika, termasuk data yang tidak dipublikasikan. Menurut Gedung Putih, tindakan tersebut merupakan bentuk campur tangan dalam pemilu.

Gedung Putih juga memperingatkan bahwa apabila kekuatan asing menguasai data tersebut, mereka berpotensi melakukan berbagai aktivitas berbahaya, seperti memanipulasi data atau menghalangi warga untuk memberikan suara.

Senator AS Peringatkan Ancaman Komunisme dan Menyoroti Tindakan PKT

Wadah pemikir, Hudson Institute mewawancarai Senator Amerika Serikat Rick Scott mengenai ancaman terbesar yang dihadapi dunia saat ini, yaitu pemerintahan totaliter komunis.

“Lihatlah apa yang terjadi di Tiongkok. Xi (pemimpin PKT) sangat kejam. Ia membunuh rakyatnya sendiri, mengambil organ warga, menganiaya etnis Uyghur, juga praktisi Falun Gong, dan lain-lain. Ia ingin menguasai dunia,” ujarnya. 

Scott juga menyatakan bahwa PKT, Rusia, Korea Utara, Iran, dan rezim-rezim otoriter lainnya sedang bekerja sama. Menurutnya, Amerika Serikat dan negara-negara Barat harus meningkatkan kewaspadaan.

Ia menambahkan:”Kita harus menghentikan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok, tidak boleh mengizinkan saham perusahaan Tiongkok diperdagangkan di bursa efek kita. Kita tidak seharusnya membeli produk mereka, berinvestasi di Tiongkok, ataupun mengizinkan mahasiswa dari Tiongkok datang ke Amerika. Kita harus menghentikan semua ini.”

Departemen Kehakiman AS Perkuat Operasi Anti Penipuan

Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada hari yang sama  menggelar konferensi pers untuk melaporkan keberhasilan divisi penegakan hukum anti penipuan.

Asisten Jaksa Agung Divisi Penegakan Hukum Anti Penipuan Nasional, Colin MacDonald, mengatakan: “Dalam 115 hari terakhir, Departemen Kehakiman telah melaksanakan ratusan operasi penegakan hukum besar terhadap penipuan di seluruh negeri, termasuk mengajukan tuntutan terhadap para pelaku yang menargetkan dana pembayar pajak senilai miliaran dolar, yang sebenarnya diperuntukkan bagi masyarakat miskin, orang sakit, dan lansia.”

Departemen Kehakiman juga mengumumkan bahwa sejak 4 Juli hingga saat ini, kantor kejaksaan federal di wilayah tenggara telah mendakwa 12 terdakwa tambahan atas dugaan penipuan terhadap program yang didanai oleh pajak, dengan nilai perkara mencapai 90 juta dolar AS.

Mereka juga menyerukan agar para pelaku kejahatan menghentikan aksinya karena pemerintah federal terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberantas penipuan.

Pertumbuhan GDP AS Melambat pada Kuartal II, Namun Konsumsi dan Investasi Tetap Kuat

Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) hari ini merilis estimasi awal Produk Domestik Bruto (GDP) AS untuk kuartal kedua tahun 2026.

Selama periode April hingga Juni, ekonomi AS tumbuh 1,5%, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 1,8% dan juga di bawah pertumbuhan kuartal pertama yang mencapai 2,1%.

Reporter Zhang Liang menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh lonjakan impor dan penurunan belanja pemerintah. Meski demikian, sektor-sektor lainnya tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Konsumen tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dan justru meningkatkan pengeluaran. Sementara itu, perusahaan-perusahaan terus berinvestasi pada perangkat TI dan perangkat lunak yang dibutuhkan untuk pembangunan kecerdasan buatan (AI).

Laporan oleh Zhang Liang dan Li Jiayin, NTD, Washington DC.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Multivision Plus (RAAM) Cetak Laba Operasional pada Semester I-2026
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Peredaran Sabu di Karanganyar Dibongkar Polisi, 2 Pelaku Ditangkap 1 Orang Buron
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
BGN Menegaskan Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan Optimal Pascaputusan Mahkamah Konstitusi
• 18 jam lalupantau.com
thumb
3 Pemain Timnas Indonesia yang Masih Diparkir John Herdman di Piala AFF 2026: Bakal Jadi Cadangan Terus?
• 4 jam lalubola.com
thumb
Ramai Isu Demo Besar di Jakarta pada Agustus 2026, Ini Penjelasan Polda Metro
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.