Jokowi dan Teka-Teki "Silent Majority"

kompas.com
15 jam lalu
Cover Berita

TIDAK semua kemenangan politik lahir dari suara yang paling nyaring.

Demokrasi justru berkali-kali menunjukkan paradoksnya sendiri: mereka yang mendominasi ruang percakapan belum tentu menguasai bilik suara.

Di antara riuh perdebatan, selalu ada kelompok warga yang memilih tidak memperlihatkan sikap politiknya.

Mereka tidak gemar berdebat di media sosial, tidak hadir dalam panggung-panggung politik, bahkan sering kali luput dari perhatian para pengamat.

Namun, ketika hari pemungutan suara tiba, pilihan merekalah yang acap menentukan arah perjalanan sebuah bangsa.

Kelompok inilah yang dalam literatur ilmu politik dikenal sebagai silent majority.

Istilah yang dipopulerkan Richard Nixon pada akhir 1960-an itu kemudian berkembang menjadi konsep untuk menjelaskan perilaku pemilih tidak ekspresif di ruang publik, tetapi tetap aktif menggunakan hak politiknya.

Mereka bukan apatis. Mereka juga bukan golongan putih. Mereka hanya memilih menyimpan preferensi politik sebagai keputusan pribadi, bukan sebagai identitas harus dipertontonkan.

Dalam demokrasi modern, keberadaan kelompok seperti itu semakin penting.

Perkembangan teknologi informasi telah memperluas ruang partisipasi warga negara, tetapi sekaligus melahirkan ilusi baru.

Percakapan paling ramai sering dianggap sebagai suara mayoritas, padahal media sosial lebih banyak merekam mereka paling aktif berbicara daripada mereka paling banyak jumlahnya.

Algoritma bekerja berdasarkan intensitas interaksi, bukan berdasarkan proporsi dukungan. Akibatnya, kebisingan digital kerap disalahartikan sebagai kehendak publik.

Indonesia tidak berada di luar fenomena tersebut. Sejak media sosial menjadi bagian penting dari komunikasi politik, muncul kecenderungan menilai kekuatan seorang tokoh dari ramainya perbincangan di dunia maya.

Baca juga: Ketika Marwah Adat Dipinjam Kekuasaan

Padahal, pengalaman beberapa pemilu menunjukkan, hasil akhir tidak selalu mengikuti arah percakapan digital.

Ada jarak antara opini yang tampak dan pilihan sesungguhnya. Di dalam ruang itulah konsep silent majority memperoleh relevansinya.

Nama Joko Widodo hampir selalu hadir dalam pembahasan mengenai fenomena tersebut.

Sejak memenangkan Pemilu Presiden 2014, kemudian memperoleh mandat kedua pada 2019, hingga setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden, berbagai analisis politik terus menghubungkan dirinya dengan keberadaan pemilih yang tidak banyak bersuara.

Ketika kritik terhadap pemerintah memenuhi ruang publik, tingkat kepuasan terhadap pemerintahannya dalam berbagai survei tetap relatif tinggi.

Ketika media sosial tampak dipenuhi perdebatan yang keras, hasil pemilu justru menunjukkan dukungan yang berbeda dari kesan yang berkembang.

Apakah itu berarti Jokowi memiliki silent majority? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Dalam perspektif akademik, tidak ada instrumen yang mampu mengidentifikasi secara langsung siapa anggota silent majority.

Mereka tidak memiliki organisasi, tidak mendeklarasikan diri sebagai sebuah kelompok, dan tidak dapat dihitung sebagaimana kategori demografis lainnya.

Keberadaan mereka hanya dapat diperkirakan melalui pembacaan terhadap perilaku pemilih, hasil survei, serta perbandingan antara dinamika opini publik dengan hasil elektoral.

Dengan kata lain, silent majority merupakan sebuah konstruksi analitis yang membantu menjelaskan gejala politik, bukan fakta statistik yang dapat diverifikasi satu per satu.

Karena itu, menghubungkan Jokowi dengan silent majority lebih tepat dipahami sebagai hipotesis yang lahir dari serangkaian indikator empiris daripada sebagai kesimpulan telah selesai.

Hipotesis itu memperoleh perhatian karena terdapat pola yang berulang: persepsi yang berkembang di ruang publik tidak selalu sejalan dengan hasil survei maupun pilihan politik masyarakat.

Pola tersebut memunculkan dugaan, terdapat lapisan pemilih yang bekerja di luar radar percakapan digital.

Pembacaan semacam ini sekaligus mengingatkan bahwa demokrasi tidak dapat dipahami hanya melalui apa yang tampak di permukaan.

Politik memang menghasilkan simbol, slogan, dan perdebatan mudah disaksikan.

Akan tetapi, keputusan politik warga sering kali lahir dari pengalaman yang jauh lebih personal: keadaan ekonomi keluarga, kualitas pelayanan publik, rasa aman, akses pendidikan, kesempatan kerja, hingga keyakinan pemerintah mampu menghadirkan stabilitas.

Pertimbangan-pertimbangan seperti itu tidak selalu diunggah ke media sosial, tetapi dapat menentukan pilihan ketika berada di balik bilik suara.

Baca juga: Pagar yang Memisahkan Pemerintah dan Publik

Di sinilah letak daya tarik sekaligus teka-teki silent majority.

Ia mengajarkan, demokrasi memiliki lapisan tidak selalu terlihat. Di balik riuh perdebatan, terdapat kesenyapan yang bekerja dengan caranya sendiri.

Kesenyapan itu tidak identik dengan ketidakpedulian, melainkan bentuk lain dari partisipasi politik memilih berbicara melalui surat suara, bukan melalui sorotan publik.

Apabila demikian, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi apakah silent majority benar-benar ada.

Pertanyaan lebih menarik adalah mengapa nama Jokowi berulang kali muncul setiap kali konsep itu dibahas.

Untuk menjawabnya, kita perlu melangkah dari wilayah teori menuju kenyataan politik Indonesia yang memperlihatkan hubungan tidak selalu sederhana antara persepsi publik, hasil survei, dan perilaku pemilih.

Resonansi 

Mengapa nama Jokowi hampir selalu muncul ketika silent majority dibicarakan?

Jawabannya tidak terletak pada slogan politik, melainkan pada pola yang berulang dalam perjalanan elektoral Indonesia.

Sejak 2014 hingga berakhirnya masa jabatan presiden pada 2024, terdapat satu gejala yang terus menarik perhatian para pengamat: peta percakapan politik sering kali tidak identik dengan peta dukungan politik.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Fenomena itu tampak jelas dalam dua pemilihan presiden yang dimenangkan Jokowi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Eksotis bahari Maratua, warisan laut bagi Nusantara 
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
TNI tembus medan ekstrem selama 12 hari antarkan bantuan ke Puncak
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
62 Penumpang KM Mutiara Sentosa 2 Tiba di Tanjung Perak, Diiringi Tangis Haru
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Humaniora kemarin, status keracunan MBG hingga 1 tahun Sekolah Rakyat
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Papua Bukan Tempat Mutasi Buangan
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.