EtIndonesia.com Ceuta kewalahan dalam semalam setelah wilayah enklaf Spanyol di Afrika Utara itu menghadapi gelombang baru hampir 60.000 penyeberangan imigran ilegal dari Maroko hanya dalam sehari, kata Presiden Ceuta pada Jumat.
Jumlah tersebut melonjak tajam dibandingkan angka 49.000 kedatangan melalui jalur laut dan darat yang sebelumnya dilaporkan otoritas Spanyol hingga Jumat pagi, 31 Juli.
Setidaknya 41 imigran tewas saat berusaha mencapai wilayah Spanyol di Ceuta, meningkat dari 19 korban jiwa yang dilaporkan sebelumnya pada Jumat.
“Situasi yang sedang dialami Ceuta benar-benar tidak dapat dipertahankan lagi,” kata Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, kepada wartawan.
Rachid Sbihi, yang memimpin asosiasi pekerja lokal yang mewakili anggota Guardia Civil, menyebut situasi tersebut sebagai “krisis kemanusiaan yang serius.”
“Orang-orang masih terus masuk. Personel tambahan yang datang hanya dapat membantu para korban luka dan menangani upaya kemanusiaan lainnya,” katanya. “Situasinya kacau.”
Pada Kamis, Spanyol mengerahkan satuan militer ke wilayah enklafnya di Afrika Utara, Ceuta, untuk memperkuat keamanan setelah ribuan imigran ilegal, yang mana sebagian besar merupakan pria muda, menerobos perbatasan dengan Maroko.
Ceuta merupakan kota otonom Spanyol yang terletak di Afrika Utara. Bersama Melilla, wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika dan kerap menghadapi gelombang imigran ilegal yang berupaya memasuki Eropa.
Menurut data terbaru Institut Statistik Nasional Spanyol, Ceuta hanya memiliki sekitar 83.000 penduduk.
Menteri Kebijakan Teritorial Spanyol, Ángel Víctor Torres, mengatakan pada Jumat bahwa salah satu faktor yang diduga memicu lonjakan tersebut adalah putusan Mahkamah Agung Spanyol pada 29 Juni yang menyatakan bahwa para migran yang dicegat di laut saat berusaha mencapai Ceuta atau Melilla tidak dapat langsung dipulangkan melalui prosedur khusus tanpa proses hukum.
Torres mengatakan kepada sebuah stasiun radio lokal bahwa pemerintah Spanyol telah merespons lonjakan tersebut dengan cepat dan pada akhirnya akan memulangkan para imigran itu.
Dalam unggahan di platform X pada 30 Juli, asosiasi kepolisian nasional Spanyol JUPOL menyatakan bahwa jumlah personel polisi yang ditempatkan di lapangan terlalu sedikit untuk mengendalikan lonjakan tersebut.
“Selama berhari-hari kami telah memperingatkan secara terbuka bahwa situasi di kota otonom itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi serta mengecam sama sekali tidak adanya langkah-langkah dari pemerintah. Hari ini, semua peringatan itu terbukti benar,” tulis JUPOL.
Asosiasi Guardia Civil Spanyol dalam serangkaian unggahan di X pada 31 Juli mengatakan bahwa kota itu kini berada di “ambang kehancuran.”
“Petugas Guardia Civil tidak mampu berbuat apa-apa,” tulis asosiasi itu.
“Mereka sekarang masuk secara massal…. Jumlah petugas Guardia Civil tidak cukup untuk menghentikan gelombang manusia itu.”
Semalam, di gerbang menuju Ceuta, otoritas Maroko mengerahkan truk meriam air untuk membubarkan kerumunan dan mendorong mereka kembali.
Di sekitar lokasi juga tampak bangkai hangus sebuah bus dan tujuh mobil akibat bentrokan dengan massa.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez tiba di Ceuta pada Jumat, menurut salah satu kantor berita Spanyol.
“Sánchez tiba di helipad Ceuta di tengah caci maki serta bentrokan antara para pengunjuk rasa dan polisi,” tulis Europa Press dalam unggahannya di X pada 31 Juli.
Pemerintahan Sosialis Spanyol di bawah Sánchez dikenal memiliki kebijakan yang mendukung imigran. Pada 14 April, pemerintah mengeluarkan dekret kerajaan yang memberikan status hukum kepada orang-orang yang tinggal secara ilegal di Spanyol.
Usulan tersebut pertama kali diajukan pada 27 Januari, yang memungkinkan sekitar 500.000 imigran ilegal yang telah tinggal dan bekerja di Spanyol memperoleh status hukum melalui proses yang dipercepat.
Hingga batas waktu pendaftaran pada 30 Juni, hampir 1,2 juta orang mengajukan permohonan, lebih dari dua kali lipat perkiraan awal pemerintah yang hanya sekitar 500.000 orang.
Sekretaris Jenderal partai konservatif Vox sekaligus anggota parlemen wilayah Catalonia, Ignacio Garriga, menyalahkan Sánchez secara langsung atas lonjakan tersebut.
“Ini adalah sebuah invasi dan Sánchez bertanggung jawab langsung atas hal ini,” tulisnya di X pada 31 Juli.
“Mari kita membangun tembok dan menyediakan sarana yang diperlukan agar Ceuta dan Melilla benar-benar menjadi perbatasan yang aman. Ini adalah kewajiban moral dan tanggung jawab institusional kepada rakyat Spanyol yang kini hidup dalam ketakutan, melihat usaha mereka tutup, dan khawatir akan keselamatan mereka.”
Reuters dan The Associated Press turut berkontribusi dalam penyusunan laporan ini.
Sumber : Theepochtimes.com





