Pemerintah Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Teheran meminta penghentian serangan dan membuka jalur negosiasi. Media-media pemerintah Iran juga menegaskan tidak ada perubahan sikap terkait Selat Hormuz maupun permintaan agar AS membatalkan rencana serangan.
Dikutip dari CNN, Minggu (2/8/2026), sejumlah media pemerintah Iran justru menyebut Trump yang mundur dari ancaman militernya. Mereka menilai klaim Presiden AS tersebut tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
"Trump si bodoh sudah kehabisan tenaga," demikian laporan FARS News Agency.
Media KayhanOnline yang dikelola kantor Pemimpin Tertinggi Iran juga menyampaikan narasi serupa. Menurut media tersebut, Trump kembali mengubah sikap setelah selama sepekan melontarkan ancaman terhadap Iran.
"Trump mundur dari posisinya sekali lagi setelah sekitar seminggu membuat dan mengancam Iran, mengeklaim kesepakatan sudah dekat," demikian menurut KayHanOnline.
Kantor berita Mehr News turut membantah klaim bahwa Iran meminta penghentian serangan dari AS. Media itu menyebut Trump berusaha menggambarkan perubahan sikapnya sebagai bentuk bantuan kepada Iran.
"Trump sekali lagi menarik diri dari ancaman kosongnya dan menampilkan penarikan diri kepada dunia sebagai sebuah bantuan," demikian berita Mehr News.
Pengamat politik di Teheran, Morteza Semiari, juga menanggapi pernyataan Trump dengan menggunakan peribahasa Persia yang menggambarkan ancaman besar yang berakhir tanpa hasil.
"Sekali lagi gunung Amerika melahirkan tikus," kata Morteza Semiari.
Mehr News juga menegaskan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menghadapi segala kemungkinan. Sikap tersebut disebut tidak berubah meski Trump menyampaikan klaim mengenai peluang negosiasi.
Sebelumnya, Trump menyatakan AS menghentikan rencana serangan setelah menerima permintaan dari Iran dan sejumlah negara Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar.
"Kami baru saja diminta Iran, dan negara Timur Tengah lain untuk menahan serangan apapun karena batasan serangan yang sudah disetujui," tulis Trump.
Trump juga mengklaim Iran bersedia menggelar perundingan pada Senin waktu setempat. Menurutnya, pembahasan akan mencakup isu Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Baca Juga: AS Bidik Pendanaan Produsen Drone Iran, Imbalan Rp270 Miliar Disiapkan
"Berkaitan dengan Selat Hormuz dan pada akhirnya juga denuklirisasi," ujar Trump.
Ketegangan kedua negara kembali meningkat setelah pertengahan Juli lalu AS melancarkan serangan terhadap Iran meski sebelumnya telah tercapai kesepakatan gencatan senjata. Iran kemudian melakukan serangan balasan sehingga konflik kembali pecah selama hampir dua pekan.




