Beragam perankingan universitas tingkat dunia terus berkembang. Indonesia menjadi salah satu negara yang aktif mendorong perguruan tinggi mengikuti pemeringkatan perguruan tinggi berkelas dunia. Bahkan, Indonesia mengembangkan pengukuran perguruan tinggi global untuk mengukur komitmen keberlanjutan kampus di dunia.
Salah satu perankingan universitas yang menjadi rujukan perguruan tinggi Indonesia yakni Webometrics atau dikenal dengan Web Ranking of World Universities. Pemeringkatan Webometrics merupakan sistem pemeringkatan perguruan tinggi di seluruh dunia yang mengukur kualitas, kinerja, dan visibilitas institusi melalui website resmi.
Namun, ada unggahan melalui media sosial X dari akun @isidroaguillo atau Isidro F Aguillo pada Kamis (30/7/2026). Postingannya menyebutkan sejumlah nama universitas asal Indonesia dikeluarkan dari publikasi resmi Webometrics edisi Juli 2026.
Alasannya, nama-nama kampus yang disebutkan melakukan fabrikasi data pemeringkatan Webometric dari laman lain. Tindakan serupa juga diberikan kepada negara-negara lain, yang mempublikasikan pemeringkatan Webometrics bukan versi Isidro.
Webometrics didirikan pada tahun 2004 oleh Isidro F Aguillo dan Cybermetrics Lab, kelompok riset di bawah Dewan Riset Nasional Spanyol (the Spanish National Research Council (CSIC). Perguruan tinggi sejak tahun 2004 merujuk pengumuman secara gratis melalui laman www.webometrics.info. Pemeringkatan diumumkan dua dua kali dalam setahun yakni edisi Januari dan Juli.
Namun sejak tahun 2025, Isidro mengumumkan ada perubahan dalam Webometrics demi mendukung keterbukaan. Mengutip dari laman it.telkomuniversit.,ac.id, pada Januari 2026 hasil pemeringkatan Webometrics diumumkan dari figshare.com.
Di edisi Januari 2026, pemeringkatan Webometrics diikuti oleh lebih dari 32.000 lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia, termasuk perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta di Indonesia.
Pada edisi Januari dan Juli 2025, semua partisipan dapat mengakses secara terbuka hasil peringkat dunia maupun nasionalnya. Namun akses terbatas pada masing-masing capaian indikatornya.
Sejak edisi Januari 2026, akses terhadap hasil capaian pemeringkatan semakin terbatas (limited access). Hanya peringkat pertama dari masing-masing negara yang dapat melihat hasil capaiannya secara terbuka. Sedangkan, selain peringkat pertama dapat melihat hasilnya dengan cara melakukan pembelian secara resmi kepada Isidro F Aguillo.
Ada 28 perguruan tinggi negeri dan swasta yang disebutkan dalam unggahan akun X Isidro dikeluarkan dari pemeringkatan Webometrics, antara lain Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Universitas Terbuka, dan Universitas Islam negeri Alauddin Makassar.
Kepala Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Syaifudin, di Jakarta, pada Sabtu (1/8/2026), mengutarakan, pihaknya kaget dengan pengumuman bahwa UNJ termasuk yang dikeluarkan dari pemeringkatan webometrics yang diumumkan Isidro.
Untuk edisi Januari 2026, UNJ mendapatkan pemeringkatan dengan mengirim surat elektronik ke Isidro dan berbayar sekitar 200 Euro. “Pihak UNJ mengirim email ke Isidro dan dikirim pemeringkatan untuk edisi Januari 2026. Untuk mendapatkannya jadi berbayar. Kami mempublikasikan capaian UNJ di laman kami pada Maret 2026,” ujarnya.
Di laman resmi UNJ disebutkan, berdasarkan data resmi yang diterima UNJ pada 31 Maret 2026 melalui surat elektronik dari Isidro F Aguillo, Head of the Cybermetrics Laboratory (Scimago Group) pada Institute of Public Goods and Policies – Spanish National Research Council (IPP-CSIC).
Posisi Universitas Negeri Jakarta melesat signifikan pada pemeringkatan Webometrics Ranking of World Universities edisi Januari 2026. UNJ menempati posisi 2.148 dunia, meningkat tajam dari peringkat 3.858 pada edisi Juli 2024 hingga Januari 2025. UNJ berada di peringkat 32 nasional.
Kemudian ketika Webometrics edisi Juli 2026 diumumkan keluar, sejumlah berita online di Indonesia mengumumkan peringkat universitas di Indonesia dengan merujuk pada laman webometrics.org. Dikutip dari laman ini, versi Webometrics ini sebagai global web rankings for universities.
Namun ada disclaimer bahwa Webometrics.org merupakan platform pemeringkatan universitas secara independen yang tidak terafiliasi dengan Webometrics sebelumnya oleh CSIC. Peringkat di situs ini didasarkan pada data yang bersumber dari publik, indikator yang transparan, dan metodologi yang dikembangkan secara independen.
“Kami tidak memberi peringkat situs web, tetapi universitas. Kinerja web merupakan indikator dampak institusional di dunia nyata,” tulis tim di laman webometrics.org.
