BOGOR, KOMPAS.com - Sejumlah pengguna bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax di wilayah Kota Bogor, Jawa Barat, mengeluhkan penurunan harga yang dinilai terlalu kecil.
Diketahui, harga Pertamax di wilayah Jabodetabek per 1 Agustus 2026 turun dari Rp 16.250 menjadi Rp 15.950 per liter atau berkurang Rp 300 per liter.
Salah seorang pengguna Pertamax, Dika (28), mempertanyakan besaran penurunan harga tersebut.
Baca juga: Pelaku Kejahatan Jalanan Didominasi Usia 25-29 Tahun dalam Operasi Berantas Jaya
Ia menilai, penurunan Rp 300 tidak sebanding dengan kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp 3.950 per liter, dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 pada 1 Juni 2026.
"Sebenarnya sih ya kenapa dituruninnya cuma Rp 300 perak, sedangkan naiknya lumayan gede gitu," kata Dika saat ditemui Kompas.com di SPBU KS Tubun, Kota Bogor, pada Minggu (2/8/2026).
Meski sepeda motornya dapat menggunakan BBM subsidi jenis Pertalite, Dika mengaku enggan beralih lantaran antrean Pertalite kerap mengular.
"Mau Pertalite oke, Pertamax oke. Jadi ngelihat kalau misalkan Pertalite antre, ya udahlah Pertamax aja lah," ujarnya.
Dika berharap Pertamina dapat kembali menurunkan harga Pertamax hingga ke level Rp 12.300 per liter.
"Pengennya balik ke harga yang kemarennya lagi, yang Rp12.300 pengennya," tutur dia.
Pengguna Pertamax lainnya, Agus (24), mengatakan, penurunan harga tersebut tidak memberikan dampak yang besar.
Baca juga: Pendinginan Kebakaran Tumpukan Sampah di Kramat Jati Berlanjut, Bara Api Masih Tersisa
"Ya sama aja sebenarnya ya, enggak terlalu beda jauh gitu karena turunnya juga enggak banyak juga kan. Ya kurang terasa," kata Agus di SPBU KS Tubun, Minggu.
Meski demikian, Agus tetap memilih menggunakan Pertamax karena meyakini BBM tersebut lebih baik untuk menjaga performa mesin motornya.
Selain itu, antrean Pertalite yang sering panjang dinilainya menyita waktu
"Pertama ngantrenya panjang, terus kayak apalagi kalau lagi buru-buru kan, kalau ngantre panjang tuh ya buang waktu lah gitu," jelas dia.