HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang menekan dunia usaha dengan meningkatnya biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat, Indonesia justru memiliki peluang besar untuk tumbuh melalui bonus demografi yang didominasi oleh generasi muda. Namun, peluang ini hanya dapat diwujudkan jika kualitas sumber daya manusia terus ditingkatkan melalui penguasaan keterampilan masa depan dan pengembangan jiwa kewirausahaan yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar mencari pekerjaan.
Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menggelar kuliah umum bertajuk “Membangun generasi Entrepreneur dan Pencipta Lapangan Kerja di Tengah Ketidakpastian Global” pada Senin, 3 Agustus 2026, di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat Kampus Unhas Tamalanrea. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum APINDO, Shinta Widjaja Kamdani, sebagai narasumber utama.
Shinta menegaskan bahwa tantangan global seperti perlambatan investasi dan perubahan teknologi menuntut generasi muda untuk memahami dampak ekonomi yang sedang berlangsung. “Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi oleh kualitas manusianya. Karena itu, kita harus membangun generasi yang memiliki keterampilan masa depan, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta memiliki keberanian menjadi entrepreneur dan pencipta lapangan kerja,” jelas Shinta.
Sebelumnya, Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., dalam sambutan pembukaannya, menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi harus lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia usaha. Ia menegaskan, “Masifnya perkembangan AI, transisi menuju green economy, dan perang talenta merupakan tiga mega-tren yang sedang membentuk masa depan. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi dan kewirausahaan.”
Prof. JJ juga menambahkan bahwa hasil riset perguruan tinggi harus dihilirisasi menjadi teknologi, produk, atau model bisnis yang memberikan nilai tambah bagi industri dan manfaat nyata bagi masyarakat. Untuk itu, Unhas memperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan bisnis kampus, hilirisasi riset, dan kolaborasi dengan dunia usaha agar semakin banyak lahir job creator dari lingkungan akademik.
Shinta Widjaja Kamdani memaparkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), akan mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Oleh sebab itu, generasi muda harus membekali diri dengan keterampilan masa depan melalui upskilling dan reskilling, serta mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, adaptasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah agar tetap relevan di tengah transformasi industri.
Lebih lanjut, Shinta memandang kewirausahaan sebagai solusi strategis untuk menghadapi tantangan tersebut. “Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi membutuhkan ekosistem kolaborasi yang mampu mengubah talenta menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan dukungan berupa akses pembiayaan, penguatan kapasitas, regulasi yang kondusif, serta kolaborasi lintas sektor agar potensi generasi muda dapat berkembang secara optimal.
Gagasan yang muncul dalam forum ini sekaligus mempertegas komitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi masa depan, SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja, serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat.
Kolaborasi antara Unhas dan APINDO menjadi langkah strategis untuk mempersempit kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Prof. JJ menjelaskan bahwa sinergi ini memungkinkan riset menjadi lebih aplikatif, membuka ruang pembelajaran berbasis pengalaman, dan memperluas peluang mahasiswa membangun kompetensi yang relevan dengan dinamika ekonomi global. (*)





