Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 yang akan dirilis Badan Pusat Statistik pada hari ini, Rabu (8/5) diperkirakan melambat dibandingkan kuartal I. Beberapa ekonom bahkan memperkirakan capaiannya berada di bawah 5%, jauh dibandingkan prediksi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di kisaran 5,4%.
Purbaya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini masih mencapai 5,4%, melambat dibandingkan kuartal I 2026. Hal ini terjadi karena ketidakpastian global yang tinggi akibat lonjakan harga minyak dunia, arus keluar modal (capital outflow).
"Kalau kami lihat prediksi semua, empat lembaga, kelihatannya di bawah 5,6% untuk kuartal kedua, tapi enggak jauh dari 5,4% juga. Jadi melambat, tapi enggak parah-parah amat," kata Purbaya.
Meski demikian, ia memperkirakan kondisi ekonomi akan membaik pada paruh kedua tahun ini. Purbaya mengatakan, Kementerian Keuangan akan memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia untuk memastikan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi kembali bergerak.
Prediksi Ekonom soal Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada April-Juni hanya mencapai 4,78%-4,82%. Angka ini jauh melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 5,6%.
LPEM UI menilai, ada beberapa faktor menjadi penyebab anjloknya angka pertumbuhan ekonomi pada periode April-Juni. Pertama, ekonomi kedua 2026 mengalami efek basis tinggi karena ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,12% pada kuartal II 2025.
Kedua, tidak ada dorongan musiman substansial di kuartal-II 2026 karena Ramadan dan Idul Fitri jatuh pada kuartal pertama 2026. Ketiga, guncangan eksternal besar berupa harga energi yang tinggi dan pelemahan Rupiah menciptakan inflasi impor, sehingga meningkatkan biaya produksi dalam negeri.
"Secara keseluruhan, kami memperkirakan PDB Indonesia di Triwulan-II 2026 akan tumbuh sebesar 4,80%, dengan rentang estimasi dari 4,78% hingga 4,82%. Sedangkan pertumbuhan PDB secara keseluruhan tahun 2026 diperkirakan sebesar 5%," ujar Riefky, Selasa (4/8).
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2026 di bawah 5%."Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 berada di kisaran 4,8% hingga 4,9% secara tahunan," ujarnya.
Ia juga menilai, perlambatan akan disebabkan oleh normalisasi konsumsi rumah tangga setelah momentum Ramadan, Idul Fitri, dan libur panjang yang pada triwulan sebelumnya mendorong belanja masyarakat. Di saat yang sama, pelemahan nilai tukar rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi sehingga menekan biaya produksi dan daya beli.
"Kondisi tersebut diperburuk oleh kenaikan harga energi global dan perlambatan perdagangan dunia yang membatasi kontribusi ekspor," ujar dia.
Dari sisi industri, menurut Rendy, aktivitas manufaktur juga masih belum kuat, tercermin dari PMI yang sempat berada pada zona kontraksi selama sebagian besar pada kuartal II, meskipun mulai menunjukkan perbaikan pada Juli. Belanja pemerintah dan investasi masih menjadi penopang pertumbuhan, tetapi belum cukup kuat untuk mengimbangi pelemahan konsumsi dan sektor eksternal.
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual lebh optimistis. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal 2 sebesar 5.12%. David menilai, perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh net ekspor yang lebih lemah, seiring neraca barang Indonesia yang mulai defisit.
"Di sisi lain, komponen investasi diperkirakan jadi pendorong utama, didorong oleh beberapa program pemerintah," ujar dia.
David menilai, Kebijakan yang bisa mendorong investasi swasta akan menjadi salah satu hal paling mendesak untuk menjaga momentum pertumbuhan di semester kedua. Investasi diharapkan akan berdampak terhadap daya beli karna menambah lapangan pekerjaan sehingga dapat mendorong belanja masyarakat ditengah ruang fiskal yang terbatas.
Proyeksi yang lebih optimistis juga diberikan Ekonom Bank Permata Faisal Rachman. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,35% meski melihat faktor perlambatannya serupa dengan ekonom lainnya.
Menurut dia, perlambatan pertumbuhan dipengaruhi normalisasi aktivitas ekonomi setelah lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri yang seluruhnya terjadi pada kuartal pertama tahun ini. Selain itu, pertumbuhan juga tertekan oleh efek basis yang tinggi karena Idul Fitri tahun lalu jatuh pada kuartal II.
Pertumbuhan ekonomi kuartal II juga dipengaruhi memburuknya lingkungan eksternal akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan kinerja ekspor.
'Meski demikian, permintaan domestik diperkirakan tetap tangguh berkat upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan dan ruang fiskal yang memadai," ujar Faisal dalam risetnya.
Faisal menilai konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh di atas 5% meski melambat setelah periode Lebaran, ditopang kebijakan pemerintah yang menjaga daya beli masyarakat. Di sisi lain, investasi diperkirakan menguat seiring meningkatnya aktivitas konstruksi dan penyaluran kredit investasi.
Namun, pelemahan permintaan global, terutama dari Amerika Serikat dan Cina, diperkirakan membuat ekspor tetap lesu sehingga kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih terbatas.




