REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, menyatakan kesiapannya untuk maju dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar mendatang.
Langkah ini dia ambil untuk merespons aspirasi dan dorongan dari jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta para kiai dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga
AS Batal Serang Iran, Kekurangan Rudal atau Bersiap Mundur? Israel Ketar-ketir Sendiri
Iran Siap Hadapi Skenerio Perang Besar dengan Dampak Terburuk, Israel Siaga Satu
Trump Marah Besar di Balik Pintu, Dampak Perang Iran tak Berujung yang Keluar Kendali?
“Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah menyampaikan aspirasinya secara publik. Saya dianggap bisa meneruskan, membawa organisasi keluar dari konflik, serta menjalankan roda organisasi dengan lebih baik ke depan,” ujar Kiai Marsudi dalam sebuah tayangan Podcast Ruang Publik, dikutip Selasa (4/8/2026).
Dia menegaskan bahwa seluruh perjalanan hidupnya tidak pernah lepas dari semangat khidmah (pengabdian). Oleh karena itu, ketika dorongan tersebut datang dari pengurus daerah, dia menyatakan kesiapannya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Hidup saya ini tidak lepas dari khidmah,” kata dia.
Dia mengatakan, Ketika perjalanan menuju khidmah ini didukung oleh cabang-cabang maupun wilayah, maka di mana saja dan kapan saja, dirinya siap.
“Jika kita memaknai hidup sebagai khidmah, tidak akan ada capeknya dan tidak akan ada keluh kesahnya—baik itu khidmah lil 'ilmi (pengabdian pada ilmu), khidmah lil 'ulama, hingga khidmah li Nahdlatil Ulama. Kalau niatnya sudah begitu, saya yakin semuanya terasa ringan," ungkapnya.
Kiai Marsudi juga menambahkan pentingnya pengalaman berorganisasi secara berjenjang sebelum memimpin sebuah lembaga besar.
“Sebelum menjadi 'Ketua Umum', minimal harus terbiasa menjadi 'umumnya ketua'. Kita sudah terbiasa melewati proses dari bawah agar memahami refleksinya. Jadi ketika ada masalah, insting dan sensorik organisasi kita sudah terlatih untuk melakukan perbaikan,” jelasnya.