Ada total 3.695 perguruan tinggi asal Indonesia yang masuk dalam daftar di edisi Juli 2026. Termasuk UNJ di peringkat 893 duni atau peringkat 18 di Indonesia. “Kami tidak tahu kalau itu fake (palsu). Atau ini persoalan klaim mana yang benar antara Isidro dengan pihak webometrics.org.
” Dari berita berbagai media terkait publikasi ranking merujuk pada webometrics.org, kemudian kami mebuat berita. Namun setelah tayang berita di website UNJ, satu jam kemudian kami takedown atau hapus berita tersebut terkait info perseteruan soal Webometrics,” kata Syaifudin.
Menurut Syaifudin, dari kasus Webometrics tersebut, UNJ tidak fokus lagi untuk perankingan Webometrics. Untuk pemeringkatan ini, universitas tidak mendaftar, hanya menerima hasil pemeringkatan yang tadinya dipublikasikan secara gratis melalui laman Webometrics.info yang kini disebutkan tidak lagi merupakan bagian dari Webometrics Isidro.
Terkait pemeringkatan perguruan tinggi Indonesia di tingkat global, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menargetkan masuk dalam 500 perguruan tinggi terbaik dunia. Hal yang disasar yakni pemeringkatan QS World University Ranking, Times Higher Education (THE), dan THE Sustainability Impact Ratings.
Pada pertengahan tahun 2025, Indonesia mencatat lonjakan peringkat perguruan tinggi dalam QS World University Ranking sebesar 46 persen. Capaian ini menjadi titik tolak Kemendiktisaintek untuk memperkuat strategi transformasi pendidikan tinggi yang kolaboratif, inklusif, dan berdampak global.
Ketika itu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengingatkan agar upaya mengejar peringkat dunia tidak boleh mengorbankan integritas akademik.
Perguruan tinggi saat ini mengalami ‘fetisisme terhadap ranking’. Universitas dipaksa memprioritaskan alokasi anggaran untuk mengejar indikator-indikator tersebut dibandingkan mendanai riset-riset akar rumput yang dibutuhkan masyarakat lokal.
“ Harus kolaborasi dan blending antarkampus, sesama perguruan tinggi kita. Secair mungkin kerja samanya agar kita sama-sama maju ke depan. Mohon, ranking ini jangan sampai membuat kita jadi fraud. Kalau kita meneliti dengan serius, konsisten, dan sabar, hasilnya pasti baik,” ujarnya.
Dalam target mencapai universitas berkelas dunia, Universitas Indonesia (UI) satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang bisa masuk peringkat 200 besar. Berdasarkan QS Worl University Rankings 2026, UI di peringkat Top 189 dunia. Presiden Prabowo Subianto menargetkan UI bisa tembus di peringkat Top 100 dunia.
Universitas Indonesia pun mampu mengembangkan pemeringkatan kampus berkelanjutan dunia melalui UI GreenMetric sejak tahun 2010. Melalui sistem pemeringkatan berbasis data, UI GreenMetric kini telah menjaring 1.745 universitas dari 105 negara, menjadikannya salah satu jaringan keberlanjutan perguruan tinggi terbesar di dunia.
Terkait pemeringkatan Webometrics yang menimbulkan polemik bagi sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, Juneman Abraham, ahli psikologi korupsi yang menekuni kajian korupsi ilmu atau korupsi akademik mengatakan perdebatan otentisitas (asli versus palsu) antarlembaga pemeringkatan justru mengalihkan perhatian dari masalah struktural.
“Perguruan tinggi saat ini mengalami ‘fetisisme terhadap ranking’. Universitas dipaksa memprioritaskan alokasi anggaran untuk mengejar indikator-indikator tersebut dibandingkan mendanai riset-riset akar rumput yang dibutuhkan masyarakat lokal,” ungkapnya.
Juneman mengatakan, faktanya lembaga pemeringkatan swasta global pada dasarnya adalah entitas bisnis komersial. Strategi pertumbuhan bisnis mereka bertumpu pada penciptaan arena kompetisi baru secara terus-menerus dan pengkomoditasan jasa konsultansi pendukung.
“Kelemahan atau ketakutan kampus akan penurunan peringkat dimanfaatkan agensi untuk menjual paket solusi. Monetisasi ini mencakup beberapa lini bisnis utama, seperti audit dan rating berbayar, kemitraan acara (seperti konferensi tingkat tinggi) dan promosi bersponsor, sampai dengan layanan konsultansi dan analisis data,” kata Juneman.
Salah satu jalan keluarnya yakni pemerintah perlu merevisi Keputusan Menteri terkait indikator kinerja utama perguruan tinggi dengan menghapus target eksplisit yang mengikat kinerja universitas pada posisi pemeringkatan. Dana padanan (matching fund) atau insentif perguruan tinggi tak boleh lagi berdasarkan lonjakan peringkat di lembaga pemeringkat komersial.
“Lebih baik fokus pada dampak nyata riset terhadap penyelesaian masalah nasional, kedaulatan pangan, energi, kesehatan, dan inklusivitas akses pendidikan,” tegas Juneman.





