jpnn.com - JAKARTA - Pemanfaatan atap masjid untuk pembangkit listrik tenaga surya dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan berbasis masyarakat dalam mendukung target pengembangan 100 gigawatt energi surya di Indonesia.
Potensi itu mengemuka dalam diskusi bertajuk “Faith-Based Contribution to Indonesia’s Solarization Ambition” pada Indonesia Net-Zero Summit 2026.
BACA JUGA: Skema Hibah & Pinjaman Lunak Dinilai Realistis Dorong PLTS Berbasis Komunitas
Perwakilan pemerintah, lembaga negara, dan organisasi masyarakat sipil membahas peluang penggunaan dana sosial keagamaan melalui skema Wakaf Hijau atau Green Waqf untuk membiayai pemasangan panel surya di rumah ibadah.
Dalam forum tersebut terungkap bahwa masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan ekonomi yang dapat berperan dalam mempercepat transisi menuju energi bersih.
BACA JUGA: APL Resmikan PLTS Atap di Fasilitas Jatim
"Penanganan krisis iklim dan transisi energi sejalan dengan prinsip Maqashid asy-Syari’ah, termasuk perlindungan terhadap kehidupan, harta, akal, agama, dan generasi mendatang," kata Komisioner sekaligus Ketua Lembaga Kenazhiran Badan Wakaf Indonesia M. Ali Yusuf, Sabtu (1/8).
Potensi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf atau ZISWAF di Indonesia diperkirakan mencapai hampir Rp 400 triliun per tahun.’ Potensi akumulasi wakaf uang diperkirakan mencapai Rp 181 triliun.
BACA JUGA: Zaenudin Sempat Teriak Allahu Akbar Sebelum Jatuh dari Atap Masjid
Dana tersebut dinilai dapat dioptimalkan untuk membiayai proyek energi terbarukan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Menurut Ali, Badan Wakaf Indonesia terus mendorong penerapan Kerangka Kerja Wakaf Hijau yang menempatkan energi terbarukan sebagai salah satu pilar pengembangan wakaf produktif.
“Kami di Kementerian Agama dan Badan Wakaf terus mencari cara agar potensi yang besar ini bisa terkumpul, tidak hanya tercatat sebagai potensi,” kata Ali.
Dari sisi kebijakan, Staf Khusus Bidang Percepatan Isu Strategis Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral M. Pradana Indraputra mengatakan porsi energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL terus meningkat.
Pradana menyebut porsi energi terbarukan dalam RUPTL sebelumnya berada di kisaran 52 persen. Dalam RUPTL terbaru, porsinya disebut mencapai sekitar 73 persen, termasuk penyimpanan energi berbasis baterai dan komponen pendukung lainny
"Namun, skala transformasi energi yang dibutuhkan Indonesia dinilai tidak dapat dipenuhi hanya melalui APBN ataupun investasi berskala besar," katanya.
Oleh karena itu, pemerintah mengapresiasi keterlibatan komunitas dan organisasi keagamaan dalam program solarisasi atap, termasuk skema pendanaan yang melibatkan masyarakat dan rumah ibadah.
Indonesia diperkirakan memiliki lebih dari 750 ribu masjid dan musala. Jumlah tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berbasis komunitas.
Apabila 200 ribu masjid memasang PLTS masing-masing lima kilowatt, total kapasitas energi bersih yang dapat dihasilkan diperkirakan mencapai satu gigawatt.
Salah satu upaya yang telah dikembangkan adalah NUUR+, platform sedekah dan wakaf energi yang diprakarsai oleh konsorsium organisasi masyarakat sipil, termasuk MOSAIC.
Program tersebut berencana memasang PLTS di sebuah masjid di wilayah terdampak bencana di Aceh Tamiang. Selain menyediakan energi bersih, program itu diarahkan untuk mendukung pemberdayaan perempuan dan pengembangan ekonomi masyarakat setempat.
Deputi Direktur Program Just Energy Transition MOSAIC Reka Maharwati mengatakan manfaat pemasangan panel surya di masjid tidak terbatas pada penghematan energi.
“Listrik berbasis surya di masjid bukan sekadar menghemat energi, tetapi menghidupkan ruang-ruang pemberdayaan masyarakat,” kata Reka.(esy/jpnn)
Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Mesyia Muhammad




