BEKASI, KOMPAS.com – Pencemaran yang menyebabkan air Kali Bekasi menghitam, berbusa, dan berbau menyengat dinilai berbahaya karena berdampak langsung terhadap proses penyediaan air bersih bagi masyarakat.
"Yang bahaya adalah karena air Kali Bekasi menjadi air baku PDAM milik Kota Bekasi," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Kiswatiningsih kepada awak media, Rabu (5/8/2026).
Menurut Kiswatiningsih, pencemaran yang terus mengalir dari wilayah hulu membuat Pemerintah Kota Bekasi harus mencari alternatif pasokan air baku agar pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan.
Baca juga: Pencemaran Kali Bekasi Dilaporkan ke Kementerian LH-Pemprov Jabar untuk Tindak Pelaku
Karena itu, kata Kiswatiningsih, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Kali Bekasi sebagai sumber air baku.
"Jadi tidak hanya mengandalkan Kali Bekasi karena kondisinya sedang tercemar berat," katanya.
Kiswati mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan menjalin kerja sama dengan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur untuk menambah pasokan air baku bagi Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi.
Sementara itu, Manager Produksi Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi Ahmad Giri Widodo mengatakan, memburuknya kualitas air Kali Bekasi membuat proses pengolahan air menjadi jauh lebih berat dibandingkan kondisi normal.
"Selama musim kemarau ini kondisi Kali Bekasi sudah tercemar berat, sehingga dalam mengolah air kami harus melakukan penanganan khusus," kata Giri.
Baca juga: Kali Bekasi Selalu Menghitam Saat Musim Kemarau, Sudah Terjadi sejak 2019
Ia menjelaskan, Perumda Tirta Patriot menambah proses aerasi dan pre-klorinasi pada tahap awal pengolahan untuk meningkatkan kadar oksigen sekaligus membunuh bakteri di dalam air baku.
Selain itu, dosis bahan kimia juga ditingkatkan agar proses pengendapan berlangsung lebih optimal.
Meski berbagai penyesuaian telah dilakukan, Giri mengakui kondisi air baku yang berwarna hitam pekat dan berbau menyengat tetap menjadi tantangan besar dalam proses produksi air bersih.
"Namun, dengan berbagai upaya tersebut masih ada kendala karena kondisi air baku saat ini sudah hitam pekat dan berbau," ujarnya.
Selain mengubah proses pengolahan, Perumda Tirta Patriot juga menurunkan kapasitas produksi air dari sekitar 500-600 liter per detik menjadi sekitar 500 liter per detik untuk menyesuaikan kualitas air baku.
Perusahaan juga memperketat pengawasan selama proses pengolahan berlangsung.
Laboratorium dan operator instalasi melakukan pemantauan kualitas air selama 24 jam, sedangkan hasil pemeriksaan dilaporkan kepada manajemen setiap dua jam sebagai dasar pengambilan keputusan operasional.





