Pemerintah Iran menegaskan akan memperlakukan setiap ancaman dari pihak yang dianggap sebagai musuh sebagai ancaman nyata.
Sikap tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel menyusul batalnya rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Brigadir Jenderal Majid Ebn-e-Reza Menteri Pertahanan sementara Iran mengatakan, negaranya tidak akan mengabaikan setiap bentuk ancaman, meski disampaikan dalam bentuk operasi psikologis maupun perang kognitif.
“Pernyataan musuh baru-baru ini, meskipun disampaikan dalam kerangka operasi psikologis dan perang kognitif, tetap kami pandang sebagai ancaman yang nyata dan kredibel,” tulis Ebn-e-Reza melalui akun media sosialnya, Minggu (2/8/2026).
Ia menegaskan Iran tidak akan bersikap lengah ataupun pasif dalam menghadapi situasi tersebut.
Menurutnya, setiap ancaman akan dijadikan dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan militer, memperkuat kemampuan pencegahan, serta mengembangkan kapasitas pertahanan negara.
“Kami menjadikan setiap ancaman sebagai dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat pencegahan, dan mengembangkan kemampuan kami,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Donald Trump Presiden Amerika Serikat membatalkan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Keputusan tersebut diambil setelah muncul peringatan keras dari pejabat Iran bahwa setiap agresi baru dari Amerika Serikat maupun Israel akan mendapat balasan.
Sebelumnya, Trump menyatakan bersedia menunda aksi militer selama terdapat peluang tercapainya kesepakatan mengenai program nuklir Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia. (ant/saf/ham)




