Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Bilelando di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), membukukan pendapatan sekitar Rp133 juta dalam tiga setengah bulan operasional.
Pendapatan tersebut berasal dari sejumlah unit usaha, antara lain penyimpanan berpendingin, pabrik es, mobil berpendingin, bengkel nelayan, dan kios pemasaran hasil perikanan yang melayani 309 nelayan aktif.
“KNMP dirancang agar biaya operasional nelayan lebih efisien, kualitas hasil tangkapan terjaga, dan pendapatan mereka meningkat. Inilah bentuk nyata keberpihakan pemerintah kepada masyarakat pesisir,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Ia menyebut penyediaan fasilitas terintegrasi melalui KNMP ditujukan untuk menekan biaya operasional, menjaga mutu hasil tangkapan, dan meningkatkan pendapatan nelayan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menko Pangan bersama Menteri Kelautan dan Perikanan serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal meninjau KNMP Bilelando dan KNMP Ekas Buana di Kabupaten Lombok Timur.
Di NTB, tiga KNMP telah dibangun, masing-masing di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Sumbawa.
Menurut dia, KNMP tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi pesisir yang menghubungkan penanganan, penyimpanan, pengangkutan, dan pemasaran hasil perikanan.
Di KNMP Ekas Buana, pemerintah menyediakan fasilitas rantai dingin berupa penyimpanan berpendingin portabel, pabrik es, dan mobil berpendingin.
Kawasan tersebut didukung 277 nelayan aktif dengan produksi perikanan mencapai 761,75 ton per tahun serta diproyeksikan menghasilkan omzet sekitar Rp10,46 miliar per tahun dari enam unit usaha.
Zulhas menjelaskan fasilitas seperti penyimpanan berpendingin, pabrik es, bengkel, dan stasiun pengisian bahan bakar nelayan dapat membuat kegiatan melaut dan penanganan hasil tangkapan lebih efisien.
“Kemarin kita fokus meningkatkan kesejahteraan petani, sekarang saatnya memberi perhatian yang sama kepada nelayan,” katanya.
Nelayan Desa Ekas Buana Abdul Karim mengatakan keberadaan pabrik es dan penyimpanan berpendingin membantu mengurangi waktu serta biaya yang sebelumnya dikeluarkan untuk memperoleh es dari lokasi yang jauh.
“Sekarang sudah ada pabrik es di sini, ikan tetap segar, dan cold storage bisa dipakai menyimpan hasil tangkapan sebelum dijual sehingga kualitas dan harga ikan lebih baik,” ucap Abdul.
Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 KNMP hingga 2029, dengan 1.369 kawasan ditargetkan terbangun sampai akhir 2026.
Pemerintah mencatat sebanyak 65 lokasi di 25 provinsi telah selesai dibangun, sedangkan 35 lokasi lainnya ditargetkan rampung secara bertahap pada Agustus 2026.
Baca juga: Zulhas: KNMP wujud keberpihakan pemerintah terhadap nelayan
Baca juga: Menko Pangan: Program KNMP tingkatkan kesejahteraan nelayan
Pendapatan tersebut berasal dari sejumlah unit usaha, antara lain penyimpanan berpendingin, pabrik es, mobil berpendingin, bengkel nelayan, dan kios pemasaran hasil perikanan yang melayani 309 nelayan aktif.
“KNMP dirancang agar biaya operasional nelayan lebih efisien, kualitas hasil tangkapan terjaga, dan pendapatan mereka meningkat. Inilah bentuk nyata keberpihakan pemerintah kepada masyarakat pesisir,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Ia menyebut penyediaan fasilitas terintegrasi melalui KNMP ditujukan untuk menekan biaya operasional, menjaga mutu hasil tangkapan, dan meningkatkan pendapatan nelayan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menko Pangan bersama Menteri Kelautan dan Perikanan serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal meninjau KNMP Bilelando dan KNMP Ekas Buana di Kabupaten Lombok Timur.
Di NTB, tiga KNMP telah dibangun, masing-masing di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Sumbawa.
Menurut dia, KNMP tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi pesisir yang menghubungkan penanganan, penyimpanan, pengangkutan, dan pemasaran hasil perikanan.
Di KNMP Ekas Buana, pemerintah menyediakan fasilitas rantai dingin berupa penyimpanan berpendingin portabel, pabrik es, dan mobil berpendingin.
Kawasan tersebut didukung 277 nelayan aktif dengan produksi perikanan mencapai 761,75 ton per tahun serta diproyeksikan menghasilkan omzet sekitar Rp10,46 miliar per tahun dari enam unit usaha.
Zulhas menjelaskan fasilitas seperti penyimpanan berpendingin, pabrik es, bengkel, dan stasiun pengisian bahan bakar nelayan dapat membuat kegiatan melaut dan penanganan hasil tangkapan lebih efisien.
“Kemarin kita fokus meningkatkan kesejahteraan petani, sekarang saatnya memberi perhatian yang sama kepada nelayan,” katanya.
Nelayan Desa Ekas Buana Abdul Karim mengatakan keberadaan pabrik es dan penyimpanan berpendingin membantu mengurangi waktu serta biaya yang sebelumnya dikeluarkan untuk memperoleh es dari lokasi yang jauh.
“Sekarang sudah ada pabrik es di sini, ikan tetap segar, dan cold storage bisa dipakai menyimpan hasil tangkapan sebelum dijual sehingga kualitas dan harga ikan lebih baik,” ucap Abdul.
Pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 KNMP hingga 2029, dengan 1.369 kawasan ditargetkan terbangun sampai akhir 2026.
Pemerintah mencatat sebanyak 65 lokasi di 25 provinsi telah selesai dibangun, sedangkan 35 lokasi lainnya ditargetkan rampung secara bertahap pada Agustus 2026.
Baca juga: Zulhas: KNMP wujud keberpihakan pemerintah terhadap nelayan
Baca juga: Menko Pangan: Program KNMP tingkatkan kesejahteraan nelayan





