Sulsel Deflasi 0,18 Persen Juli 2026, Dipicu Turunnya Harga Pangan

celebesmedia.id
2 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar -  Sulawesi Selatan mencatat deflasi secara bulanan (m-to-m) sebesar 0,18 persen pada Juli 2026. 

Penurunan tingkat harga ini terutama dipicu oleh melemahnya harga sejumlah komoditas pangan seperti tomat, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, hingga telur ayam ras.

Meski secara bulanan terjadi deflasi, kondisi inflasi tahunan masih tetap terjaga. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat inflasi year on year (y-on-y) Sulawesi Selatan pada Juli 2026 mencapai 2,75 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,86. Sementara inflasi sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 2,36 persen.

Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, penurunan harga memberikan andil terbesar terhadap deflasi bulanan, yakni mencapai 0,37 persen. 

Komoditas yang paling berpengaruh adalah tomat, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, cabai merah, jagung manis, cumi-cumi, kacang panjang, dan bayam.

Deflasi 0,18 persen menunjukkan bahwa harga kebutuhan masyarakat secara umum pada Juli lebih rendah dibandingkan Juni 2026. Penurunan ini bukan berarti ekonomi melemah, melainkan lebih dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas pangan yang sebelumnya sempat tinggi.

Turunnya harga tomat, cabai, bawang merah, dan daging ayam mengindikasikan pasokan di pasar relatif lebih baik sehingga harga menjadi lebih terkendali. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi rumah tangga karena biaya belanja harian menjadi lebih ringan.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru masih mengalami kenaikan harga sehingga menahan laju deflasi lebih dalam. 

Kelompok transportasi menjadi salah satu penyumbang inflasi bulanan dengan andil 0,07 persen, didorong kenaikan harga bensin, sepeda motor, dan angkutan udara.

Kelompok pendidikan juga memberi andil inflasi sebesar 0,06 persen, terutama akibat penyesuaian biaya akademi atau perguruan tinggi, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar yang lazim terjadi menjelang tahun ajaran baru.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran, perumahan, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, rekreasi, hingga informasi dan komunikasi. Namun, peningkatan tersebut belum mampu mengimbangi penurunan harga komoditas pangan yang lebih dominan.

Secara tahunan, inflasi Sulawesi Selatan masih dipengaruhi kenaikan harga pada berbagai kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 9,78 persen, disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,42 persen serta transportasi 3,15 persen.

BPS juga mencatat perbedaan inflasi antarwilayah. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Luwu Timur sebesar 3,50 persen, sedangkan yang terendah terjadi di Kota Palopo sebesar 1,48 persen.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IBEM 2026 Dorong Industri Business Event Indonesia, Pemerintah Bidik Dampak Ekonomi dan Pariwisata Lebih Besar
• 2 jam laludisway.id
thumb
Korlantas Polri dan Jasa Marga Perkuat Kolaborasi Penanganan Kendaraan ODOL Jelang Penerapan Zero ODOL
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Pramusim: Liverpool kalah 2-4 dari Leeds United
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Get The Look: Ide Outfit Nonton Konser ala Maudy Ayunda, Simple Tapi On Point!
• 12 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pria di Surabaya Divonis 4 Bulan Penjara Usai Bobol Jok Motor dan Curi Uang 5 Ribu
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.