Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR), Henri Subiakto, menyoroti mencuatnya isu demonstrasi besar yang disebut-sebut akan terjadi pada Agustus 2026.
Menurut Henri, salah satu pemicu selain kondisi yang tak kunjung membaik sejak demonstrasi Agustus tahun lalu adalah pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya.
"Kalau ada kekesalan, kemarahan dan kekacauan, pemicunya selain keadaan yang tidak membaik sejak Agustus tahun lalu, justru karena pernyataan pak Prabowo sendiri yang memicunya," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Minggu (2/8).
Henri menilai wajar jika rakyat marah ketika perjuangan dan kesulitannya diremehkan. Ia menyinggung rakyat kritis yang dicap “antek asing”, wartawan yang disebut “Londo Ireng”, hingga program pemerintah yang dianggap pemborosan anggaran.
"Bener bener deh Presiden Prabowo itu perbuatannya hanya menguntungkan pihak yang menyiapkan calon kalau dia jatuh," ujar Henri.
Henri menambahkan, Prabowo kerap berbicara tanpa filter setiap ada kesempatan, tanpa ada pihak yang mengingatkan secara kritis. Hal itu, menurutnya, justru membuat pernyataan sang presiden menjadi provokatif dan menimbulkan kejengkelan di masyarakat terhadap pemerintahannya sendiri.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan belum ada informasi terkait rencana demonstrasi besar pada Agustus 2026.
Baca Juga: Polisi Tegaskan Tak Ada Demo, Tapi Mal Tetap Berlindung di Balik Pagar
Meski begitu, aparat tetap melakukan langkah antisipasi dengan memantau media sosial dan berkoordinasi dengan intelijen untuk menjaga situasi tetap terkendali.
“Kami juga akan berkoordinasi dari analisa perkiraan intelijen terkait tentang situasi terkini. Tetapi perlu kami sampaikan bahwa situasi sampai saat ini masih bisa dapat dikendalikan,” jelas Budi dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (31/7/2026).





