Harapan di Balik Helm Las dan Cermin Rias

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Mengenakan helm bertuliskan ”Bukan Aku yang Kuat Tapi Doa Ibu yang Hebat”, salah satu peserta pelatihan juru las melindungi dirinya dari percikan api. Tulisan itu seolah menjadi pengingat sekaligus harapan di tengah ikhtiar menata masa depan demi memperoleh pekerjaan atau merintis usaha sendiri.

Keikutsertaan mereka bukan tanpa alasan. Di tengah janji penciptaan lapangan kerja dan persaingan yang semakin ketat di pasar tenaga kerja, keterampilan menjadi modal yang tidak bisa lagi hanya mengandalkan ijazah pendidikan formal. Kemampuan teknis dan sertifikasi kompetensi kini menjadi nilai tambah yang semakin dibutuhkan industri.

Peserta pelatihan juru las atau welder mengenakan helm pengaman. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Baiq, peserta kelas kecantikan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Nisa, peserta pelatihan fashion teknologi. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Kondisi itu juga tergambar dalam data ketenagakerjaan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2026 mencapai 154,91 juta orang. Saat ini masih terdapat sekitar 7,24 juta penganggur yang harus bersaing memperebutkan kesempatan kerja. Di sisi lain, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi.

Pagi itu, sejumlah ruang kelas di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, tampak sibuk. Sebanyak 230 peserta, mayoritas lulusan SMK dari berbagai daerah, mengikuti pelatihan bidang tata boga, pengelasan (welder), kecantikan, dan mode, Rabu (5/8/2026).

Di ruang praktik pengelasan, para peserta bekerja di dalam bilik-bilik khusus. Mereka menyambungkan potongan besi menggunakan las listrik dengan helm berkaca gelap dan sarung tangan tebal yang tak pernah lepas dari tubuh. Suhu panas dan ruang yang pengap menjadi bagian dari keseharian selama pelatihan berlangsung. Salah satunya dijalani Riski.

Ia mengaku memilih pelatihan juru las karena tertarik pada dunia otomotif yang sering dilihatnya melalui media sosial. Menurut dia, keterampilan mengelas memiliki prospek yang luas. Setelah memiliki pengalaman, ia berharap dapat membuka bengkel las yang melayani kebutuhan kendaraan hingga pembuatan berbagai perkakas rumah tangga.

Suasana berbeda terasa saat memasuki ruang pelatihan kecantikan. Riuh suara gerinda dan percikan api berganti dengan aroma kosmetik yang lembut. Wajah-wajah peserta menatap cermin sambil merapikan hasil riasan masing-masing. Instruktur kecantikan, Elisabeth Purba, sesekali membetulkan teknik merias para peserta yang seluruhnya perempuan.

Menurut dia, mereka telah melalui proses seleksi dan datang dengan motivasi yang kuat untuk menjadi penata rias profesional. ”Banyak yang awalnya hanya hobi merias wajah sendiri. Dari situ, mereka mulai serius belajar, mengikuti tren, lalu menjadikannya peluang usaha ataupun sumber pendapatan tambahan,” ujar Elisabeth.

Di kelas fashion teknologi, Nisa tampak tekun menyelesaikan jahitan dari pola yang telah dibuatnya. Perempuan asal Pekalongan yang berlatar belakang pendidikan Paket C itu mengatakan ingin memperdalam keterampilan menjahit untuk mengembangkan usaha yang sedang dirintisnya.

Koordinator Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi BBPVP Semarang, Yusnar Fahmie, mengatakan, pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta sesuai kebutuhan dunia kerja. Durasi pelatihan berlangsung mulai satu pekan hingga beberapa bulan, bergantung pada bidang keahlian yang dipilih.

Peserta belajar bersama saat membuat pola desain pakaian yang mereka rancang. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Peserta saat praktik menggunakan mesin kopi pada kelas barista. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

Peserta saat praktik memoles wajah pada kelas kecantikan. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA

”Setelah peserta menyelesaikan pelatihan, kami juga membantu menghubungkan mereka dengan peluang kerja sesuai kompetensi yang dimiliki,” kata Yusnar.

Ia berharap para lulusan pelatihan tidak hanya terserap ke dunia industri, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui usaha yang mereka bangun sendiri.

Tren pasar kerja yang terus berubah, keterampilan vokasi diharapkan menjadi bekal agar anak-anak muda agar tidak sekadar mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakannya.

Baca JugaUGM Ajarkan Sikap Antikekerasan kepada Mahasiswa Baru

 

Baca JugaSederet Musisi Berlatih Pagelaran Sabang Merauke


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Paylater Perbankan Tumbuh 33,54 Persen pada Juni 2026, Tembus 32,80 Juta Rekening
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
10 Pekerja yang Terjebak Dievakuasi dari Kebakaran Gedung di Cikini
• 1 jam laludetik.com
thumb
2 Pelaku Kasus Dugaan Mafia Tanah di Singkawang Sudah Ditahan
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Turnamen Padel HIPMI Senior Seri-6 Jadi Ajang Silaturahmi Pengusaha
• 10 jam laluharianfajar
thumb
3 Poros Timnas Indonesia untuk Menjegal Singapura: Kebugaran dan Mental Jadi Kuncinya
• 8 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.