Dua Santri Diserang karena Dikira Penjahat, Sayembara Tangkap Begal Disorot

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG, KOMPAS- Dua santri di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terluka setelah diserang warga yang keliru mengira mereka sebagai pelaku begal pada Jumat (31/7/2026). Insiden salah sasaran itu kemudian memicu sorotan saat sayembara penangkapan begal masih digelar di Jabar.

Para korban adalah santri dari Pondok Pesantren Darul Ibtida, Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta. Keduanya masih menjalani perawatan hingga Rabu (5/8/2026).

Peristiwa ini terjadi saat mereka melintas menggunakan sepeda motor di Jalan Totoang Cilutung, Kecamatan Pedes, Karawang, Jumat malam. Diduga, karena keduanya memacu motor dengan kecepatan tinggi, warga menganggap mereka adalah penjahat.

Tiba-tiba, warga meneriaki keduanya dengan panggilan begal. Warga lain pun menghadang motor para korban dengan sebatang pohon. Kemudian mereka menyiram kedua korban dengan air panas.

Akibatnya para korban terluka bakar di sejumlah bagian tubuh. Setelah diketahui bukan pelaku begal, mereka dievakuasi ke Rumah Sakit  Hastien dan Rumah Sakit Proklamasi Rengasdengklok.

“Tiba-tiba motor saya dihadang sebatang pohon besar. Setelah saya berhenti, sejumlah warga menyiram saya dengan air yang panas sekali,” ungkap Maryanto, salah satu korban.

Baca JugaDedi Mulyadi Gelar Sayembara Tangkap Begal, Pakar Ingatkan Risiko Vigilantisme

Kepala Seksi Humas Polres Karawang Inspektur Dua Cep Wildan menjelaskan, polisi telah menerima laporan masyarakat dan saat ini kasus tersebut sedang ditangani sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Penanganan dilakukan secara profesional dengan mengedepankan perlindungan terhadap korban serta mengumpulkan seluruh alat bukti yang diperlukan,” kata Wildan

Motif warga melakukan penyerangan itu masih didalami kepolisian. Namun, kasus ini lantas mengingatkan pada sayembara tangkap begal yang diumumkan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi melalui akun Instagram pribadinya pada 23 Juli 2026.

Sayembara itu berhadiah Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Gubernur, yang biasa disapa KDM tersebut mengaku, uang tersebut sebagai hadiah bagi warga yang menangkap pelaku begal di Jabar dan menyerahkan ke polisi dalam keadaan hidup.

”Kami siapkan hadiah bagi yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup,” kata KDM.

Petugas Linmas Kelurahan Sukamiskin, Wirtah Olan (62), menyebutkan, hadiah uang menjadi tambahan motivasi baginya dan warga setempat yang rutin menggelar ronda malam.

"Dengan hadiah uang dari gubernur, kami semakin semangat untuk menjaga keamanan di lingkungan dan menghentikan aksi para pelaku kejahatan,” kata Wirtah.

Harus dievaluasi

Guru Besar Hukum Pidana Universitas Islam Bandung Nandang Sambas menyatakan prihatin dengan aksi main hakim sendiri di Karawang. Bahkan, dia cemas, potensi insiden itu akan semakin besar bila sayembara tangkap begal masih diberlakukan di Jabar.

Ia menilai hal tersebut menjadi bahan evaluasi bagi para penegak hukum atau para tokoh di daerah untuk sama-sama memberikan informasi kepada masyarakat agar tidak terlibat aksi anarkis dalam menjaga keamanan di lingkungannya.

Keterlibatan masyarakat memang dibutuhkan namun diperlukan kehati-hatian sehingga peristiwa di Karawang jangan terulang lagi.

"Sebaiknya mungkin tidak lagi ada sayembara-sayembara seperti itu. Kalaupun ada anggaran, bisa dimanfaatkan untuk pembangunan atau kebutuhan lain yang bisa mendukung terciptanya lingkungan keamanan yang baik. Bukan dalam bentuk hadiah langsung kepada masyarakat yang menangkap begal," tuturnya.

Pandangan kritis juga datang dari akademisi hukum pidana Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Leni Anggraeni. Ia menilai sayembara tangkap begal berpotensi memicu tindakan anarkistis masyarakat.

Ia berpendapat, sayembara tangkap begal yang memicu aksi main hakim sendiri rawan mengganggu upaya penegakan hukum.

"Ironinya sayembara ini malah didukung Polda Jabar dengan catatan jangan sampai babak belur atau meninggal. Memangnya emosi warga bisa dikendalikan?," kata Leni.

Ia meminta gubernur menghentikan sayembara tersebut karena berpotensi memicu aksi kekerasan secara massal. Sementara polisi diharapkan lebih aktif di lapangan untuk mendeteksi potensi terjadinya begal.

"Seharusnya yang diperbaiki itu adalah sistem dari kepolisian itu sendiri dan bagaimana cara Gubernur ini mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran. Masalah ekonomi turut memicu maraknya aksi begal," tambahnya.

Baca JugaSayembara Dedi Mulyadi untuk Tangkap Begal di Jabar Dinilai Bukan Solusi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diduga Sindir Sarwendah Bohong, Betrand Peto Langsung Kena Semprot Ruben Onsu
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Menkeu Bakal Kasih Insentif Tambahan, Asal Toyota Mau Pindahkan Pabrik ke RI
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Tantangan Besar Ekonomi Syariah:Mengapa Keuangan Syariah “Mahal” dan Tidak Efisien?
• 2 jam laluharianfajar
thumb
PGE Kejar Kapasitas 1 GW pada 2028, Siap Jadi Pemain Panas Bumi Terbesar Dunia
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rekomendasi Saham Hari Ini Ada BMRI, BBNI, hingga UNVR
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.