REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kualitas broadband di Indonesia saat ini berada di peringkat sembilan dari sepuluh negara ASEAN. Indonesia hanya berada di atas Myanmar serta berada di bawah Malaysia dan Vietnam. Di sisi lain, lebih 2.000 desa yang berstatus blankspot atau tidak terakses jaringan telekomunikasi. Kondisi tersebut menyebabkan daya saing Indonesia menjadi lebih rendah daripada negara-negara lain.
Sayangnya, pembangunan infrastruktur telekomunikasi di berbagai wilayah masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari belum optimalnya pemanfaatan bersama infrastruktur pasif yang menyebabkan duplikasi pembangunan jaringan, rendahnya tingkat utilisasi infrastruktur yang diperkirakan baru mencapai sekitar 20-40 persen, hingga tingginya biaya investasi pembangunan jaringan.
Baca Juga
TRIV Perluas Ekosistem Bisnis dan Literasi Aset Digital
Menko Polkam Minta Pemda Terdepan Tangkal Hoaks di Ruang Digital
Kampanye Politik di Era Digital: Ketika Algoritma Menentukan Arah Demokrasi
Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), M Hilman Fikrianto menyatakan, pemerataan konektivitas digital masih menjadi tantangan dalam mendukung transformasi digital nasional. Dia menyebut, pengembangan gigabit city bukan sekadar menghadirkan jaringan internet berkecepatan tinggi, tetapi membangun fondasi bagi ekosistem digital nasional.
"Gigabit city menjadi pilar strategis untuk mendukung adopsi Internet of Things (IoT), artificial intelligence (AI), cloud computing, big data, percepatan digitalisasi layanan publik, serta pengembangan smart city yang terintegrasi," ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Senin (3/8/2026).