Cahaya di Ufuk Timur, Guru-guru Perintis Menjaga Asa Pendidikan di Tanah Papua

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Anastasia Saminem (79) kembali mengingat pengalaman yang tidak mengenakan beberapa tahun silam. Pagi-pagi menjelang pukul setengah enam, saat ia bersiap ke gereja, rumahnya digerebek banyak orang. Di antara orang-orang yang tidak dikenalnya itu, mereka membuka lemari dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya.

Hingga kini, ia sendiri tidak tahu benar alasan di balik kejadian itu. Namun yang ia tahu pasti, pada akhir tahun 1999 hingga awal 2000, isu kemerdekaan Papua tengah menguat. Anastasia beberapa kali mendapatkan ancaman.

Banyak guru yang merupakan orang asli Papua turut membicarakan kemerdekaan Papua tersebut. Menanggapi itu, Anastasia sempat mengatakan kepada para guru lain, “Tugas kita ini mendidik anak-anak. Urusan politik biar pemerintah yang mengatur.”

Baca JugaPengabdian yang Tak Terukur Rupiah
Baca JugaGuru 3T Mengawal Belajar Anak-anak Tanpa Batas

Akan tetapi, kata-kata tersebut ternyata dianggap salah. Setiap pukul 11.00 siang, teleponnya selalu berdering disambut dengan suara lirih yang memerintahkan Anastasia untuk jangan macam-macam.

Tugas kita ini mendidik anak-anak. Urusan politik biar pemerintah yang mengatur.

Di tengah kondisi itu, banyak guru yang datang dari luar Papua memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya. Namun, Anastasia tetap bertahan. “Rasanya berat sekali. Ada banyak murid yang membutuhkan kami. Jadi saya tetap bertahan meski selalu was-was,” ucapnya.

Anastasia merupakan guru lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Stella Duce Yogyakarta pada 1968. Tidak lama setelah lulus dan mengajar di beberapa tempat, ia kemudian menikah dan mengikuti suaminya yang bertugas di Papua.

Anastasia mulai mengajar di Papua pada 1971. Belum banyak guru yang mengajar di Papua, terutama di daerah Kabupaten Paniai, Papua Tengah. Karena itu, ia pun layak dianggap sebagai guru perintis di Papua.

Ada beragam kisah yang bisa diceritakan selama ia mengajar di Papua. Keterbatasan fasilitas memang menjadi tantangan. Meski demikian, perjuangan anak-anak di Papua untuk belajar yang terus membuat Anastasia semangat. Anak-anak rela berjalan kaki sekitar 30-45 menit hanya untuk sampai ke sekolah.

Cerita lain dari sosok guru perintis dikisahkan oleh Maria Magdalena Eria yang lebih akrab disapa Mama Eria. Berbeda dengan Anastasia yang berasal dari Jawa, Mama Eria merupakan guru perintis asli Papua.

Baca JugaPembelajaran Berpusat pada Siswa atau Guru?
Baca JugaPendidikan untuk Papua Sejahtera

Ia mulai mengabdi sebagai guru pada tahun 1980-an. Sejak saat itu, ia mengajar sebagai guru hingga pensiun pada Desember 2018. Selama itu, ia mengaku sudah banyak menyaksikan banyak perubahan di Tanah Papua. Perjuangan sebagai guru dinilai semakin menantang.

Pendidikan yang dulu sederhana tetapi penuh makna, menurut Eria kini sudah dikalahkan dengan teknologi. Banyak anak juga tidak lagi hormat dan tidak mau mendengar nasihat dari para guru.

“Di balik semua itu, saya percaya selalu ada secercah harapan di setiap anak yang datang ke sekolah. Di setiap guru yang tetap memilih berada di depan kelas meski digaji terlambat, masih ada cinta untuk mendidik,” tuturnya.

“Saya percaya pendidikan di Tanah Papua tidak pernah benar-benar padam. Mendidik bukan hanya soal memberi pelajaran, melainkan juga menyalakan lilin-lilin kecil di hati anak-anak supaya mereka bisa menemukan jalan meski jalan itu gelap,” ucap Eria.

Kisah dalam buku

Cerita Anastasia dan Mama Eria hanya dua dari puluhan kisah guru-guru perintis yang ditulis dalam buku “Kisah-kisah Guru Perintis: dari Pedalaman Papua Era 1962-1980” karya yang Romo J Sudrijanta SJ dan Bernarda Rurit. Buku ittu dibuat untuk mendokumentasikan kisah sunyi para guru perintis yang berjasa membangun pendidikan di Papua.

“Guru-guru perintis ini adalah orang-orang yang berbuat sesuatu yang luar biasa untuk negara kita. Namun seolah-olah, apa yang mereka lakukan itu begitu sunyi, nyari tak terdengar,” ujar Rurit dalam diskusi buku “Menemukan Oase Harapan bagi Pendidikan Indonesia”, di Jakarta, pada Sabtu (1/8/2026).

Baca JugaKualitas Guru di Papua Masih Rendah
Baca JugaPapua Menyemai Asa

Padahal, perjuangan para guru di Tanah Papua sangat tidak muda. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, melainkan punya peran lain, baik sebagai pemimpin lokal, tokoh agama, serta petugas yang melayani kesehatan masyarakat.

Kesetiaan dan pengorbanan para guru tergambar jelas dari cerita yang didapatkan dari guru perintis di Papua. Terdapat guru yang mesti berjalan selama dua hari dua malam untuk mencapai tempatnya mengajar. Ada pula seorang guru yang bertugas di pedalaman yang hanya sempat dua kali ke kota dalam lima tahun ia mengajar.

“Jadi kesetiaan profesi guru ini luar biasa. Pengorbanan yang sepertinya tidak artinyanya ini terus mereka jalani. Namun kenyataannya, buah-buah dari kebaikan dan pengabdian dari para guru ini menetas ke anak-anak mereka,” ujar Rurit.

Pada kesempatan tersebut, penulis buku yang juga wartawan senior, Maria Margaretha Hartiningsih menilai, kisah-kisah para guru perintis di Papua tak hanya milik Papua, melainkan bagian dari sejarah kemanusiaan bersama bagi bangsa Indonesia.

Dari para guru perintis, masyarakat mestinya menyadari bahwa setiap orang perlu melihat bahwa setiap anak merupakan pribadi yang berbeda yang bermartabat.

“Setiap anak itu adalah pribadi yang bermartabat, bukan manusia kecil. Prinsip-prinsip itu yang menjadi dasar proses belajar mengajar di Papua. Tetapi itu yang sepertinya justru hilang dari seluruh sistem belajar mengajar di luar Papua,” ungkapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polytron Kasih Bundling Modifikasi G3+ Special Collaboration, Diskon Tembus 50%
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Ketika Bupati Belum Selesai dengan Dirinya Sendiri
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Mitos vs Fakta Megathrust, Pakar Beri Jurus Selamat dari Gempa-Tsunami
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
IHSG Naik 0,64%, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.923 Triliun Minggu Ini
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
[FULL] Aryanto Sutadi-Hermawan Sulistyo Soroti Dugaan Keterkaitan Sutrimo di Kasus Eks Jampidsus
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.