Gus Ipul Tinjau Taruna Bhakti Nusantara di SRT 1 Gresik, Pembinaan Disiplin Siswa Dimulai Bersamaan dengan MPLS

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meninjau seluruh personel Taruna Bhakti Nusantara beserta para pendamping yang telah berada di lokasi penugasan masing-masing saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Siswa (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Gresik, Senin (3/8/2026), sekaligus memastikan pembinaan karakter bagi siswa berjalan sejak awal tahun ajaran.

Gus Ipul menyampaikan rasa syukur karena lebih dari seribu personel Taruna Bhakti Nusantara yang berasal dari unsur TNI dan Polri telah resmi mulai bertugas di Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Ia mengungkapkan, "Kami bersyukur semua sudah berada di tempat masing-masing. Insya Allah nanti di sini akan membimbing, memberikan keteladanan untuk siswa-siswa Sekolah Rakyat dalam rangka penguatan kedisiplinan dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler."

Para personel bertugas mendampingi kehidupan berasrama para siswa melalui pembinaan disiplin, kepemimpinan, serta membimbing berbagai kegiatan ekstrakurikuler selama pelaksanaan MPLS.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Restu Novi Widiani, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gresik Ummi Khoiroh, Kepala SRT 1 Gresik Rangga Pratama Wahyudiarta, puluhan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta ratusan siswa SRT 1 Gresik.

Pembinaan Berfokus pada Disiplin dan Kemandirian

Gus Ipul menegaskan pembinaan Taruna Bhakti Nusantara tidak berorientasi pada pelatihan militer, melainkan membentuk kebiasaan hidup yang tertib dan mandiri.

Para taruna mendampingi siswa dalam kegiatan kepramukaan, latihan baris-berbaris, menata tempat tidur, merawat barang pribadi, hingga membangun disiplin dalam menjalani aktivitas belajar sehari-hari di lingkungan asrama.

Menurut Gus Ipul, pelaksanaan MPLS di seluruh Sekolah Rakyat berjalan dengan baik meski guru, tenaga kependidikan, dan siswa masih beradaptasi dengan sistem pendidikan berasrama.

Ia mengatakan, "Guru-gurunya beradaptasi, kemudian juga anak-anaknya beradaptasi. Dengan gedung permanen yang mungkin belum 100 persen, kita tahu fasilitasnya cukup lengkap dan diharapkan benar-benar mendukung proses pembelajaran yang berkualitas."

Gus Ipul menambahkan sebagian gedung sekolah masih dalam tahap penyempurnaan, namun fasilitas yang tersedia dinilai cukup lengkap untuk mendukung proses pembelajaran.

Seleksi Siswa Berbasis DTSEN

Gus Ipul menegaskan siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, dengan proses penerimaan yang dilakukan melalui penjangkauan berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), bukan berdasarkan kemampuan akademik.

Sebagian siswa merupakan anak yang pernah putus sekolah, sedangkan sebagian lainnya belum pernah mengikuti pendidikan formal.

Ia menjelaskan, "Ketika masuk ke sini dilakukan penjangkauan berbasis DTSEN. Setelah itu dimutakhirkan oleh para pendamping, dicek lapangan bersama dinas sosial, dilakukan dialog dengan orang tua. Kalau setuju, diteruskan kepada bupati untuk ditetapkan dan diusulkan kepada Kemensos, proses terakhir kita tetapkan sebagai siswa Sekolah Rakyat."

Tahapan tersebut dimulai dari pemutakhiran data oleh pendamping, pengecekan lapangan bersama dinas sosial, dialog dengan orang tua, penetapan oleh bupati, hingga pengesahan sebagai siswa Sekolah Rakyat oleh Kementerian Sosial.

Taruna dan Siswa Rasakan Dampak Positif

Salah satu personel Taruna Bhakti Nusantara di SRT 1 Gresik, Letda Laut Bagus, mengaku bangga mendapat kesempatan mendampingi para siswa.

Ia mengatakan, "Ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kami dapat ditugaskan memberikan sedikit kepada adik-adik kami yang nantinya menjadi generasi penerus kami."

Bagus menjelaskan rutinitas kehidupan berasrama membentuk disiplin, tanggung jawab, serta memperkuat rasa kekeluargaan antarsiswa.

Ia mengungkapkan, "Jadi yang saya harapkan adik-adik jangan pernah bosan dan jangan pernah merasa sendiri. Di dalam satu asrama kita adalah satu keluarga. Semua saling memiliki dan saling merangkul."

Perubahan positif juga dirasakan Arka Nanta Juanito Bolu yang telah menempuh pendidikan selama satu tahun di Sekolah Rakyat.

Arka merupakan putra Julius Bolu yang bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan tidak menentu dan Ota Yuliana.

Arka mengaku lebih disiplin setelah tinggal di asrama serta dipercaya memimpin apel kudapan siang yang dihadiri ratusan siswa dan disaksikan Gus Ipul serta Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani.

Ia mengatakan, "Di rumah saya tidak bisa disiplin. Masuk Sekolah Rakyat jadi bisa disiplin."

Arka yang bercita-cita menjadi prajurit TNI juga merasakan kuatnya toleransi di lingkungan sekolah.

Ia mengungkapkan, "(Bapak Kepsek) baik di mana Pak Kepsek bisa mengantarkan yang non-Muslim ke gereja (untuk ibadah)."

Dalam kunjungan tersebut Gus Ipul berdialog dengan para siswa, mengajak mereka mengikuti kuis pengetahuan kebangsaan, bernyanyi, dan melantunkan salawat bersama.

Gus Ipul juga menyaksikan penampilan baris-berbaris siswa baru dan siswa lama yang dibimbing Taruna Bhakti Nusantara dengan hasil yang kompak, disiplin, dan penuh semangat.

SRT 1 Gresik berdiri di atas lahan seluas 6,5 hektare dengan kapasitas 405 siswa yang terdiri atas 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 225 siswa SMA, termasuk siswa reguler, siswa titipan dari Kabupaten Lamongan, serta siswa asal SRMA 37 Gresik.

Secara nasional jumlah siswa Sekolah Rakyat telah mencapai lebih dari 43 ribu orang yang terdiri atas lebih dari 28 ribu siswa baru dan lebih dari 15 ribu siswa lama, dengan proyeksi melampaui 45 ribu siswa pada tahun ini dan lebih dari 100 ribu siswa pada tahun depan apabila pembangunan gedung selesai sesuai target.

Gus Ipul mengatakan, "Insya Allah kita alokasikan tahun ini siswa lama dan siswa baru diperkirakan nanti lebih dari 45 ribu siswa. Tahun depan, kalau target pembangunan gedung-gedung selesai, itu lebih dari 100 ribu (siswa)."

Menurut Gus Ipul, Presiden Prabowo menargetkan setiap kabupaten dan kota memiliki gedung Sekolah Rakyat yang mampu menampung sekitar 1.500 hingga 2.000 siswa mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.031, Berpeluang Menguat usai Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Terdampak Kekeringan, Ratusan Warga di Dompu NTB Terima Bantuan Gerakan Air Bersih
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Simpan Sabu-sabu dalam Korek Api, Polisi Tangkap Pemuda di Toraja Utara
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Polda Jatim Kerahkan Dua Helikopter untuk Cari Korban Hilang KMP Mutiara Sentosa 2
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemilik Jaringan Mal Lippo dan Pakuwon Sepakat Bongkar Pagar Tinggi
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.