JAKARTA, KOMPAS — Inflasi beras sudah berlangsung selama tujuh bulan beruntun atau sepanjang Januari-Juli 2026. Inflasi tersebut tak kunjung mereda kendati cadangan beras pemerintah berlimpah dan potensi produksi beras nasional pada Januari-September 2026 naik tipis.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, Selasa (4/8/2026), mengatakan, per pekan kelima Juli 2026, harga rata-rata nasional beras medium di tingkat eceran Rp 14.489 per kg. Harga beras tersebut naik 0,5 persen dibandingkan dengan Juni 2026.
Dalam periode perbandingan yang sama, harga rerata nasional beras premium di tingkat eceran naik 0,52 persen menjadi Rp 16.330 per kg. Harga kedua jenis beras itu juga berada di atas rerata nasional harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium yang masing-masing Rp 13.500 per kg dan Rp 14.900 per kg.
”Hal itu membuat tingkat inflasi beras pada Juli 2026 sebesar 0,49 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan. Dengan demikian, beras terus mengalami inflasi sejak Januari 2026,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta.
Tingkat inflasi beras pada Juli 2026 sebesar 0,49 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan. Dengan demikian, beras terus mengalami inflasi sejak Januari 2026.
Sebelumnya, BPS mencatat, beras mengalami inflasi sepanjang paruh pertama 2026. Tingkat inflasi tahunan beras pada Januari, Februari, Maret, April, Mei, dan Juni 2026, masing-masing 3,44 persen, 3,61 persen, 3,71 persen, 4,36 persen, 4,55 persen, dan 3,98 persen.
Ateng juga menyatakan, sepanjang Juli 2026, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras semakin meluas. Pada pekan pertama Juli 2026, jumlahnya 113 daerah. Kemudian, per pekan kelima Juli 2026, jumlahnya bertambah menjadi 155 daerah.
Dalam rapat itu, Perum Bulog menyebutkan cadangan beras pemerintah (CBP) sangat berlimpah. CBP itu juga telah distribusikan untuk menstabilkan harga beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan Bantuan Pangan.
Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Analisis Harga Perum Bulog Muhammad Wawan Hidayanto menuturkan, per 3 Agustus 2026, Bulog telah menyerap gabah/beras dalam negeri sebanyak 3,5 juta ton setara beras. Realisasi itu sudah mencapai 87,5 persen dari target 4 juta ton setara beras pada 2026.
“Dengan demikian, jumlah stok beras Bulog sebanyak 5,25 juta ton. Stok tersebut terdiri dari 7.926 beras komersial dan 5,24 juta ton CBP,” tuturnya.
Menurut Wawan, Bulog juga telah meningkatkan penyaluran beras SPHP. Sejak Maret 2026, realisasi penyaluran atau penjualan beras SPHP terus meningkat melebihi target. Realisasinya pada April, Mei, Juni, dan Juli 2026 tercatat masing-masing 142 persen, 131 persen, 142 persen, dan 189 persen dari target.
Bulog juga telah menyalurkan bantuan pangan tahap I (Februari-Maret 2026) bagi 33,24 juta keluarga berpenghasilan rendah. Bantuan berupa beras dan minyak goreng itu telah terealisasi sebesar 99,7 persen.
“Bantuan pangan itu dapat mengurangi permintaan beras dan minyak goreng ke pasar,” katanya.
Pada Agustus 2026, Bulog akan menggulirkan bantuan pangan berupa beras tahap II (Juli, Agustus, dan September 2026). Bantuan pangan itu akan diberikan untuk tiga bulan sekaligus, yakni sebanyak 30 kg beras per keluarga penerima manfaat.
Sementara itu, di tengah El Nino yang tengah berlangsung bersamaan dengan musim kemarau, produksi beras nasional justru diperkirakan meningkat tipis. Produksi beras itu merujuk pada hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Amatan Juni 2026 yang dirilis BPS pada 3 Agustus 2026.
Produksi beras nasional pada Januari-September 2026 diperkirakan sebesar 28,71 juta ton. Angka potensi produksi tersebut naik tipis sebanyak 3.352 ton atau 0,01 persen dari produksi beras pada Januari-September 2025 yang sebanyak 28,706 juta ton.
Pada Januari-Juni 2026, produksi beras nasional diperkirakan masih meningkat 0,45 persen menjadi 19,35 juta ton dibandingkan Januari-Juni 2025. Baru pada Juli-September 2026, produksi beras nasional diproyeksikan turun menjadi 9,36 juta ton atau 0,88 persen dibandingkan dengan Juli-September 2025.
”Angka sementara dan angka potensi produksi beras dapat berubah sesuai kondisi terkini hasil amatan lapangan, antara lain seperti serangan hama dan penyakit tanaman, banjir, kekeringan, dan waktu realisasi panen petani,” kata Ateng.
Serial Artikel
Sentilan ”Uenak Aja” Presiden di Tengah Dera Multitantangan Harga Pangan
Multitantangan harga pangan tengan mendera Indonesia. Di tengah kondisi itu, Presiden justru berkata, ”yang mengatakan beras terlalu mahal suruh tanam padi sendiri”.
Selain itu, BPS juga mencatat penurunan produksi beras di sejumlah daerah di Sumatera yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. Pada Januari-September 2026, produksi beras di Aceh diperkirakan anjlok sebesar 16,09 persen dibandingkan dengan Januari-September 2025 menjadi 614.825 ton.
Dalam periode perbandingan yang sama, produksi beras di Sumatera Utara turun 15,94 persen menjadi 1,13 juta ton. Begitu pun dengan produksi beras di Sumatera Barat yang turun 4,1 persen menjadi 626.268 ton.





