Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Amerika Serikat (AS) menaruh ketertarikan terhadap sektor mineral kritis Indonesia untuk mendukung pengembangan teknologi, utamanya perangkat keras (hardware).
Airlangga menjelaskan, pembahasan mengenai Pax Silica atau inisiatif strategis AS untuk mengamankan dan membangun rantai pasok global yang tangguh untuk era artificial intelligence (AI) telah masuk ke dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART).
Menurut dia, AS memandang mineral kritis sebagai komponen penting dalam pengembangan industri teknologi.
“Dengan Amerika ada organisasi yang mereka bentuk namanya Pax Silica. Indonesia sudah mengatakan bahwa Pax Silica itu salah satunya dalam ART kita sudah kita bahas. Dan kita ingin perkuatan secara bilateral dalam Pax Silica,” kata Airlangga dalam sambutannya pada gelaran Opening Ceremony Digital Transformation Indonesia (DTI) Series 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).
Dia membeberkan, AS lebih menaruh perhatian pada penguatan rantai pasok perangkat keras berbasis mineral kritis.
“Dan Amerika lebih mendorong ke arah critical mineral. Mereka lebih melihat bahwa ketergantungan terhadap hardware critical mineral. Itu yang ingin mereka pikir,” kata Airlangga.
Atas ketertarikan AS tersebut, Indonesia menawarkan kerja sama pengembangan mineral kritis kepada AS.
“Dan itu pula yang Indonesia tawarkan. Ini critical mineral dipersilakan dikerjasamakan dengan Indonesia,” katanya.





