Inflasi AS Turun Bukan Cuma Efek Harga BBM, The Fed Sampai Tahan Napas

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) kembali mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan 28-29 Juli 2026. Keputusan itu tidak bulat karena tiga dari 12 anggota FOMC memilih kenaikan bunga.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya membawa inflasi menuju target 2%, tetapi tidak memberikan petunjuk mengenai langkah berikutnya.

Sehari kemudian, Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) turun 0,1% secara bulanan pada Juni, terdalam sejak April 2020. Secara tahunan, inflasi PCE melambat menjadi 3,7% dari 4,1% pada Mei.

Inflasi inti PCE juga hanya naik 0,1% secara bulanan, turun dari 0,3% pada Mei. Secara tahunan, angkanya melandai dari 3,4% menjadi 3,3%. Data tersebut menunjukkan tekanan harga mulai mereda, meskipun masih berada di atas target The Fed.

Mengutip analisis dalam Inflation Tracker The Economist, penurunan inflasi kali ini bukan semata-mata disebabkan oleh harga bahan bakar. Tekanan harga mulai mereda pada sejumlah barang dan jasa lain sehingga pelemahannya terlihat lebih luas di dalam perekonomian AS.

Harga bahan bakar kendaraan memang menjadi penyumbang terbesar setelah anjlok 10%. Penurunan itu terjadi ketika perang AS dan Iran sempat memasuki masa gencatan senjata, meskipun kesepakatan tersebut kini telah berakhir.

Namun, setelah bensin, penurunan terbesar dalam PCE berasal dari perhiasan, layanan komunikasi, dan hotel. Ketiga kelompok tersebut bukan sektor yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Kondisi ini menunjukkan meredanya inflasi tidak hanya berasal dari harga minyak yang lebih murah. Sebuah indeks yang dirancang untuk membaca arah inflasi lebih awal juga merosot dari 3,6% menjadi 2,5%.

Bensin Turun, Inflasi Benar-Benar Melandai?

Turunnya harga energi biasanya ikut menekan biaya produksi dan distribusi barang lain. Karena itu, penurunan harga di luar bahan bakar pada Juni secara teori dapat saja terjadi akibat energi yang lebih murah.

Jika itu penyebab utamanya, penurunan inflasi berisiko hanya berlangsung sementara. Tekanan harga dapat kembali setelah gencatan senjata berakhir dan pertempuran AS dengan Iran berlanjut.

Risiko tersebut mulai terlihat setelah harga minyak Brent kembali naik melampaui US$90 per barel dan harga bensin AS menembus US$4 per galon.

Meski demikian, komposisi PCE Juni menunjukkan pelemahan harga tidak hanya terjadi pada sektor yang sensitif terhadap perubahan biaya energi.

Perhiasan, layanan komunikasi, dan hotel ikut menekan indeks. Ketiga kelompok tersebut tidak memiliki hubungan langsung yang kuat dengan perubahan harga bahan bakar.

Penurunan inflasi inti menjadi 0,1% secara bulanan semakin memperkuat gambaran bahwa tekanan harga mulai mereda di luar sektor energi.

Meski begitu, inflasi inti secara tahunan masih berada di level 3,3%. The Fed belum dapat menyatakan persoalan inflasi selesai karena angka tersebut masih cukup jauh dari target 2%.

Mengapa Angka Inflasi Bisa Menyesatkan

Membaca arah inflasi terbaru bukan perkara yang mudah. Angka inflasi utama biasanya dihitung dengan membandingkan harga terhadap periode yang sama setahun sebelumnya.

Perbandingan tahunan membuat pergerakan data lebih stabil, tetapi juga lebih lambat menangkap perubahan terbaru. Tekanan harga bisa saja sudah mereda atau kembali meningkat sebelum perubahannya terlihat jelas dalam angka tahunan.

