Islamabad: Pendaki ternama asal Inggris-Nepal, Nirmal Purja, dipastikan meninggal dunia bersama sembilan pendaki lainnya setelah mereka tersapu salju longsor di gunung Broad Peak, Pakistan.
Kepastian kematian kesepuluh orang itu diumumkan perusahaan ekspedisi Elite Exped pada Sabtu kemarin.
"Dunia telah kehilangan salah satu pendaki gunung terbesar sepanjang masa," ujar Elite Exped, seperti dilansir dari AsiaOne, Minggu, 2 Agustus 2026.
Perusahaan itu juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban. "Tidak ada kata-kata yang mampu mengurangi rasa sakit atas kehilangan yang begitu besar ini," ucapnya.
Rombongan beranggotakan 10 pendaki tersebut tersapu salju longsor pada Kamis lalu saat melakukan pendakian di Broad Peak, salah satu gunung setinggi lebih dari 8.000 meter di Pegunungan Karakoram, Pakistan.
Tim penyelamat sebelumnya menemukan empat jenazah, dengan tiga di antaranya berhasil dievakuasi di hari Jumat. Cuaca buruk sempat menghambat operasi pencarian menggunakan helikopter militer.
Pencarian terhadap korban lainnya kembali dilanjutkan pada Sabtu dengan dukungan helikopter dan tim penyelamat darat.
Presiden Alpine Club of Pakistan, Irfan Arshad Khan, menyebut tragedi tersebut sebagai kehilangan besar bagi komunitas pendaki dunia.
"Kehilangan para pendaki pemberani dari berbagai negara yang dipersatukan oleh kecintaan terhadap gunung merupakan kehilangan yang tak ternilai bagi komunitas pendakian internasional," ujarnya.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada personel militer, tim penyelamat sipil, dan para sherpa yang terlibat dalam operasi pencarian.
"Gunung menginspirasi kita dengan keindahannya, tetapi juga mengingatkan akan besarnya risiko yang dihadapi mereka yang menjelajahi Himalaya dan Karakoram," katanya. Pendaki Berprestasi Dunia Sebelumnya, pejabat kepolisian setempat, Tahir Khan, mengatakan jenazah pendaki asal Oman, Nathira Ahmed, telah diterbangkan ke Islamabad. Sementara jenazah pendaki asal Amerika Serikat, Mallory Geis, dan pendaki Nepal Bahadur Gurung masih berada di rumah sakit di Skardu, kota utama di wilayah Gilgit-Baltistan.
Keluarga Mallory Geis menyebut korban sebagai sosok yang dicintai keluarga dan para sahabat.
"Mallory adalah pribadi yang membawa cahaya bagi banyak orang. Ia akan sangat dirindukan," demikian pernyataan keluarganya.
Ekspedisi tersebut dipimpin oleh Nirmal Purja, mantan prajurit Angkatan Darat Inggris kelahiran Nepal yang dikenal luas dengan nama Nims Dai.
Purja mencatat sejarah pada 2019 setelah berhasil menaklukkan 14 gunung tertinggi di dunia hanya dalam 189 hari, sebuah rekor yang kemudian diangkat dalam film dokumenter Netflix 14 Peaks: Nothing Is Impossible. Rekor tersebut kemudian dipecahkan pada 2023.
Elite Exped menggambarkan Purja sebagai sosok pemimpin yang menginspirasi jutaan orang melalui keberanian, kerendahan hati, dan keyakinannya bahwa potensi manusia jauh lebih besar daripada yang sering dibayangkan.
Ekspedisi kali ini merupakan pendakian pertama Mallory Geis ke gunung berketinggian di atas 8.000 meter di Pakistan. Sementara bagi Sakhi, salah satu pemandu ekspedisi yang juga berprofesi sebagai ahli geografi dan fotografer pegunungan, perjalanan tersebut direncanakan menjadi pendakian terakhirnya.
Wilayah pegunungan di Pakistan utara dikenal memiliki tingkat risiko tinggi bagi para pendaki akibat longsoran salju, runtuhan es dan batu, ketinggian ekstrem, serta perubahan cuaca yang berlangsung sangat cepat.
Baca juga: Salju Longsor Landa Pegunungan Nepal, Tujuh Pendaki Tewas Empat Hilang




