Di Sini, Perlawanan Tidak Hanya Diceritakan, namun Diwariskan

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Herman Kajang*

Sudah beberapa hari saya berada di Karbala. Ada satu pertanyaan yang terus mengikuti langkah saya. Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi, meski kaki telah menempuh puluhan kilometer di antara jutaan peziarah.

Mengapa jalan menuju Imam Husain dipenuhi lagu-lagu perjuangan?

Pertanyaan itu makin kuat setiap kali saya melewati sebuah maukib. Dari pengeras suara terdengar lagu yang berirama tegas, membakar semangat. Saya tidak memahami satu pun liriknya. Saya tidak bisa mengerti bahasanya. Namun lagu itu tidak membutuhkan penerjemah. Ada sesuatu yang melampaui kata-kata.

Saya berhenti sejenak.

Di samping saya, seorang lelaki tua asal Iran ikut bernyanyi. Tangannya mengepal di dada. Sesekali ia mengangkat telunjuknya ke langit. Saya hanya memandanginya.

Dalam hati saya bergumam, “Apa yang sedang Anda nyanyikan?”

Ia tentu tidak mendengar. Namun wajahnya seperti menjawab, “Tentang sesuatu yang tidak boleh kami lupakan.”

Saya kembali melangkah.

Sepanjang jalan, mata saya tidak hanya disambut bendera-bendera Arbain. Saya melihat potret Imam Khomeini, Sayyed Ali Khamenei, Mujtaba Khamenei, juga wajah-wajah para syahid yang gugur dan anak-anak yang terbantai akibat kekejaman Amerika dan Israel. Di banyak tempat, narasi yang menyertainya menghubungkan pengorbanan mereka dengan perlawanan terhadap Israel dan  Amerika  yang mendukung penindasan di kawasan.

Maka saya mulai mengerti. Jalan menuju Karbala ternyata bukan sekadar jalan ziarah. Ia juga jalan tempat sebuah ingatan diwariskan.

Di negeri saya, jalan-jalan dipenuhi papan reklame yang berlomba menjual masa depan. Di sini, jalan-jalan dipenuhi wajah-wajah yang menjaga masa lalu agar tidak hilang.

Mengapa?

Barangkali karena sebuah bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah kehilangan keberanian.

Di sinilah saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya baca di buku-buku perjalanan.

Karbala bukan hanya dikenang dengan air mata. Karbala juga dikenang dengan tekad. Bukan sekadar ratapan. Tetapi juga sumpah agar ketidakadilan tidak pernah dianggap biasa.

Saya kembali mendengar lagu itu. Masih dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Namun kini saya tidak lagi berusaha menerjemahkan liriknya. Saya justru sedang menerjemahkan suasananya.

Saya melihat seorang anak kecil membawa foto seorang syahid. Ia berjalan sambil tersenyum. Di belakangnya seorang ibu membagikan air minum kepada para peziarah. Di sisi lain, para relawan mempersilakan siapa pun makan tanpa bertanya dari negara mana mereka datang.

Tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Perlawanan yang hidup di jalan ini tidak dimulai dari kebencian. Ia dimulai dari keyakinan bahwa ada nilai yang harus dipertahankan, betapa pun mahal harganya.

Mungkin itulah sebabnya jutaan orang tetap datang ke Karbala.

Mereka tidak hanya datang untuk menziarahi seorang cucu Nabi. Mereka datang untuk memastikan bahwa pesan Husain tidak berhenti menjadi cerita.

Ia terus hidup, menjelma menjadi nyanyian, menjadi gambar-gambar yang tergantung di sepanjang jalan, menjadi nama-nama para syahid yang terus disebut, dan menjadi semangat yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Saya masih berada di Karbala.

Saya masih belum memahami bahasa mereka. Tetapi setiap hari jalan ini mengajari saya satu bahasa yang dapat dimengerti oleh siapa pun. Bahasa tentang keberanian. Bahasa tentang harga sebuah kemerdekaan. Dan bahasa tentang keyakinan bahwa ketika ketidakadilan datang dengan kekuatan sebesar apa pun, akan selalu ada manusia yang memilih berdiri, meski tahu bahwa harga dari sebuah perlawanan kadang lebih mahal daripada hidup tanpa melakukan apa-apa. (*)

*Penulis adalah pembaca FAJAR


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
J-Hope BTS Menangis Usai Dapat Kejutan Manis dari ARMY
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
KPK Hentikan Penyidikan 6 Kasus Korupsi, Berikut Rinciannya
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Pulau Maratua Tawarkan Pesona Bahari Kelas Dunia sebagai Warisan Laut Nusantara
• 14 jam lalupantau.com
thumb
AZKO (ACES) Catat Penjualan Rp4,5 Triliun di Semester I-2026, Tumbuh 6,3 Persen
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Innalillahi, Mantan Suami Susi Pudjiastuti, Daniel Kaiser Meninggal Dunia
• 9 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.