Masalah tersebut semakin terasa ketika kondisi ekonomi berubah cepat akibat perang dan kebijakan pemerintahan Donald Trump. Data yang dikumpulkan sebelum perang belum tentu mampu menggambarkan arah harga setelah kondisi energi dan perdagangan berubah.

Namun, terlalu mengandalkan data bulanan juga memiliki kelemahan. Angkanya mudah naik dan turun, bergantung pada penyesuaian musiman yang tidak selalu tepat, serta dapat terpengaruh oleh perubahan ekstrem pada satu barang.

Salah satu contohnya terlihat pada akhir 2024. Wabah flu burung membuat harga telur melonjak tajam dan ikut mengangkat inflasi meskipun kenaikan tersebut tidak terjadi secara merata pada barang lainnya.

Karena itu, diperlukan ukuran yang mampu menangkap perkembangan terbaru tanpa mudah dipengaruhi oleh lonjakan atau penurunan harga pada satu komponen.

Begini Cara Melihat Inflasi yang Lebih Nyata

Indeks prediksi inflasi yang digunakan dalam analisis The Economist mencoba menyeimbangkan kecepatan data terbaru dengan kestabilan data jangka panjang.

Ada dua penyesuaian utama yang dilakukan.

Pertama, ratusan komponen dalam indeks PCE diurutkan berdasarkan perubahan harganya setiap bulan. Barang dan jasa yang mengalami kenaikan atau penurunan terlalu ekstrem kemudian mendapat bobot lebih kecil.

Cara ini hampir menyerupai ukuran trimmed-mean inflation yang dibuat Federal Reserve Bank of Dallas. Bedanya terletak pada perlakuan terhadap barang dengan perubahan harga tertinggi dan terendah.

Dallas Fed mengeluarkan komponen ekstrem dari perhitungan. Sementara itu, indeks prediksi ini tetap memasukkan seluruh barang dan jasa, tetapi bobotnya disesuaikan secara bertahap.

Komponen dengan perubahan harga di sekitar nilai tengah mendapat bobot sekitar 35% lebih besar dibandingkan bobotnya dalam indeks PCE biasa.

Sebaliknya, komponen yang berada pada persentil ke-10 dan ke-90 mendapat bobot 30-35% lebih kecil. Barang dengan pergerakan harga paling ekstrem, yang saat ini mencakup telur dan bensin, hanya mendapat bobot mendekati nol.

Metode tersebut mencegah lonjakan atau penurunan satu barang mengaburkan arah inflasi secara keseluruhan.

Penyesuaian kedua dilakukan dengan memberikan porsi lebih besar kepada data terbaru. Seluruh data bulanan tetap digabungkan menjadi rata-rata, tetapi angka terkini memiliki pengaruh jauh lebih kuat dibandingkan data lama.

Sebagai gambaran, informasi harga selama 30 hari dari enam bulan lalu memiliki pengaruh yang kurang lebih sama dengan data satu hari pada bulan berjalan.

Perbandingan bobot tersebut dipilih berdasarkan kemampuannya memperkirakan inflasi PCE selama satu tahun berikutnya.

Dalam beberapa peristiwa sebelumnya, indeks ini mampu menangkap perubahan arah inflasi lebih cepat. Ketika inflasi naik atau turun tajam pada 1975, 2008, dan 2021, indeks sudah bergerak beberapa bulan sebelum perubahan serupa terlihat dalam inflasi tahunan.

Perhitungan lengkapnya menggunakan 12 indeks inflasi bulanan. Masing-masing bulan memiliki susunan perubahan harga dan bobot komponen yang berbeda.

Hasil akhirnya memberi gambaran yang lebih kaya daripada sekadar melihat perubahan harga tahunan pada satu waktu.

Harga Naik Meluas atau Cuma di Segelintir Barang?

Selain melihat laju kenaikan harga, penting untuk mengetahui apakah inflasi hanya didorong oleh beberapa barang atau sudah menyebar ke berbagai sektor.

