Posisi Indonesia tersingkir sebagai salah satu produsen kakao terbesar dunia. Setelah sempat menempati peringkat ketiga pada 2021, Indonesia kini turun ke posisi ketujuh berdasarkan data International Cocoa Organization (ICCO) 2025. Penyebab utama penurunan produktivitas antara lain tanaman yang menua, serangan hama, lambatnya regenerasi petani, hingga perubahan iklim.
Di tengah situasi ini, lebih dari 600 petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali, dilaporkan berhasil meningkatkan kesejahteraan melalui budidaya kakao berkelanjutan. Petani yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) ini ini juga "naik kelas" dengan tidak lagi sekadar menjual biji kakao curah, tetapi mengolahnya menjadi kakao fermentasi premium untuk dipasok ke industri cokelat berkualitas tinggi.
Petani Jembrana menerapkan sistem agroforestri dengan menanam kakao bersama pohon naungan seperti pisang, kelapa, manggis, durian, dan alpukat. Pola tanam ini menjaga kelembapan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, sekaligus membantu tanaman lebih tahan menghadapi cuaca ekstrem.
Direktur Yayasan Kalimajari Agung Widiastuti mengatakan pendampingan terhadap petani kakao di Jembrana telah dilakukan sejak 2011 melalui Program Kakao Lestari. Program ini berfokus meningkatkan produktivitas, kualitas kakao fermentasi, serta memperkuat kelembagaan koperasi agar mampu menembus pasar ekspor.
"Pendampingan ini mampu mengantarkan Koperasi KSS memasok kakao ke pasar global, salah satunya perusahaan cokelat premium Valrhona, dengan pengiriman perdana pada 2015," kata Agung dikutip dari keterangan tertulis, Senin (3/8).
Model tersebut kemudian direplikasi melalui program TRAKSI bersama Rainforest Alliance, Rikolto, Pemerintah Kabupaten Jembrana, dan Valrhona ke enam koperasi lain di Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.
Selain mendampingi budidaya, koperasi memberikan pelatihan pertanian cerdas iklim, pembibitan berbasis masyarakat, pengolahan kakao, literasi keuangan, hingga membuka akses pasar.
Rainforest Alliance mencatat Indonesia saat ini merupakan produsen kakao bersertifikat terbesar di kawasan Asia Pasifik. Produksi kakao bersertifikat mencapai sekitar 41.400 ton dari 63.300 hektare lahan yang melibatkan sekitar 56.000 petani dan 60.000 kebun di berbagai daerah.
Managing Director Asia Pacific Rainforest Alliance Chandra Panjiwibowo mengatakan praktik pertanian regeneratif menjadi salah satu strategi untuk menjaga produktivitas kakao di tengah meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim dan degradasi lahan.
"Keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon. Pertanian regeneratif dapat menjawab tekanan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang menurunkan hasil panen maupun kualitas kakao," kata dia.
Pemerintah Kabupaten Jembrana telah menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao.
Pemerintah daerah memberikan dukungan berupa pinjaman Rp1,5 miliar kepada KSS untuk pengadaan benih, penyediaan bibit unggul, pengembangan fasilitas pengolahan kakao, hingga percepatan pendaftaran indikasi geografis Kakao Jembrana.




