Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta memperkuat strategi pencegahan dan penanganan dini bencana kebakaran di tingkat tapak.
Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengalokasikan serta mendistribusikan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) secara bertahap ke permukiman warga, khususnya yang rawan kebakaran.
Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara mengungkapkan, hingga saat ini cakupan pendistribusian APAR telah menembus sekitar 19 ribu unit di tingkat RT. Pengadaan ini terus masuk dalam skema penganggaran berkala Pemprov DKI Jakarta guna menjangkau kawasan-kawasan yang tergolong rawan.
"Kami terus ya, jadi setiap tahun pasti kami akan berupaya dan sudah teranggarkan juga untuk penambahan APAR yang di level RT. Tentu ini terkait dengan sebuah prioritas. Wilayah mana dari sisi manajemen kebakaran yang paling perlu segera diintervensi," ujar Bayu saat memberikan keterangan di Jakarta.
Bayu menekankan, penyediaan APAR di tingkat RT bukan sekadar pemenuhan fasilitas pendukung, melainkan instrumen vital dalam mitigasi bencana di lingkungan padat penduduk. Keberadaan APAR memungkinkan warga melakukan tindakan awal penanganan sebelum kobar api meluas.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dasar operasional penyelamatan yang diusung Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, yaitu memadamkan potensi bahaya sejak ukurannya masih sangat kecil.
"Penting sekali untuk mitigasi ya. Karena buat kami prinsipnya, api yang kecil itu mudah dipadamkan. Kalau yang sudah besar, memang kamilah yang mesti memadamkan itu," jelas Bayu.
Di sela-sela pemaparan terkait kesiapsiagaan operasional dan fasilitas penanganan warga tersebut, Bayu turut memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan spekulasi publik mengenai gugurnya almarhum Andriyono, anggota Damkar Jaktim yang gugur saat memadamkan api di TPS liar.
Bayu menegaskan, almarhum memiliki riwayat medis penyakit jantung dan telah menjalani tindakan penanganan medis berupa pemasangan ring. Atas pertimbangan kondisi kesehatan tersebut, Dinas Gulkarmat DKI melakukan penyesuaian dan mitigasi penugasan secara terukur sesuai prosedur internal.
"Dia merasakannya di Desember tahun 2025 dan Februari 2026 itu pasang ring ya. Makanya penugasannya adalah kami tugaskan untuk memonitor terkait dengan sumber air. Jadi kami enggak tugaskan dia untuk di situasi penyerangan," ungkap Bayu.
Sebagai seorang Komandan Regu (Danru), almarhum Andriyono ditugaskan untuk mengawal dan memastikan kecukupan pasokan air dari unit kendaraan utama (heavy unit). Penugasan ini menempatkan almarhum di posisi yang aman dan dekat dengan armada, jauh dari titik paparan asap maupun kobar api langsung.
"Jadi tidak langsung berperang berhadapan menghadapi situasi kebakarannya, hanya monitor dekat dengan unitnya. Sumber air kan kami sedot melalui unit. Karena bagaimana pun sumber air menjadi pasokan utama kami," terangnya.
Bayu memastikan evaluasi serta pemetaan kondisi fisik dan kesehatan seluruh personel akan terus diperketat. Langkah ini dilakukan agar seluruh jajaran petugas di lapangan dapat menjalankan tugas pelayanan publik secara aman, terukur, dan optimal.





