HARIAN.FAJAR.CO.ID, TORAJA UTARA – Selama 3,5 tahun misteri hilangnya seorang remaja di Toraja Utara masih belum terungkap. Keluarga korban mengaku hingga kini belum memperoleh kepastian mengenai perkembangan penanganan kasus tersebut.
Mereka bahkan mempertanyakan penanganan laporan yang pernah disampaikan ke kepolisian. Termasuk menyesalkan terduga pelaku tidak ditahan.
Di tengah penantian panjang itu, keluarga berharap kasus yang mereka yakini masih menyisakan banyak tanda tanya segera menemukan titik terang.
Remaja yang dimaksud bernama Stoner, warga Sadan Malimbong, Kabupaten Toraja Utara. Saat peristiwa terjadi pada 31 Maret 2023, usianya masih 16 tahun.
Berdasarkan keterangan keluarga, Stoner diduga melompat ke Sungai Sa’dan di kawasan Jalan Tagari, Lampan, Kecamatan Tallunglipu, tepat di sekitar Rumah Jabatan Bupati Toraja Utara saat itu, Yohanis Bassang.
Peristiwa tersebut disebut terjadi setelah Stoner bersama sejumlah rekannya dikejar oleh sekelompok pemuda. Teman-temannya berhasil menyelamatkan diri, sementara Stoner memilih melompat ke sungai.
Keluarga menyebut aksi itu dilakukan untuk menghindari kejaran. Mereka juga mengungkapkan bahwa beberapa orang diduga masih melemparkan batu hingga sekop ke arah korban sesaat setelah ia berada di sungai.
Momen tersebut, menurut keluarga, sempat terekam kamera CCTV milik warga dan juga disaksikan sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi.
Saat kejadian, debit air Sungai Sa’dan sedang tinggi akibat musim hujan. Kondisi itu membuat proses pencarian berlangsung sulit.
Tim SAR bersama warga sempat melakukan penyisiran selama beberapa hari, namun Stoner tidak pernah ditemukan.
Kasus itu kemudian dilaporkan ke Polres Toraja Utara. Keluarga mengatakan mereka telah beberapa kali memenuhi panggilan penyidik untuk memberikan keterangan.
Selain keluarga korban, sejumlah pemuda yang disebut mengetahui peristiwa tersebut juga telah dimintai keterangan oleh penyidik.
Meski demikian, hingga kini keluarga mengaku belum melihat perkembangan berarti dalam proses penanganan perkara tersebut.
Salah seorang anggota keluarga korban, Herman Pamangin, mengaku masih mempertanyakan tindak lanjut laporan yang mereka buat.
“Ia betul, intinya awal laporan saat korban hilang dan orang tua korban bersama teman-teman korban dipanggil datang ke kantor polisi tiga atau empat kali. Terakhir itu pada saat orang tua korban dimintai surat laporan dan tidak dikembalikan lagi. Saya juga heran kenapa bisa begitu. Padahal ini jelas semua terduga pelaku kok tidak ditahan, lalu surat laporan kami kok tidak diberikan kembali,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Selasa (4/8/2026).
Menurut Herman, keluarga dalam waktu dekat berencana kembali mendatangi Polres Toraja Utara untuk meminta penjelasan mengenai perkembangan penyelidikan.
“Dalam waktu dekat kami mau ke Polres lagi. Kami sadar kami masyarakat kecil yang tidak punya uang dan jabatan orang kuat. Kami berharap agar kasus ini terang,” katanya.
Ia juga meminta agar proses penanganan perkara dilakukan secara profesional tanpa adanya intimidasi terhadap pihak keluarga.
“Jadi ini para terduga pelaku, entah mereka bawa ke mana keluarga kami itu. Sesaat mereka melakukan pengejaran dan pelemparan, kami yakin ada hal yang disembunyikan dalam kasus ini. Tolong juga pihak aparat agar menjalankan tugas pokok dan fungsi secara benar,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Polres Toraja Utara terkait pernyataan keluarga korban maupun perkembangan terbaru penanganan kasus tersebut. (*)





