REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lima startup binaan Menara Syariah, yakni DynastyCapital, Orbitum, AriesTech, Asyah, dan Peksindo, menandatangani nota kesepahaman dengan PT Central Finansial X (CFX) untuk membangun Ekosistem Aset Digital Syariah Indonesia. Kolaborasi tersebut mengintegrasikan pengelolaan aset digital berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), tokenisasi aset dunia nyata, hingga pemeringkatan aset kripto berdasarkan prinsip syariah dalam satu ekosistem.
Kelima startup tersebut memiliki peran yang saling melengkapi. DynastyCapital berfokus pada pengelolaan aset digital berbasis AI. Orbitum membangun infrastruktur tokenisasi instrumen syariah. AriesTech mengembangkan tokenisasi aset dunia nyata, seperti saham dan emas.
Baca Juga
Bank Aladin Syariah Perluas Ekosistem Digital, Nasabah Tembus 3,9 Juta
Merebut Gen Z, Saat Bank Syariah Menjual Solusi Bukan Sekadar Label
Pangsa Bank Syariah Masih 7 Persen, Pengalihan Payroll ASN Dinilai Jadi Kunci
Sementara itu, Asyah memperluas akses pembiayaan syariah melalui digitalisasi Sharia Restricted Investment Account (SRIA). Adapun Peksindo menyediakan layanan pemeringkatan dan penyaringan aset kripto menggunakan metodologi independen untuk mengukur kesesuaiannya dengan prinsip syariah.
Komisaris Utama Menara Syariah Harianto Solichin mengatakan perkembangan AI, platform digital, smart contract, dan tokenisasi aset tengah mengubah lanskap industri keuangan. Bagi keuangan syariah, kata dia, perkembangan tersebut bukan sekadar transformasi teknologi, tetapi juga menjadi ujian bagi tata kelola dan kepercayaan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Artificial intelligence, platform digital, smart contract, dan instrumen yang ditokenisasi sedang mengubah dunia keuangan dengan sangat cepat. Bagi keuangan syariah, ini bukan sekadar transformasi teknologi, tetapi juga ujian terhadap tujuan, tata kelola, dan kepercayaan," ujarnya di Menara Syariah PIK II, Tangerang, Banten, Rabu (5/8/2026).
Karena itu, lanjut Harianto, inovasi teknologi harus tetap berlandaskan maqashid syariah, transparansi, dan tata kelola yang baik. Kelima startup tersebut dikembangkan untuk membangun ekosistem yang saling terhubung, mulai dari pengelolaan aset digital, tokenisasi, hingga pemeringkatan aset kripto berdasarkan prinsip syariah. Menurut dia, seluruh inovasi tersebut diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi syariah digital di Indonesia.
Upaya tersebut juga diharapkan mampu menjawab keraguan masyarakat terhadap kripto syariah di tengah meningkatnya perhatian terhadap tata kelola investasi berbasis syariah. Komisaris Peksindo Muslich Ramelan mengatakan penerapan AI, blockchain, serta penguatan regulasi dan tata kelola menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap aset digital syariah.
"Kripto itu memang banyak diinterpretasikan seperti ada unsur permainan, ada unsur judinya. Namun, dengan apa yang kami luncurkan ini, seluruhnya diharapkan dapat menggugurkan opini publik tersebut," ucapnya.
Muslich mengatakan AI dan blockchain dirancang untuk menghadirkan transparansi, akurasi, kecepatan, dan keadilan sehingga selaras dengan prinsip ekonomi syariah.
"Teknologi AI dan blockchain tidak mengajarkan perjudian, tetapi menghadirkan keadilan, ketepatan, akurasi, dan kecepatan. Artinya, manfaat positifnya jauh lebih besar," jelasnya.
Ia menambahkan pengawasan terhadap ekosistem tersebut juga akan dilakukan oleh otoritas, termasuk bursa aset digital dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).