jpnn.com, PALEMBANG - Bencana yang melanda Sumatera Selatan sepanjang tujuh bulan pertama 2026 tak hanya meninggalkan kerusakan, tetapi juga berdampak langsung terhadap puluhan ribu warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat sebanyak 43.747 kepala keluarga (KK) terdampak rentetan bencana alam yang melanda wilayah tersebut sepanjang periode 1 Januari hingga 30 Juli 2026.
BACA JUGA: Sepanjang Tahun 2025 Ada 284 Bencana Alam yang Terjadi di Sumsel
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Alisyahbana menerangkan, dampak bencana tersebut tersebar di sejumlah wilayah, banjir dan angin kencang menjadi jenis bencana yang paling dominan.
"Data yang kami himpun menunjukkan bencana hidrometeorologi masih mendominasi di Sumatera Selatan. Karena itu, kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat harus terus ditingkatkan," terang Iqbal, Sabtu (1/8/2026).
BACA JUGA: Pemerintah Didorong Perkuat Mitigasi untuk Meredam Dampak Bencana Alam
Sepanjang periode tersebut, BPBD Sumsel mencatat 101 kejadian bencana. Banjir dan angin kencang masing-masing terjadi 33 kali, disusul tanah longsor 17 kejadian, kebakaran permukiman 12 kejadian, banjir bandang 4 kejadian, serta angin puting beliung dua kejadian.
Dari total dampak yang tercatat, sebanyak 43.770 unit rumah terendam banjir. Selain itu, 125 rumah mengalami rusak berat, 66 rusak sedang, dan 39 rusak ringan.
BACA JUGA: Uskup Agung Jakarta: Rentetan Bencana Alam Menjadi Peringatan untuk Melakukan Pertobatan Ekologis Nasional
"Dari sisi kemanusiaan, sebanyak 43.747 kepala keluarga (KK) terdampak langsung, sedangkan 607 KK terpaksa mengungsi. BPBD juga mencatat adanya korban jiwa akibat sejumlah bencana yang terjadi selama periode tersebut," jelas Iqbal.
Dampak bencana juga dirasakan sektor pertanian. BPBD mencatat sedikitnya 4.910 hektare sawah dan 1.395 hektare kebun mengalami kerusakan akibat bencana di berbagai daerah.
Kabupaten Ogan Ilir menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 19 kejadian. Selanjutnya OKU Selatan 12 kejadian, Lubuklinggau dan Muara Enim masing-masing 10 kejadian, serta Prabumulih 9 kejadian.
Daerah lainnya yang turut terdampak yakni OKU tujuh kejadian, Banyuasin enam kejadian, PALI lima kejadian, Musi Rawas dan Pagar Alam masing-masing empat kejadian, serta Palembang, Lahat, dan Empat Lawang masing-masing tiga kejadian.
Memasuki puncak musim kemarau, BPBD Sumsel kini mulai mengantisipasi perubahan pola ancaman bencana. Setelah banjir mendominasi pada awal tahun akibat tingginya curah hujan, potensi kebakaran dan lahan (karhutla) menjadi perhatian berikutnya.
Ancaman tersebut terutama diwaspadai pada wilayah yang memiliki hamparan lahan gambut.
"Untuk seluruh pemerintah kabupaten dan kota diminta tetap siaga menghadapi potensi bencana yang dapat berubah mengikuti kondisi cuaca. BPBD juga terus memperkuat koordinasi lintas
instansi, memperbarui informasi kebencanaan, serta mengedukasi masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai risiko bencana," pungkas Iqbal.(mcr35/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Cuci Hati




