HARIAN.FAJAR.CO.ID, SIDRAP – Universitas Hasanuddin (Unhas) berkolaborasi dengan University of Newcastle, Australia, dan Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menggelar pelatihan Harvesting the Future bagi sekitar 300 petani andalan di Sidrap. Pelatihan yang berlangsung di Lantai 3 Kantor Bupati Sidrap, Rabu (5/8), ini bertujuan memperkuat penerapan pertanian presisi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), dan teknologi sensor untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Pelatihan dibuka oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Sidrap, Patahangi Nurdin, S.IP., yang mewakili Bupati Sidrap. Turut hadir Pemateri sekaligus Inisiator dari University of Newcastle, Australia, Dr. Shaleeza Sohail dan Dr. Teuku Geumpana, bersama tim Universitas Hasanuddin.
Ketua Tim Harvesting the Future sekaligus Kepala Subdirektorat Penguatan Jejaring Unhas, Muhammad Junaid, S.P., M.P., Ph.D., mengatakan program tersebut merupakan tindak lanjut dari pendampingan yang telah berlangsung selama dua tahun di Sidrap. Daerah tersebut dipilih sebagai proyek percontohan penerapan teknologi pertanian untuk mendukung peningkatan produktivitas.
“Kegiatan ini bukan akhir dari program, tetapi komitmen untuk terus melanjutkan pendampingan kepada petani. Kami berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” ujarnya.
Menurut Junaid, pelatihan membekali petani dengan pemanfaatan AI, IoT, dan teknologi sensor yang mampu menghasilkan data lapangan secara real time. Data tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan pertanian.
“Ke depan, pengambilan keputusan di sektor pertanian harus berbasis data. Data itu berasal dari kondisi nyata di lapangan yang diolah menjadi informasi sehingga petani dapat mengambil keputusan dengan lebih tepat,” katanya.
Selain penyampaian materi di kelas, peserta juga diperkenalkan pada demonstrasi penerapan teknologi secara langsung di lahan pertanian untuk memperlihatkan proses pengambilan data dari tanaman. Pelatihan dijadwalkan berlangsung selama empat hari.
Sementara itu, Patahangi Nurdin menilai pengalaman bertani saja tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan sektor pertanian saat ini. Menurutnya, petani harus terus belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu meningkatkan produktivitas.
“Harus ada perubahan mindset. Jangan berpikir karena nenek dan bapak kita petani, lalu kita sudah memahami semuanya. Kita harus belajar dari hari ke hari karena dengan belajar kita akan memperoleh ilmu yang baru,” ujarnya.
Ia mengatakan pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi petani untuk mempelajari teknologi pertanian berbasis data sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat diprediksi dan dicarikan solusi secara lebih tepat.
Patahangi menambahkan, Pemerintah Kabupaten Sidrap terus mendukung peningkatan produktivitas pertanian melalui penyediaan pengairan, benih, pupuk, serta perbaikan infrastruktur. Pemerintah daerah juga menargetkan persoalan ketersediaan air di sejumlah wilayah dapat diselesaikan secara bertahap hingga 2028.
Ia mengungkapkan hasil pengamatan pakar pertanian menunjukkan produktivitas padi di Sidrap berpotensi mencapai 12 ton per hektare apabila didukung penerapan teknologi dan pengelolaan budidaya yang tepat.
Menurutnya, sektor pertanian juga memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Karena itu, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak memandang pertanian sebagai pilihan pekerjaan yang kurang menarik.
“Kalau pertanian dikelola dengan baik, pendapatannya bisa jauh lebih tinggi. Karena itu, jangan ragu menjadikan pertanian sebagai profesi yang menjanjikan,” katanya.
Pada akhir sambutannya, Patahangi berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan secara serius dan aktif berdiskusi dengan para narasumber. Pemerintah Kabupaten Sidrap juga mendukung pendampingan berkelanjutan melalui pembentukan grup komunikasi agar petani tetap dapat berkonsultasi dengan tim pelaksana setelah pelatihan berakhir.





