Penyakit Mental BPD Banyak Dialami Gen-Z, Benarkah?

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Kesehatan mental menjadi topik yang selalu hangat diperbincangkan, terutama di kalangan Gen Z. Isu ini dianggap sangat penting karena berpengaruh besar terhadap kualitas hidup dan produktivitas manusia sehari-hari. Pengalaman masa lalu, seperti kehilangan, pelecehan, atau peristiwa traumatis sering dipandang sebagai pemicu utama terganggunya kondisi mental.

Selain itu, beberapa faktor lain juga berperan, misalnya kurangnya kasih sayang dan dukungan emosional, kekerasan dalam rumah tangga atau lingkungan, serta kondisi hidup yang penuh tekanan. Pikiran yang terus-menerus "berisik" atau sering disebut dengan overthinking, juga kerap memperburuk kondisi mental seseorang.

Bahkan pola asuh yang terlalu terlalu keras dapat berdampak negatif karena membuat individu kurang memiliki keterampilan mengatasi stres. Semua faktor tersebut saling berinteraksi, sehingga memicu gangguan mental yang serius jika tidak dikelola dengan baik. Lalu, sebenarnya apa itu BPD (Borderline Personality Disorder)? apa pemicu dari munculnya penyakit mental tersebut? dan bagaimana cara kita mengatasinya?

Apa Itu BPD (Borderline Personality Disoder)?

BPD (Borderline personality disorder) adalah gangguan mental serius yang ditandai dengan ketidakstabilan emosi, impulsivitas, dan kesulitan membangun hubungan interpersonal. Laporan literatur psikiatri global dalam jurnal medis The Lancet (Lieb et al.) yang mencatat angka komparatif gangguan mental BPD mencapai 1,6-5,9%. Ketidakstabilan emosi merupakan salah satu karakteristik utama yang sangat sering ditemukan pada individu dengan penyakit mental BPD.

Kondisi ini ditandai oleh adanya kesulitan dalam mengendalikan dan menyesuaikan respons emosional terhadap berbagai situasi yang dihadapi sehari-hari. Akibatnya, penderita dapat mengalami ledakan emosi secara mendadak, kesulitan dalam menghadapi tekanan atau stres, serta perubahan suasana hati yang sangat cepat dan ekstrem dalam waktu yang relatif singkat.

Hasil studi mengungkapkan bahwa hampir 90% penderita BPD mengalami gangguan dalam regulasi emosi, sehingga kondisi tersebut memberikan pengaruh signifikan terhadap interaksi sosial dan kinerja mereka di lingkungan kerja. Ketidakmampuan dalam mengelola emosi ini turut berdampak pada relasi interpersonal, sebab individu yang mengalaminya sering kali merasa tidak mendapatkan pemahaman atau justru mengalami penolakan dari orang-orang terdekat.

Perilaku impulsif juga menjadi salah satu ciri yang kerap muncul pada individu dengan penyakit BPD. Bentuk impulsivitas ini dapat tercermin melalui tindakan seperti penyalahgunaan zat, perilaku melukai diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri.

Berdasarkan sejumlah penelitian, sekitar 60% hingga 80% penderita BPD memperlihatkan perilaku impulsif yang berpotensi membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Di Indonesia, data dari Rumah Sakit Jiwa juga menunjukkan bahwa sekitar 30% pasien dengan gangguan kepribadian menjalani perawatan karena tindakan bunuh diri yang dilakukan secara berulang.

Perilaku impulsif tersebut umumnya dipicu oleh ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi negatif, seperti amarah dan frustrasi. Kondisi ini dapat menyeret penderita ke dalam pola yang berbahaya dan justru memperburuk kesehatan mental mereka, misalnya melalui ketergantungan pada zat adiktif atau penarikan diri dari lingkungan sosial.

Pemicu Munculnya BPD (Borderline Personality Disoder)

Peran genetik pada BPD masih belum sepenuhnya dapat dipastikan, namun seseorang yang memiliki anggota keluarga dekat dengan gangguan ini, cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalaminya. Risiko tersebut biasanya tidak muncul dari faktor genetik saja, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan, seperti pengalaman traumatis, hubungan keluarga yang kurang sehat, dan pola asuh yang buruk.

Studi longitudinal twin study oleh Bornovalova dkk. (2009) yang berjudul "Stability, change, and heritability of borderline personality disorder traits from adolescence to adulthood", mengatakan bahwa ciri-ciri pada BPD dapat diwariskan dalam tingkat yang sedang, dan kecenderungannya mulai menurun pada rentang usia 14 hingga 24 tahun.

Faktor psikososial pada BPD mencakup lingkungan dan pengalaman traumatis yang dialami pada masa kanak-kanak. Banyak penderita BPD pernah mengalami hal-hal yang menyakitkan, seperti pelecehan, pengabaian, kekerasan, atau penelantaran saat masih kecil.

