Rupiah Diprediksi Melemah, Investor Tunggu Data Nonfarm Payrolls AS

suarasurabaya.net
3 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (5/8/2026).

Pelemahan rupiah dipicu oleh sikap investor yang menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) atau Nonfarm Payrolls (NFP), yang menjadi salah satu indikator penting arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Muhammad Amru Syifa Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.

“Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve,” ujar Amru, Rabu (5/8/2026).

Selain menanti data tenaga kerja AS, pasar juga masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar Amerika Serikat sebagai aset safe haven, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, investor mencermati sejumlah indikator ekonomi yang dinilai masih cukup positif. Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Juni 2026 tercatat mengalami defisit yang lebih kecil dibandingkan perkiraan pasar, sementara inflasi Juli tetap berada dalam target Bank Indonesia.

Menurut Amru, fokus investor pada hari ini juga tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026.

“Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid,” katanya dilansir dari Antara.

Dalam jangka pendek, Amru memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Meski tekanan dari faktor global masih mendominasi, ia menilai ruang pelemahan rupiah relatif terbatas. Hal itu didukung oleh inflasi domestik yang tetap terkendali, prospek pertumbuhan ekonomi yang masih positif, serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar.

Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh hasil rilis PDB Indonesia dan data Nonfarm Payrolls AS yang dijadwalkan terbit pada akhir pekan.

“Jika PDB Indonesia lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah masih berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi tersebut,” ujar Amru. (ant/saf/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhub tegaskan insiden KMP Mutiara Sentosa jadi evaluasi total
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Dua Santri Diserang karena Dikira Penjahat, Sayembara Tangkap Begal Disorot
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Tolak Barcelona, Rodri Hanya Ingin Main di Real Madrid
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Sederet Gelar Adat Jokowi
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Bagaimana Sejumlah Perusahaan Bisa Terseret Kasus Bekas Jampidsus Febrie Adriansyah?
• 3 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.