TABLOIDBINTANG.COM - Kondisi gusi ternyata bisa memberikan petunjuk penting mengenai kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Sejumlah penelitian dalam beberapa dekade terakhir menemukan adanya hubungan antara penyakit gusi dengan berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Meski para ilmuwan masih terus meneliti hubungan sebab-akibatnya, satu hal yang semakin jelas adalah peradangan pada gusi tidak selalu berhenti di rongga mulut.
Pendiri sekaligus Kepala Dokter Gigi Dr Jaydev Dental, Dr Jaydev, mengatakan banyak orang masih meremehkan pentingnya menjaga kesehatan gusi.
"Gusi bukanlah bagian tubuh yang bekerja sendiri. Ketika mengalami infeksi kronis, bakteri dan peradangannya dapat masuk ke aliran darah dan memengaruhi organ lain," ujarnya.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), penyakit gusi berat atau periodontitis merupakan infeksi kronis yang merusak jaringan penyangga gigi. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gigi tanggal.
Bagaimana Penyakit Gusi Bisa Memengaruhi Jantung?
Pada penderita penyakit gusi, jaringan di sekitar gigi mengalami peradangan dan membentuk luka-luka kecil. Kondisi ini memungkinkan bakteri serta racunnya masuk ke dalam aliran darah, terutama saat seseorang mengunyah makanan atau menyikat gigi.
Dr Jaydev menegaskan bahwa penyakit gusi tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung. Namun, peradangan kronis yang ditimbulkannya diyakini dapat meningkatkan risiko gangguan pada pembuluh darah.
Saat bakteri masuk ke dalam tubuh, sistem imun akan memproduksi protein pemicu peradangan, seperti C-reactive protein (CRP) dan interleukin-6 (IL-6). Jika berlangsung terus-menerus, peradangan ini dapat merusak pembuluh darah dan berkontribusi terhadap terbentuknya plak lemak yang berkaitan dengan serangan jantung maupun stroke iskemik.
Bahkan, beberapa penelitian menemukan keberadaan bakteri dari rongga mulut di dalam plak pembuluh darah. Meski demikian, temuan tersebut belum cukup membuktikan bahwa penyakit gusi secara langsung menjadi penyebab penyakit kardiovaskular.
Hubungan Erat dengan Diabetes
Hubungan antara penyakit gusi dan diabetes disebut sebagai salah satu yang paling kuat.
Peradangan akibat infeksi gusi dapat membuat tubuh lebih resisten terhadap insulin sehingga kadar gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan. Sebaliknya, kadar gula darah yang tinggi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memperlambat proses penyembuhan, sehingga infeksi gusi menjadi semakin parah.
"Ini seperti lingkaran setan. Peradangan memperburuk resistensi insulin, sementara gula darah yang tinggi membuat penyakit gusi berkembang lebih agresif. Keduanya saling memperburuk kondisi satu sama lain," jelas Dr Jaydev.
Gejala yang Sering Diabaikan
Berbeda dengan gigi berlubang, penyakit gusi sering kali tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal sehingga banyak orang tidak menyadarinya.
Menurut Dr Jaydev, tanda yang paling sering diabaikan adalah gusi berdarah saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi.
"Gusi yang sehat seharusnya tidak berdarah. Jika tangan Anda selalu berdarah setiap kali dicuci, tentu Anda akan segera memeriksakannya ke dokter. Namun, gusi berdarah justru sering diabaikan selama bertahun-tahun," katanya.
Selain gusi berdarah, gejala awal lainnya meliputi:
- Bau mulut yang tidak kunjung hilang.
- Gusi merah, bengkak, atau terasa nyeri.
- Muncul rasa tidak sedap di dalam mulut.
- Gusi mulai menyusut sehingga gigi terlihat lebih panjang.
- Gigi menjadi lebih sensitif terhadap makanan atau minuman dingin.
- Sisa makanan sering terselip di sela gigi yang sama.
Apabila gigi mulai goyang atau bergeser, penyakit biasanya sudah memasuki tahap lanjut dan kemungkinan telah terjadi kerusakan tulang penyangga gigi.
Risiko penyakit gusi juga lebih tinggi pada penderita diabetes yang gula darahnya tidak terkontrol, perokok, pengguna tembakau tanpa asap, penderita penyakit jantung, ibu hamil, serta orang yang mengonsumsi obat-obatan yang menyebabkan mulut kering.
Apakah Merawat Gusi Bisa Menjaga Kesehatan Tubuh?
Dr Jaydev menegaskan bahwa pengobatan penyakit gusi bukanlah pengganti pemeriksaan ke dokter spesialis jantung ataupun cara pasti mencegah serangan jantung.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengobatan penyakit gusi dapat membantu menurunkan tingkat peradangan dalam tubuh dan memperbaiki fungsi pembuluh darah.
"Saat penyakit gusi diobati, salah satu sumber peradangan kronis di dalam tubuh ikut berkurang. Itu tentu memberikan manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan," ujarnya.
Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Gusi
Untuk menjaga kesehatan gusi, Dr Jaydev menyarankan beberapa langkah sederhana, yaitu:
- Menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride dan sikat berbulu lembut.
- Membersihkan sela-sela gigi setiap hari dengan benang gigi atau sikat interdental.
- Mengganti sikat gigi setiap tiga bulan.
- Menghindari rokok dan semua produk tembakau.
- Mengontrol kadar gula darah bagi penderita diabetes.
- Minum air putih yang cukup untuk mencegah mulut kering.
- Memeriksakan kesehatan gigi setiap enam bulan sekali, atau setiap tiga hingga empat bulan bagi mereka yang berisiko tinggi.
Dr Jaydev juga meluruskan anggapan yang masih banyak dipercaya masyarakat mengenai scaling atau pembersihan karang gigi.
Menurutnya, scaling tidak membuat gigi menjadi goyang maupun merusak email gigi. Prosedur tersebut justru bertujuan mengangkat karang gigi yang menumpuk akibat penyakit gusi.
"Menghindari scaling karena mitos tersebut justru menjadi salah satu alasan banyak orang akhirnya kehilangan gigi," pungkasnya.




