Pantau - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 140,81 miliar dolar AS atau naik 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara neraca perdagangan tetap mencatat surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS.
Ekspor Tumbuh Ditopang Industri PengolahanDeputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan nilai ekspor pada semester pertama 2026 terutama didorong oleh sektor industri pengolahan.
“Sepanjang periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 140,81 miliar dolar AS atau meningkat 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 (year-on-year/yoy),” ungkap Ateng.
Ia menjelaskan andil terbesar terhadap peningkatan ekspor berasal dari sektor industri pengolahan yang tumbuh sebesar 6,18 persen.
Ateng menambahkan komoditas nonmigas unggulan yang mengalami peningkatan meliputi minyak sawit mentah (CPO) beserta turunannya dengan pangsa 9,12 persen serta batu bara dengan pangsa 8,95 persen.
China masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia dengan pangsa 25,58 persen atau senilai 34,56 miliar dolar AS.
Produk unggulan yang diekspor ke China meliputi besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.
Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar kedua dengan pangsa 11,76 persen atau senilai 15,82 miliar dolar AS.
Produk utama yang diekspor ke Amerika Serikat antara lain mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya.
India menempati posisi ketiga dengan pangsa 6,87 persen atau senilai 9,25 miliar dolar AS yang didominasi ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya.
Impor Naik, Surplus Perdagangan Tetap TerjagaBPS mencatat nilai impor Indonesia selama Januari-Juni 2026 mencapai 137,24 miliar dolar AS atau meningkat 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Andil utama peningkatan nilai impor tersebut disumbang oleh impor bahan baku/penolong sebesar 13,15 persen,” kata Ateng.
Dengan capaian tersebut, neraca perdagangan barang Indonesia selama Januari-Juni 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS.
Namun, pada Juni 2026 neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 450 juta dolar AS setelah nilai ekspor tercatat 25,46 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 25,91 miliar dolar AS.




