CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Hutan hujan terpencil di Semenanjung Vogelkop, Papua, menyimpan kejutan besar bagi dunia ilmu pengetahuan. Dua mamalia yang selama ini diyakini telah punah lebih dari 6.000 tahun ternyata masih bertahan hidup di kawasan tersebut.
Temuan itu diungkap dalam penelitian yang diterbitkan 6 Maret 2026 di jurnal Records of the Australian Museum.
Kedua satwa tersebut adalah Pygmy Long-fingered Possum (Dactylonax kambuayai) dan Ring-tailed Glider (Tous ayamaruensis).
Keduanya termasuk kelompok yang dikenal sebagai “Lazarus taxa”, istilah untuk spesies yang sebelumnya hanya diketahui dari catatan fosil, tetapi kemudian ditemukan masih hidup.
Kisah penemuan itu tidak terjadi dalam satu ekspedisi. Para peneliti harus menyatukan berbagai potongan bukti yang tersebar, mulai dari spesimen museum, foto satwa di alam, hingga fragmen fosil.
Salah satu petunjuk penting berasal dari spesimen yang tersimpan di Australian Museum. Spesimen tersebut dikumpulkan pada 1992, tetapi saat itu salah diidentifikasi.
Setelah diteliti kembali dan dibandingkan dengan bukti lain, identitasnya mengarah pada Dactylonax kambuayai, mamalia kecil yang sebelumnya hanya dikenal melalui sisa-sisa fosil dari periode Holosen.
Sementara itu, Tous ayamaruensis sebelumnya diketahui dari material arkeologis dan fosil awal Holosen di kawasan Vogelkop. Spesies ini juga sempat dianggap telah menghilang sekitar 6.000 tahun lalu.
Penelitian terbaru menunjukkan satwa tersebut masih memiliki catatan keberadaan modern di kawasan hutan dataran rendah Vogelkop.
Kedua mamalia itu hidup di habitat hutan hujan yang relatif terisolasi. Pygmy Long-fingered Possum merupakan salah satu possum bergaris berukuran paling kecil, sedangkan Ring-tailed Glider adalah marsupial yang memiliki mata besar dan ekor kuat untuk mencengkeram.
Ring-tailed Glider diperkirakan memiliki berat sekitar 300 gram dan hidup di kawasan hutan hujan.
Temuan tersebut juga memberikan petunjuk mengenai sejarah geologi Papua. Semenanjung Vogelkop merupakan bagian kuno dari benua Australia yang kemudian menyatu dengan Pulau Papua.
Keberadaan kedua mamalia yang tidak memiliki kerabat dekat di wilayah lain Papua menjadi salah satu petunjuk tentang sejarah panjang kawasan tersebut.
Namun, kabar tentang “kebangkitan” dua satwa ini sekaligus membawa peringatan. Hutan tempat mereka bertahan menghadapi tekanan dari pembalakan dan perubahan fungsi kawasan.
Peneliti menilai perlindungan habitat menjadi penting karena hutan Vogelkop kemungkinan merupakan salah satu benteng terakhir bagi kedua spesies tersebut.
Yang menarik, penelitian ini juga memperlihatkan bahwa masih banyak rahasia biodiversitas yang mungkin tersembunyi di kawasan hutan Papua yang sulit dijangkau.
Pengetahuan masyarakat lokal, pengamatan lapangan, koleksi museum, fotografi dan penelitian ilmiah akhirnya bertemu untuk mengungkap kembali keberadaan satwa yang selama ribuan tahun dianggap telah hilang.
Bagi dunia sains, dua mamalia Papua ini bukan benar-benar “hidup kembali”. Mereka kemungkinan tidak pernah benar-benar menghilang—hanya terlalu lama luput dari pengamatan manusia.




