Apakah Opsi Militer Gagal Mematahkan Sikap Iran?

republika.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN-Sejumlah pakar dan diplomat yang diwawancarai Aljazeera sepakat bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran belum mampu menghasilkan perubahan yang menentukan dalam arah konflik.

Baik Washington maupun Teheran kini dinilai semakin memahami batas-batas kekuatan militer masing-masing, sehingga kembalinya jalur diplomasi melalui perantara negara-negara kawasan menjadi skenario yang paling mungkin terjadi.

Baca Juga
  • Terungkap 3 Opsi Terkait Iran yang Dibicarakan Trump dan Netanyahu Secara Tertutup
  • Mimpi Netanyahu Membentuk Timur Tengah Baru Semakin Menguap?
  • 3 Analisis Ungkap Bagaimana Perang dengan Iran Ubah Perhitungan Kekuatan Amerika Serikat?

Sebagian pengamat menilai Iran masih memiliki sejumlah kartu strategis yang dapat digunakan sebagai alat tekanan, terutama kendalinya atas Selat Hormuz.

Sementara itu, pihak lain berpendapat bahwa persoalan utama tidak semata-mata terletak pada keseimbangan kekuatan militer, tetapi juga pada krisis kepercayaan yang mendalam antara kedua negara.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Karena itu, keberhasilan setiap upaya perundingan akan sangat bergantung pada adanya jaminan politik dan dukungan regional.

Mereka juga mengingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepahaman terkait keamanan jalur pelayaran internasional dapat memicu eskalasi baru dalam waktu dekat.

Diplomat Amerika Serikat yang pernah bertugas di kawasan, Joey Hood, mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan udara yang sangat besar dibanding Iran.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar serangan udara berhasil mencapai target yang ditentukan.

Namun, menurutnya, keunggulan militer itu tidak berarti bahwa opsi militer mampu mengakhiri krisis secara tuntas.

Ia menilai kedua pihak kini semakin menyadari keterbatasan kemampuan militernya masing-masing. 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BGN Hentikan Sementara SPPG Karangturi usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan MBG
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
AHY Dorong Penataan Permukiman Kumuh di Gresik Jadi Model Nasional
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Rupiah Melemah 0,32 Persen dalam Sepekan, Dibayangi Geopolitik dan Domestik
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemkab Bantul gencarkan budidaya sorgum sebagai opsi pengganti beras
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Ikram Rosadi Blak-blakan Soal Perceraian dengan Larissa Chou: Kapok Menikah hingga Singgung Utang
• 23 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.