Perang Dagang AS-China Kembali Membara Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

China mengumumkan serangkaian sanksi dan pembatasan ekonomi terhadap Amerika Serikat (AS) dan perusahaan-perusahaannya pada Rabu (5/8/2026).

Perang Dagang AS-China Kembali Membara Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping. (Foto: Anadolu)

IDXChannel - China mengumumkan serangkaian sanksi dan pembatasan ekonomi terhadap Amerika Serikat (AS) dan perusahaan-perusahaannya pada Rabu (5/8/2026).

Dilansir dari CNN, ini merupakan pembalasan atas langkah-langkah terbaru Washington yang menargetkan perusahaan-perusahaan China.

Baca Juga:
25 Negara Bagian AS Gugat Tarif Global Baru Trump

Memanasnya hubungan ekonomi antara kedua negara terjadi hanya beberapa minggu sebelum rencana pertemuan antara pemimpin China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Keduanya dijadwalkan bertemu di Washington bulan depan.

Kementerian Perdagangan China menjatuhkan sanksi kepada tujuh entitas AS, termasuk perusahaan bioteknologi dan firma riset, serta memperketat kontrol ekspor drone ke Negeri Paman Sam tersebut.

Baca Juga:
Iran Ancam Tunda Kesepakatan Selat Hormuz, Kesal Trump Cawe-Cawe

Mereka juga meluncurkan investigasi keamanan nasional terhadap peralatan kantor impor dengan perangkat lunak asing, serta menangguhkan kerja sama inspeksi pabrik dengan AS.

“Jika AS bersikeras untuk memberlakukan tindakan-tindakan pembatasan baru terhadap China, China akan mengambil tindakan balasan lebih lanjut," kata juru bicara kementerian itu.

Baca Juga:
Trump Kembali Ancam Serang Iran Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka

Selama kurang lebih dua minggu terakhir, pemerintahan Trump telah melarang impor robotika canggih dan konverter daya (sebagian besar diproduksi di China); memberikan sanksi kepada perusahaan pelayaran China yang diduga mengangkut bahan bakar Iran; dan memasukkan lebih dari 40 perusahaan China ke dalam daftar hitam. Washington juga mengancam akan memberikan sanksi kepada perusahaan kecerdasan buatan (AI) China.

China juga termasuk di antara puluhan negara yang dikenai tarif 10 persen atau 12,5 persen oleh Washington bulan lalu karena diduga gagal mengekang praktik kerja paksa. (Wahyu Dwi Anggoro


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPK RI Tekankan Tranformasi Government 5.0
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Mengenal Nusa Octave Orchestra SMANU 1 Gresik, Wadah Musisi Muda Berbakat yang Terus Bersinar
• 1 jam laluberitajatim.com
thumb
Pakar Dorong Pemerintah Pertimbangkan Hujan Buatan untuk Atasi Kekeringan
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
BPS Klaim Tingkat Pengangguran Mei 2026 Turun Jadi 4,65 Persen, Terendah dalam 32 Tahun
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Jakarta Selatan Diprediksi Hujan Ringan Sore Ini
• 13 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.