Regenerasi pengemudi truk di Indonesia masih menjadi tantangan. Di tengah kebutuhan pengemudi yang terus meningkat, profesi sopir truk saat ini masih didominasi kalangan senior, sementara minat generasi muda untuk menekuninya terbilang rendah.
Hino Academy & Customer Center Division Head PT HMSI, Piter Andre, mengatakan bahwa mengatakan kebutuhan pengemudi saat ini belum sebanding dengan jumlah armada yang beroperasi, pengemudi truk bahkan harus bekerja lebih lama.
"Kita kekurangan sekali pengemudi, perbandingannya 10:9, 10 truk dan 9 pengemudi. Beberapa sektor mereka membutuhkan satu truk dua pengemudi, bahkan tiga pengemudi untuk jarak jauh," buka Piter kepada kumparanOTO di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
Untuk menjawab tantangan itu, ke depannya Hino akan menggencarkan program Hino Driving School yang sudah ada. Program tersebut disiapkan untuk membekali calon pengemudi dengan kompetensi dasar mengemudi kendaraan niaga sebelum terjun ke dunia kerja, khususnya menyasar siswa sekolah kejuruan.
Kendati demikian, upaya memenuhi kebutuhan pengemudi tidak bisa dilakukan industri sendirian. Menurut Piter, diperlukan upaya penyelarasan dengan pemerintah sebab lulusan SMK belum bisa langsung mengemudikan truk akibat terbentur persyaratan kepemilikan SIM B1 atau B2.
Ia mengungkapkan, banyak lulusan SMK yang lebih dulu bekerja sebagai asisten pengemudi atau di posisi lain sampai memenuhi syarat untuk memperoleh SIM sesuai ketentuan. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab regenerasi pengemudi berjalan lambat.
Sebelumnya, Hino juga memiliki program Hino Indonesia Partnership School (HIPS) yang berfokus mencetak mekanik profesional dari sekolah kejuruan. Program tersebut telah berjalan di delapan SMK yang tersebar di Banten, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Melalui delapan sekolah tersebut, Hino menargetkan sekitar 200 lulusan setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil di jaringan dealernya. Ke depan, program serupa juga akan dikembangkan untuk mencetak pengemudi truk guna membantu mengatasi kekurangan driver.
"Kita sudah ada programnya Hino Driving Shcool dan kurikulum kita sudah siap. Kami sudah jalan dengan beberapa perusahaan swasta, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), bahkan mitra dari Jepang," tutup Piter.





