Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menjadi salah satu fondasi utama dalam transisi energi Indonesia menuju target net zero emission (NZE) pada 2060. Proyek tersebut tercatat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Suroso Isnandar, mengatakan PLTA ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 11,7 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan.
Katanya, untuk merealisasikan target pembangunan PLTA sebesar 11,7 GW, dibutuhkan investasi sekitar USD 35 miliar atau sekitar Rp 627,38 triliun (kurs Rp 17.925). Perhitungan itu didasarkan pada kebutuhan investasi sekitar USD 3 juta untuk setiap megawatt (MW) kapasitas pembangkit.
“karena 11.000 MW (11,7 GW) kita memerlukan kurang lebih kalau 1 MW nya adalah USD 3 juta maka kita memerlukan paling tidak USD 35 miliar,” kata Suroso dalam sambutannya di Indonesia Hydropower Summit 2026 di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (5/8).
Menurutnya, kebutuhan investasi yang besar tersebut harus didukung dengan ekosistem investasi yang menarik, termasuk kontrak yang stabil dan adil bagi seluruh pihak.
“Sebuah kontrak yang stabil Itu prinsipnya hanya simple sebetulnya fair buat dua pihak, kalau ada risiko sama-sama kita bagi, kalau ada windfall juga sama-sama kita bagi,” tutur Suroso.
Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, PLN juga terus melakukan inovasi dalam proses pengadaan proyek pembangkit. Salah satu langkah yang dilakukan adalah merancang skema pengadaan berbasis gigawatt hydro guna mengatasi berbagai hambatan dalam proses pengadaan.
Saat ini, PLN tengah menjalankan proses lelang Sumatra Peaker berkapasitas 1 GW. Selain itu, perseroan juga berencana meluncurkan lelang Sumatra Base Load dengan total kapasitas 1,8 GW, yang pada tahap awal akan dibuka secara parsial sebesar 350 MW.
“Minggu depan kita iklankan berbagai kelas di Sumatra Base Load yang akan disusul dengan Sulawesi,” ucap Suroso.
Ia menjelaskan, lelang Sumatra Base Load belum langsung dibuka untuk kapasitas penuh sebesar 1,8 GW karena masih menunggu penyelesaian proyek interkoneksi Sumatra–Jawa.
“Interkoneksi Sumatra-Jawa belum jadi, nanti listriknya tidak tersalurkan (kalau dilelang sekarang),” ucap Suroso.





