Lantai runway BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang semula putih seketika berubah menjadi hamparan motif kotak warna-warni. Malam itu, LAKON Indonesia mempersembahkan koleksi bertajuk “Harsa” sebagai penutup rangkaian JF3 2026 yang telah berlangsung sejak 23 Juli.
“Harsa” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti kebahagiaan. Inspirasi lahir dari refleksi Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia, tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya.
Baginya, kebahagiaan bukan hanya hadir saat sebuah karya rampung, melainkan tumbuh di setiap proses: mulai dari berdiskusi, bereksperimen, hingga mewujudkan sebuah ide menjadi karya. “Harsa” pun hadir sebagai bentuk perayaan dan rasa syukur.
Di bawah arahan Creative Director Irsan, filosofi tersebut diterjemahkan ke dalam koleksi penuh warna yang memadukan katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza. Material-material ini membentuk siluet yang ringan, elegan, sekaligus kontemporer.
Peragaan ini juga menjadi panggung kolaborasi LAKON dengan Euneun, jenama tas milik penyanyi dan aktris asal Korea Selatan sekaligus anggota T-ara, Hahm Eun-jung. Sejumlah model melengkapi penampilannya dengan tas dari label tersebut.
Fashion show teatrikal Lakon dalam balutan warna-warniPertunjukan dimulai dalam gelap nyaris tanpa cahaya. Satu-satunya penerangan datang dari layar gawai para tamu yang sesekali menyala. Tak lama setelah lampu dipadamkan, kabut putih perlahan merayap, menyelimuti lantai hingga menutupi kaki para penonton di baris depan.
Suasana itu membangun rasa penasaran. Lakon Indonesia memang dikenal selalu menyisipkan kejutan dalam setiap peragaannya. Malam itu pun, penonton dibuat bertanya-tanya: seperti apa "Harsa" akan diterjemahkan di atas runway?
Saat lampu kembali menyala, yang muncul bukan sekadar sorotan panggung, melainkan ledakan warna yang seolah memecah keheningan beberapa saat sebelumnya. Palet hijau, ungu, hingga pink fuschia silih berganti memenuhi runway.
Sebagai pembuka, seorang model tampil mengenakan setelan two-piece bernuansa hijau. Siluetnya dibuat minimalis namun permainan material menghadirkan dimensi yang kaya.
Atasan tersebut dibuat potongan longgar dengan lengan berbentuk lonceng. Busana itu kemudian dipadukan dengan rok pensil dilengkapi detail lipit di bagian depan sehingga memungkinkan model melangkah lebih leluasa di atas runway.
Elemen lain yang langsung mencuri perhatian adalah face veil yang dikenakan seluruh model. Penutup wajah berbahan organza dan brokat itu menghadirkan nuansa teatrikal sekaligus misterius, membuat perhatian penonton tertuju pada siluet dan detail busana.
Seiring pertunjukan berlangsung, siluet-siluet sederhana bertransformasi menjadi semakin dramatis. Aksen bunga berukuran besar hadir sebagai pusat perhatian. Ada yang dikenakan menyerupai selendang dengan rumbai panjang yang bergoyang mengikuti langkah model.
Aksen bunga tersebut kemudian dipadukan dengan blouse berkerah ruff bergaya kontemporer, lalu diseimbangkan dengan rok transparan yang dihiasi aplikasi bunga di bagian bawah.
Di tengah langkah para model yang anggun dan terukur, satu penampilan terasa berbeda. Seorang model berjalan lebih riang, sesekali melompat kecil sambil mengenakan blouse pita berwarna ungu dan rok penuh sequin warna-warni. Rumbai-rumbai yang menghiasi busananya ikut menari mengikuti setiap langkah.
Usai seluruh model menyelesaikan peragaan, batas antara runway dan penonton seolah menghilang. Para tamu dipersilakan mendekati para model untuk mengamati detail setiap busana dari jarak dekat.
Mereka berdiri diam bak instalasi seni hidup, sementara para tamu mengelilinginya untuk menikmati setiap lipatan kain, tekstur, dan detail pengerjaan yang sebelumnya hanya terlihat sekilas dari bangku penonton.





