Kecerdasan Buatan Jadi Tantangan Baru Kelestarian Tradisi Lisan

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Tantangan terkait keberlangsungan tradisi lisan semakin kompleks dengan berkembangnya penggunaan akal imitasi dalam kehidupan masyarakat. Di sisi lain, perkembangan teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk menampilkan tradisi lisan lebih luas, terutama kepada generasi muda.

Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Pudentia Maria Purenti Sri Suniarti Karnadi mengakui perkembangan teknologi yang begitu pesat ini mengakibatkan perubahan sikap, perilaku, pandangan, sistem nilai, dan berbagai aspek kehidupan lain. Disrupsi budaya ini bisa dipandang sebagai ancaman terhadap tradisi yang dianggap usang dan perlu diubah.

"Tadinya kami berpikir tantangan ini justru bisa digunakan untuk menyebarkan dan sosialisasi keberadaan tradisi lisan. Namun kami melihat secara hakiki kontak person to person (antarmanusia) tetap penting. Jadi adab manusia itu tetap berada di atas teknologi," kata Pudentia, di sela Konferensi ATL XIII di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Rabu (5/8/2026).

Hal ini, lanjut Pudentia, menambah beban pada keberlangsungan tradisi lisan. Sebab, masalah utama yang dihadapi para pengkaji atau peneliti tradisi lisan masih sama, yaitu berkurangnya jumlah maestro tradisi dan terbatasnya kemampuan para maestro maupun pelaku tradisi menghadapi berbagai persoalan.

Kondisi ini berulang kali menjadi konsen di ATL selama lebih dari tiga puluh tahun. Para pengkaji maupun pengelola tradisi seolah berpacu dengan waktu menjaga keberadaan dan keberlangsungan peran para maestro sebagai penjaga tradisi.

Tradisi masa lalu itu telah memberi kehidupan, sumber identitas, dan pengetahuan tradisional yang mengatur tentang tata hidup sekarang.

Namun, lanjut Pudentia, disrupsi ini tidak membuat para pelaku budaya tinggal diam melainkan menjadikannya sebagai peluang terjadinya evolusi budaya lebih adaptif dan berkelanjutan. Era disrupsi menuntut kemampuan beradaptasi secara cepat agar warga tak tercabut dari akar tradisinya.

Untuk itu, penggunaan AI yang kian marak menjadi tambahan ancaman yang perlu disikapi secara bijaksana oleh pegiat tradisi lisan. "Perlu diingat, tradisi dari masa lalu itu memberi kehidupan, sumber identitas, dan pengetahuan tradisional yang mengatur tata hidup sekarang," ucapnya.

Baca JugaEksistensi Tradisi Lisan Bertahan dari Kepunahan

Upaya perlindungan melalui dokumentasi dan revitalisasi tradisi yang masih hidup atau bisa diingat para pelaku dan komunitas pemiliknya amat mendesak untuk dilakukan. Perlindungan diikuti dengan pengembangan dan pemanfaatan tradisi merupakan langkah penting untuk menjamin agar karya-karya tradisi hidup dan relevan hingga masa kini.

Menurut Pudentia, ada berbagai persoalan yang perlu dikaji kembali untuk mempertahankan tradisi lisan, terutama ketika masyarakat menghadapi bencana alam, perang, wabah, pandemi, kerusakan tatanan dan ekosistem budaya, serta perubahan iklim.

Oleh karena itu, muncul keraguan terkait kemungkinan mempertahankan eksistensi tradisi pada masa kini dan masa depan. Jika memungkinkan, berbagai masalah pengelolaan tradisi lisan agar tetap lestari perlu dikemukakan, termasuk bagaimana tradisi lisan dari masa lalu terus hidup, berkembang, dan menembus masa kini hingga masa depan.

" Yang pertama dimulai dari keluarga dahulu, merekalah seharusnya yang pertama mewariskan tradisi lisan di keluarganya. Kalau ini berjalan kuat, saya kira ke depan masih ada harapan, selain dengan melalui kurikulum pendidikan dan pariwisata yang juga perlu diperkuat," ucap Pudentia.

Baca JugaTradisi Lisan Sarana Efektif Mentransmisikan Nilai Agama dan Budaya

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menilai, tradisi lisan telah sejak lama hidup di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Peran tradisi lisan sebagai warisan budaya tak benda harus terus dirawat dan diselaraskan dengan kondisi hari ini.

"Tradisi lisan adalah living heritage yang bertahan dan terus dipraktikkan, dituturkan, didengar, dipahami, digunakan, dan diciptakan kembali. Karena itu upaya perlindungan harus berfokus pada keberlanjutan proses, fungsi, dan perannya dalam masyarakat," kata Fadli.

Aktor utama

Ia menekankan, komunitas adat dan para pelaku budaya harus menjadi aktor utama pelestarian tradisi lisan. Mereka bukan hanya pencipta dan pemilik warisan budaya, tetapi juga pihak yang berhak menentukan arah pengembangannya serta memperoleh manfaat dari pelestarian tersebut.

”Jadi, kita memerlukan satu ruang-ruang perjumpaan untuk antara para maestro, tetua, anak-anak generasi muda untuk memperkuat penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, memastikan para pelaku budaya memperoleh penghargaan, dukungan, kesempatan mentransmisikan pengetahuan,” ucapnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2023 mencatat, masih ada 223 tradisi lisan dari berbagai suku di Indonesia. Beberapa di antaranya, yaitu Sinliriq dari Sulawesi Selatan, Gurindam dua belas dari Kepulauan Riau, Tale Tuai dari Jambi, Makepung dari Bali, Randai dari Sumatera Barat, berbagai jenis pantun, dan lain sebagainya.

Angka ini terlihat cukup besar, tetapi sesungguhnya sudah menyusut signifikan seiring perkembangan zaman. Padahal, tradisi lisan adalah pesan yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika ini punah, maka nilai-nilai kebudayaan akan terputus.

Baca JugaPewarisan Tradisi Lisan Terhambat

Konferensi ATL XIII yang digelar 4-8 Agustus 2026 ini memusatkan perhatian pada peranan tradisi lisan sebagai warisan budaya yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Hal ini bertujuan untuk menginspirasi lahirnya berbagai pendekatan inovatif dalam melindungi warisan budaya bagi generasi mendatang, sekaligus mengkaji bagaimana warisan budaya dapat beradaptasi dengan perubahan masyarakat tanpa kehilangan keaslian serta tetap hidup di dalam komunitas pemiliknya lintas generasi.

Konferensi tersebut mengundang kontribusi hasil riset dari berbagai bidang, tidak terbatas pada tradisi lisan, tetapi juga disiplin ilmu lain yang berkaitan.

Pendekatan interdisipliner ini menjadi ajang pertukaran gagasan dan memperkuat upaya kolektif mengeksplorasi bagaimana tradisi lisan sebagai warisan budaya tak benda bisa beradaptasi dengan perubahan masyarakat sambil mempertahankan keaslian dan keberlanjutannya sebagai penghubung masa lalu, masa kini, dan masa depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tiga Korban TPPO Berhasil Dipulangkan dari Libya, Kondisinya Memprihatinkan
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Bantah Mengundurkan Diri
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Dua Pelajar Banyuwangi Minta Maaf Usai Video Bokepnya Viral di Medsos
• 21 jam lalueranasional.com
thumb
PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek Status Penerima Lewat HP, Besaran Bantuan, dan Jadwal Pencairannya
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Wamendagri Ribka Ingatkan Pemda Papua: Salurkan Dana Otsus Tepat Sasaran
• 27 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.