HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Anggota DPR RI dari Komisi XII, Andi Muzakkir Aqil, menegaskan bahwa pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan di Makassar. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap program pemilahan sampah yang dijalankan Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin, yang dinilai sejalan dengan arah pembangunan nasional di bidang lingkungan hidup dan ekonomi hijau.
Menurut Andi Muzakkir, paradigma pengelolaan sampah harus bergeser dari pola kumpul-angkut-buang menjadi kumpul-pilah-olah-manfaatkan. Ia menjelaskan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi kompos, pakan ternak, maupun bahan baku budidaya maggot dan produk ramah lingkungan lainnya. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, kertas, kardus, logam, dan kaca masih memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri.
Sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali diharapkan dapat diolah menjadi bahan baku industri energi melalui teknologi ramah lingkungan, sehingga tidak hanya mengurangi timbulan sampah tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru.
Lebih lanjut, Andi Muzakkir menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang investasi baru, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Dengan begitu, kita tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” jelasnya.
Andi Muzakkir menekankan bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat, dimulai dari kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat terus diperkuat agar budaya memilah sampah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
“Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam membangun sistem persampahan yang efektif,” pungkasnya saat ditemui di Makassar, Selasa (4/8/2026).
Optimisme Makassar Bebas Sampah 2029Program pemilahan sampah di Makassar dinilai menjadi fondasi penting dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa dan meningkatkan pemanfaatan sampah melalui Bank Sampah Unit (BSU), Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), serta berbagai program pemberdayaan masyarakat.
“Saya optimistis, dengan komitmen bersama, Makassar dapat menjadi salah satu kota percontohan dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan mewujudkan target Makassar Bebas Sampah 2029,” bebernya.
Apabila masyarakat konsisten memilah sampah sejak dari rumah, volume sampah yang harus ditimbun di TPA akan berkurang signifikan, memperpanjang usia operasional TPA, menekan pencemaran lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan. (*/)