Trauma ini terbukti berperan dalam perkembangan disosiasi dan dapat berhubungan dengan faktor risiko BPD lainnya, seperti faktor genetik, neurobiologis, serta pengalaman hidup yang penuh tekanan. Pengalaman yang tidak menyenangkan sejak kecil juga dapat menjadi tekanan psikologis yang kemudian memunculkan gejala BPD ketika seseorang beranjak dewasa.

Perkembangan BPD juga dipengaruhi oleh kondisi emosi yang tidak sehat sejak masa kecil. Hal ini sering berawal dari lingkungan keluarga, terutama dari hubungan antara orang tua dan anak, cara orang tua mendidik, serta suasana rumah yang tercipta.

Jika anak tumbuh dalam lingkungan seperti ini, ia bisa kesulitan memahami, mengatur, atau menahan emosinya sendiri. Akibatnya, anak cenderung mengalami hambatan emosional dan perubahan suasana hati yang sangat tidak stabil.

Bagaimana Cara Mengatasi Masalah Mental Ini?

Untuk mendapatkan diagnosis Borderline Personality Disorder (BPD) yang lebih tepat, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti wawancara secara mendalam, evaluasi psikologis melalui kuesioner, meninjau riwayat kesehatan, serta membahas tanda dan gejala yang dialami pasien.

Namun, diagnosis BPD umumnya diberikan kepada orang dewasa, bukan anak-anak atau remaja, karena gejala pada usia tersebut masih bisa berubah atau menghilang seiring perkembangan mereka.

Pengobatan BPD pada umumnya dilakukan melalui psikoterapi, meskipun dalam beberapa kasus dokter juga dapat memberikan penanganan tambahan. Jika kondisi pengidap membahayakan keselamatan dirinya, misalnya karena percobaan bunuh diri, dokter bisa menyarankan rawat inap.

Perawatan ini bertujuan membantu pengidap mengelola emosi, mengatasi kesulitan yang dialami, dan memperbaiki kualitas hidup. Beberapa jenis terapi yang sering digunakan adalah Dialectical Behavior Therapy (DBT), yang membantu mengatur emosi, menahan tekanan, dan memperbaiki hubungan sosial. Mentalization-Based Therapy (MBT), yang mengajarkan pengidap untuk berpikir sebelum bereaksi dan memahami pikiran serta perasaannya sendiri. Serta Schema-Focused Therapy, yang membantu mengenali kebutuhan masa kecil yang belum terpenuhi dan mengubah pola perilaku negatif menjadi lebih sehat.

Apa Benar Penyakit Ini Sering Dialami oleh Gen-Z?

Tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa BPD (Borderline Personality Disorder) “sering dialami” Gen Z sebagai fakta umum. Namun, isu kesehatan mental pada Gen Z meningkat dan ada fenomena self-diagnose BPD di media sosial.

Self-diagnose adalah upaya seseorang mendiagnosis dirinya sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri dari sumber yang tidak profesional, seperti teman, keluarga, internet, atau pengalaman masa lalu. Dalam proses ini, seseorang menempatkan dirinya pada posisi sebagai orang sakit.

Biasanya, hal ini dilakukan karena rasa ingin tahu terhadap gejala yang dirasakan, atau karena gejala tersebut dianggap sesuai dengan perilaku dan kondisi dirinya. Selain itu, ada juga orang yang melakukan self-diagnose karena takut menerima diagnosis penyakit serius setelah memeriksakan diri ke dokter.

Salah satu gangguan kesehatan mental yang sering menjadi bahan self-diagnose adalah Borderline Personality Disorder (BPD). BPD juga sering dibahas di media sosial, termasuk TikTok. Video yang membahas gejala atau pengalaman terkait BPD bisa memberi pengetahuan dan dukungan bagi orang yang merasa terasing atau tidak dipahami.

Namun, ada risiko informasi tersebut disederhanakan atau bahkan tidak akurat, sehingga dapat memengaruhi cara seseorang memahami kondisi dirinya.

Self-diagnose berdasarkan informasi dari media sosial tidak hanya bisa menyesatkan, tetapi juga dapat membuat seseorang mengabaikan penanganan profesional yang sebenarnya dibutuhkan. Maka, gangguan ini perlu didiagnosis dan ditangani oleh profesional kesehatan mental, karena penanganan yang tidak tepat justru bisa memperburuk kondisi pasien.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Patra Niaga Bangun Ekosistem Belajar bagi Anak Pesisir
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kurniawan sebut permainan Indonesia All Stars sesuai harapannya
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Hal yang Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah
• 13 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pelatih Malaysia Panas Dingin, Mendadak Angkat Bendera Putih dan Sebut Timnas Indonesia Tim Paling Kuat di Grup A
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Kebiasaan Tidur Larut Malam Bisa Tingkatkan Risiko Munculnya Jerawat
• 10 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.