Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026. Pertumbuhan ini ditopang kuatnya konsumsi rumah tangga yang meningkat seiring masyarakat lebih banyak berbelanja selama momentum libur dan hari besar keagamaan.
Selain didorong belanja masyarakat, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh investasi yang tetap meningkat serta akselerasi belanja pemerintah pada periode April hingga Juni 2026. Dengan capaian tersebut, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 3,73 persen dibanding kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq), sedangkan secara kumulatif pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB). Pada kuartal II 2026, kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 53,32 persen terhadap total PDB dan tumbuh 5,06 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Menurut Edy, peningkatan konsumsi tersebut tidak terlepas dari tingginya aktivitas masyarakat selama musim liburan dan perayaan hari besar keagamaan. Kondisi itu mendorong belanja masyarakat di berbagai sektor, terutama yang berkaitan dengan perjalanan, kuliner, hingga komunikasi.
“Selanjutnya kalau kita dalami pertumbuhan komponen pengeluaran utama ekonomi dari sisi pengeluaran kita bisa lihat bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh menguat didorong oleh momen libur dan hari besar keagamaan. Komponen konsumsi rumah tangga yang tumbuh tinggi adalah restoran dan hotel tumbuh 6,47 persen, transportasi dan komunikasi tumbuh sebesar 5,71 persen,” ujar Edy dalam konferensi pers, Rabu (5/8).
BPS mencatat, tingginya mobilitas masyarakat selama periode tersebut ikut mendorong peningkatan aktivitas sektor restoran, hotel, transportasi, hingga layanan komunikasi. Kinerja sektor-sektor tersebut kemudian memberikan dampak positif terhadap konsumsi rumah tangga yang menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga juga menjadi penyumbang terbesar terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Sumber pertumbuhan yang berasal dari konsumsi rumah tangga mencapai 2,67 persen, jauh lebih besar dibandingkan komponen pengeluaran lainnya.
“Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya pada triwulan II 2026 ini konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu sebesar 2,67 persen. Selain itu pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 juga ditopang oleh komponen PMTB dengan sumber pertumbuhan sebesar 2,05 persen dan konsumsi pemerintah memberikan sumber pertumbuhan sebesar 1,07 persen,” kata Edy.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga menunjukkan tren positif. PMTB berkontribusi sebesar 29,36 persen terhadap PDB dan tumbuh 6,87 persen secara tahunan. Pertumbuhan investasi didukung oleh peningkatan pembelian kendaraan, peralatan lainnya, serta realisasi investasi di berbagai kawasan ekonomi.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 15,97 persen. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya realisasi belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri, serta percepatan pembayaran berbagai belanja barang dan jasa.
BPS menyebut peningkatan belanja barang yang disalurkan kepada masyarakat juga menjadi faktor pendorong. Salah satunya berasal dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Konsumsi pemerintah juga tumbuh didorong oleh peningkatan realisasi belanja barang dan jasa terutama pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis,” ujar Edy.
Secara nominal, nilai PDB Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) pada kuartal II 2026 mencapai Rp 6.552 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) 2020 tercatat sebesar Rp 3.576 triliun.
Dari sisi kewilayahan, pertumbuhan ekonomi terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional dengan pangsa 56,47 persen, disusul Sumatera sebesar 22,8 persen. Sementara itu, wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,10 persen, diikuti Jawa 5,65 persen dan Sulawesi 5,53 persen.