Saat inflasi tinggi, harga beberapa barang dan jasa biasanya melonjak jauh lebih cepat dibandingkan komponen lainnya. Sebaliknya, ketika inflasi berada di sekitar target The Fed sebesar 2%, pergerakan harga cenderung lebih seragam.

Pengecualian dari pola tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai apakah perubahan inflasi hanya berlangsung sementara atau bertahan lebih lama.

Salah satu contohnya terjadi pada periode satu tahun hingga Januari 1999. Saat itu, harga tembakau melonjak 33% setelah perusahaan rokok menyetujui penyelesaian hukum berbiaya besar untuk menanggung biaya kesehatan akibat produk mereka.

Pada periode yang sama, hanya terdapat satu barang lain yang mengalami kenaikan harga di atas 10%.

Ketimpangan sebesar itu biasanya ditemukan ketika inflasi berada di sekitar 6%. Namun, inflasi AS saat itu hanya sebesar 1%.

Kondisi tersebut dapat diukur melalui excess concentration atau konsentrasi berlebih. Perhitungannya dimulai dengan melihat seberapa lebar perbedaan perubahan harga tahunan di antara seluruh komponen inflasi.

Ekspektasi Konsentrasi Inflasi Foto: The Economist

Hasilnya kemudian dibandingkan dengan hubungan historis antara penyebaran perubahan harga dan tingkat inflasi secara keseluruhan. Selisih dari pola normal tersebut disebut konsentrasi berlebih.

Jika nilainya positif, inflasi lebih banyak didorong oleh segelintir barang dengan kenaikan harga sangat tinggi. Inflasi dengan pola seperti ini biasanya lebih mudah kembali mendekati rata-rata jangka panjang.

Sebaliknya, nilai negatif menunjukkan perubahan harga terjadi lebih merata dibandingkan kondisi normal. Inflasi seperti ini cenderung lebih melekat dan dapat bertahan lebih lama.

Ukuran konsentrasi tersebut juga membantu memperkirakan apakah indeks prediksi akan bergerak di atas atau di bawah angka inflasi utama.

Inflasi Mereda, Tapi The Fed Belum Bisa Bernapas Lega

Data Juni memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga. PCE turun secara bulanan, inflasi tahunan melambat, dan tekanan harga inti ikut melemah.

Keputusan menahan bunga juga memberi waktu bagi bank sentral untuk menilai apakah penurunan inflasi dapat bertahan setelah perang AS dan Iran kembali berlanjut.

Namun, keputusan tiga anggota FOMC yang memilih kenaikan bunga menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi belum sepenuhnya hilang.

PCE tahunan masih berada di level 3,7%, sedangkan inflasi inti mencapai 3,3%. Keduanya masih melampaui target The Fed sebesar 2%.

Kenaikan kembali harga minyak dan bensin juga dapat membalikkan sebagian penurunan yang terjadi pada Juni. Jika tekanan energi menyebar ke biaya produksi, transportasi, dan jasa, inflasi berpeluang kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang.

Karena itu, data terbaru mendukung keputusan The Fed menahan bunga pada Juli, tetapi belum menutup peluang kenaikan pada pertemuan berikutnya.

Arah kebijakan selanjutnya akan bergantung pada apakah pelemahan inflasi Juni menjadi awal dari penurunan yang lebih panjang atau hanya jeda sementara akibat gencatan senjata AS-Iran. 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pram Sebut Gerakan Pilah Sampah Sudah Jangkau RT/RW Usai Terbitnya Ingub Nomor 5
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Usai Jenguk Korban, Sudaryono Langsung Suspend Dapur MBG di Semarang
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Sahroni soal Bigmo Ajak Anak Promosi Vape: Jelas Langgar Hukum, Harus Ditindak
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
LCC Empat Pilar MPR RI Sumbar Resmi Dibuka, Sembilan Sekolah Bersaing
• 46 menit laludetik.com
thumb
7 Bulan Sudah Berlalu, Begini Rapor Kondisi Ekonomi RI
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.