Heboh Content Creator Rekam Usher di GIIAS Tanpa Izin

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Konten seorang influencer, Emanuel Bryan atau Bryan Ebem, yang merekam usher di ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 tanpa persetujuan menuai polemik di media sosial.

Konten yang awalnya dibuat dengan konsep "cara deketin cewek di pameran" itu diprotes karena dinilai melanggar privasi pekerja yang sedang bertugas.

Setelah menuai kritik luas, Bryan menghapus seluruh konten terkait GIIAS dan menyampaikan permintaan maaf. Sementara itu, Ketua Komisi III DPR Habiburokhman menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum.

Berawal dari Protes Salah Satu Usher

Kasus ini mencuat setelah salah seorang usher menceritakan pengalamannya melalui media sosial Threads. Ia mengaku keberatan karena direkam dan videonya diunggah tanpa persetujuan.

Dalam video tersebut, Bryan mendatangi sejumlah usher dan mengajukan pertanyaan, mulai dari informasi mengenai mobil yang dipamerkan hingga pertanyaan pribadi seperti nama, usia, dan pendidikan.

Korban kemudian meminta agar video tersebut dihapus. Namun, menurut pengakuannya, permintaan itu sempat ditolak.

Korban menyebut Bryan beralasan perekaman dilakukan di ruang publik. Bahkan, korban mengaku diminta mengganti biaya produksi apabila ingin video tersebut diturunkan.

Unggahan korban kemudian viral dan memicu kritik dari warganet yang meminta seluruh konten tersebut dihapus.

Bryan Ebem Minta Maaf dan Hapus Konten

Di tengah polemik yang berkembang, Bryan akhirnya mengunggah video klarifikasi dan permintaan maaf melalui akun media sosialnya.

Ia mengakui terdapat ucapan yang tidak pantas saat merespons permintaan korban.

"Saya seharusnya memang tidak mengatakan soal biaya produksi ataupun kata-kata lain yang saya sampaikan di komentar."

Bryan juga meminta maaf kepada seluruh pihak yang merasa dirugikan.

"Saya ingin minta maaf atas semua kesalahan yang timbul dari kelakuan saya. Saya tidak membenarkan, saya hanya meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan."

Menurut Bryan, konten tersebut awalnya dibuat untuk mengajak orang lebih berani berinteraksi dengan orang lain.

"Niatnya saya tidak ada niat negatif apa pun, hanya untuk menginspirasi."

Meski demikian, ia mengakui kesalahannya dan berjanji lebih berhati-hati dalam membuat konten.

"Ke depannya saya akan lebih hati-hati lagi dalam mem-posting video konten yang saya buat."

Hingga kini, seluruh konten terkait GIIAS telah dihapus dari akun media sosial Bryan. Sementara itu, kumparan telah berupaya menghubungi Bryan untuk meminta tanggapan lebih lanjut, namun belum memperoleh respons.

Habiburokhman: Berpotensi Melanggar Hukum

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman menilai tindakan merekam seseorang tanpa izin lalu menyebarluaskannya demi konten media sosial merupakan perbuatan yang tidak hanya melanggar etika, tetapi juga berpotensi melanggar hukum.

"Mengenai kasus perekaman SPG di GIIAS tanpa izin demi konten media sosial, kami perlu menyampaikan bahwa tindakan merekam seseorang secara diam-diam atau candid tanpa izin, apalagi dijadikan materi konten cara mendekati cewek untuk kepentingan komersial atau popularitas di media sosial adalah perbuatan yang tidak beretika dan melanggar hukum," ujarnya.

Ia menegaskan ruang publik, termasuk pameran otomotif, harus tetap menjadi tempat yang aman bagi para pekerja.

"Ruang publik termasuk pameran otomotif seperti GIIAS harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapa saja, termasuk para pekerja perempuan yang sedang menjalankan tugasnya secara profesional."

Habiburokhman menyebut korban dapat menempuh jalur hukum menggunakan sejumlah ketentuan, mulai dari Undang-Undang Hak Cipta, Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), hingga Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Ia juga mendorong korban membuat laporan ke kepolisian.

"Saya mendorong kepada korban untuk menggunakan haknya membuat laporan resmi ke Polres terdekat... Kami, Komisi III DPR RI, akan mengawal kasus ini agar berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku."

Instagram Perketat Konten Serupa

Di tengah polemik tersebut, Instagram juga mengumumkan kebijakan baru terkait video yang merekam orang lain tanpa persetujuan, terutama yang dibuat menggunakan kacamata pintar Meta.

Kepala Instagram Adam Mosseri menegaskan platform akan menghapus konten yang memanfaatkan atau melecehkan orang lain demi konten viral.

"Jika Anda mengunggah konten yang memanfaatkan orang lain dan melecehkan mereka... maka kami akan menghapus konten tersebut."

Ia menambahkan Instagram tidak ingin platformnya menjadi tempat penyebaran video yang merekam orang secara diam-diam lalu mengunggahnya tanpa persetujuan.

"Kami tidak ingin orang-orang merekam orang lain secara diam-diam, melecehkan mereka, lalu mengunggahnya di platform kami."


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Reaksi Publik Vietnam Setelah Menang 3-0 atas Timnas Indonesia, Heboh Pamer Badge Emas Juara Bertahan
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Dulu Alfred Riedl Hajar Vietnam dengan 1 Lilipaly, Kini Sudah 10 Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Malah Dibantai
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
IHSG Naik Lagi, Simak Proyeksi Pergerakan Saham dan Sentimen Pasar Hari Ini
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Kepuasan terhadap Prabowo Menurun, Efriza: Publik Menunggu Perbaikan Ekonomi
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Prabowo: Rute penerbangan baru pererat hubungan masyarakat RI-Thailand
• 14 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.