Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) menggelar tes skrining kesehatan mental secara serentak bagi 17.000 calon mahasiswa baru (camaba) tahun akademik 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh mahasiswa dapat beradaptasi dan menempuh proses pembelajaran di perguruan tinggi secara optimal.
Agenda pemeriksaan tersebut dipusatkan di Gedung Auditorium Pandhita Majapahit UB selama lima hari, mulai Senin (3/8/2026) hingga Jumat (7/8/2026).
Koordinator Psikologi Pelaksanaan Skrining Kesehatan Mental UB, Dian Sudiono Putri, mengungkapkan bahwa pemeriksaan kesehatan jiwa secara kolektif dan tatap muka ini merupakan pengalaman pertama yang diselenggarakan oleh pihak kampus dalam skala besar.
”Sebelumnya mungkin pernah dilaksanakan, tetapi tidak secara serentak seperti sekarang. Kali ini menjadi agenda perdana yang dilaksanakan serentak, karena mereka harus hadir langsung di kampus dan menjadi bagian dari rangkaian penerimaan mahasiswa baru,” kata Dian saat ditemui di lokasi acara, Rabu (5/8/2026).
Dian menerangkan, pemeriksaan berkala tersebut berfungsi sebagai langkah antisipasi dini selama mahasiswa menempuh masa perkuliahan di UB. Menurutnya, dinamika kondisi psikologis seseorang dapat berubah sewaktu-waktu seiring beratnya beban akademik.
“Bisa saja kondisi mahasiswa di semester awal baik, tetapi menurun di semester pertengahan. Pihak kampus ingin menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani masalah kesehatan mental mahasiswa sejak dini,” ungkapnya.
Proses pengisian instrumen dilakukan langsung di lokasi guna menjamin keaslian data peserta. Seluruh tahapan pemeriksaan ini diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya, menggunakan alat ukur khusus buatan Tim Psikolog Layanan Konseling Mahasiswa (LKM) UB.
Selama pelaksanaan di dalam ruang aula, LKM menerjunkan panitia dari unsur mahasiswa untuk mendampingi para peserta. Petugas memberikan edukasi agar para camaba mengisi kuesioner dengan jujur dan apa adanya.
”Tim panitia bertugas memastikan kepada mahasiswa bahwa seluruh jawaban bersifat rahasia dan tidak ada istilah benar atau salah. Hasil tes ini bukan untuk membeda-bedakan mahasiswa, melainkan agar kampus memiliki data awal untuk memberikan pendampingan jika diperlukan,” tutur Dian.
Inisiatif dari pihak rektorat ini mendapat respons positif dari para peserta. Salah satu calon mahasiswa baru dari Fakultas Kedokteran (FK), Ana, mengapresiasi tinggi kebijakan pemeriksaan kesehatan mental tersebut.
Ana menganggap pemetaan kondisi psikologis sangat krusial bagi mahasiswa baru. “Saya berharap hasil pemeriksaan ini ditindaklanjuti dengan tindakan medis atau penanganan konseling yang responsif bagi mahasiswa yang membutuhkan pendampingan,” ujarnya.
Kegiatan skrining jiwa ini dilaksanakan berbarengan dengan pemeriksaan urine pencegahan NAPZA serta pembagian jas almamater. Sebagai tindak lanjut, UB berencana menjadikan pemeriksaan kesehatan mental ini sebagai program rutin setiap semester. (dan/kun)




